
Happy reading
Sampailah mereka di kantor pencakar langit milik Lucas. Bella tak heran kenapa bangunan ini di namai L Group karena selain huruf L adalah inisial nama mereka, huruf L juga sesuatu yang sangat berarti untuk mereka.
"Kamu ingat bangunan ini?" tanya Lucas pada istrinya.
"Ingat dong, dulu kamu pernah ajak aku kesini saat kita masih kuliah. Gedung kosong yang selalu kita datangi karena harganya yang murah," ujar Bella tersenyum mengingat masa masa mereka.
Lucas mengangguk membenarkan ucapan Bella, karena dulu tempat ini adalah bangunan tiga tingkat yang sudah lama tak beroperasi.
Dulu di lantai atas bangunan ini, ada sebuah rooftop yang Lucas temukan saat jelajah bersama sahabat sahabatnya dulu.
Saat itu, Lucas masih anak kost yang harus menghemat segala sesuatu. Lucas berani mempersunting Bella karena saat itu merek tak mau berbuat lebih jauh lagi. Apalagi keduanya sering menginap di rumah pasangan mereka masing masing.
"Ayo turun, aku ingin memperlihatkan sesuatu yang mungkin kamu suka," ajaknya seraya melepaskan sabuk pengaman istrinya kemudian membuka pintu mobil itu.
Lucas mengambil putrinya yang ada di kursi belakang dan menggendongnya. Jika dilihat seperti ini Lucas bagaikan Hot Daddy dengan putri cantik yang persis dengan ibunya.
Begitupun dengan Bella yang sudah keluar dari mobil itu, Lucas langsung merengkuh pinggang istrinya dengan satu tangan yang menggendong putrinya.
Mereka berjalan menuju kantor itu dengan posisinya. Lucas senang bisa ditemani oleh kedua orang yang paling ia sayangi di dunia ini.
Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan kagum, apalagi wanita wanita yang mengagumi Lucas sejak pertama mereka bekerja.
Bisik bisik merekapun terdengar sangat ditelinga Lucas dan Bella, tapi mereka hanya mengabaikan saja. Laura yang sangat cantik juga mendapat perhatian dari semua orang, apalagi Lucas sangat jarang mengajak putri cantiknya ke kantor.
Mereka berjalan dengan wibawanya, Bella yang juga CEO dari perusahaan peninggalan Papanya itu sudah terbiasa akan ini. Sebenarnya perusahaan yang saat ini dikelola Kenzie dan dirinya itu sebagian adalah milik Leo, tapi berhubung Leo belum ada kabar Bella yang menghendel dibantu oleh Kenzie dan Tamara.
Ketiganya masuk ke lift khusus itu menuju lantai ruangannya. Bella menatap putrinya yang masih sedikit murung.
"Laura sayang masih memikirkan mimpi tadi malam nak?" tanya Bella mengelus punggung sang putri dan dianggukkan oleh Laura.
"Sudah jangan di pikirkan hmm, Mommy gak mau kamu sedih sedih lagi dan nangis lagi. Mommy sama Daddy gak akan kemana mana. Kan nanti kalau kita pergi liburan kamu juga ikut," ucap Bella dan dianggukkan Lucas.
"Laura tahu, mimpi itu cuma bunga tidur agar tidur kamu sedikit berwarna. Semua yang ada di mimpi itu gak akan terjadi," tambah Lucas mengecup hidung putrinya.
"Iya Mom, Dad. Laula tahu," jawab Laura memeluk erat leher Daddynya.
"Senyum dong sayang, jangan cemberut terus," ujar Bella menarik pipi bulat sang putri yang membuat gadis kecil itu tersenyum manis kearah mommynya.
Akhirnya mereka sampai di lantai dimana ruangan Lucas berada. Dengan posesifnya Bella menggandeng tangan kiri Lucas karena angan kanan suaminya dibuat untuk menggendong Laura.
Ceklek
Mereka memasuki ruangan itu, Laura yang melihat mainannya dulu masih ada di ruangan Daddy nya itu langsung turun dari gendongan Lucas dan berlar menuju kolam bola itu.
Melihat wajah ceria Laura membuat kedua orang itu tersenyum, setidaknya putrinya sudah tak sedih dan murung lagi.
"Sekarang giliran Daddy yang ingin manja sama Mommy."
"Di rumah kan bisa, jangan disini," jawab Bella yang seakan tahu apa yang ada di otak suaminya.
"Memangnya aku mau apa sayang? Aku cuma mau peluk kamu aja sebelum menyelesaikan pekerjaan yang membuat pikiran lelah," ujar Lucas yang membuat Bella malu akan apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa jadi aku yang berpikir mesum sih?" batin Bella malu.
Lucas yang mengerti istrinya malu itu langsung membawa Bella menuju balkon di sana seraya mengingat masa masa mereka pacaran dulu.
"Kamu ingat disini, kita menghabiskan waktu dari siang sampai malam? Hanya berteman teh pucuk satu botol?" tanya Lucas dan dianggukkan oleh Bella.
Siapa yang akan lupa dengan hal itu, hal dimana kebersamaan yang sangat tenang seraya melihat pemandangan dari lantai atas di malam hari.
"Kadang aku ingin selalu mengulang waktu itu kembali, hanya ada Kuta berdua tanpa ada orang ketiga atau pengacau lainnya," ucap Lucas mengecup pundak Bella yang terpampang karena ia sedikit membuka resleting dress istrinya.
"Kulitmu sangat mulus, apa kamu selalu mandi dengan susu?" tanya Lucas yang betah lama lama memeluk tubuh Bella.
"Mandi ya pakai air, kok malah mandi susu."
Bella menyentuh tangan Lucas yang ada di atas perutnya.
"Ayo selesaikan pekerjaan kamu, setelah itu kita ke markas."
Lucas yang mendengarnya itu langsung menghentikan aktivitas menghirup dan mengecup pundak Bella.
"Laura kita ajak?" tanya Lucas menatap putrinya yang sedang bermain.
"Disana banyak Mafioso perempuan dan Tamara, nanti aku yang akan memerintahkan mereka menjaga Laura. Aku juga tak bodoh untuk membiarkan Laura melihat apa yang akan aku lakukan."
"Aku ikut saja, tapi jangan menjadi orang jahat ya sayang. Tetaplah jadi kelinciku yang manis."
"Kamu bisa pegang omonganku ini."
Lucas mengagguk dan menarik tangan istrinya agar menemaninya bekerja seraya mengamati sang putri yang asik bermain disudut ruangan itu.
Bella duduk di pangkuan Lucas dengan anteng sedangkan pria itu mulai membuka laptop canggihnya dengan cepat. Bella yang paham akan apa yang dilakukan suaminya itu kadang membantunya kadang juga menggoda sang suami.
"Sayang sepertinya ada yang ingin bermain main dengan kamu," ujar Bella menatap data data yang ada di laptop itu.
"Aku tahu sayang, tapi aku hanya ingin melihat sejauh mana tikus berdasi itu bisa bertahan."
Lucas tak heran kenapa istrinya bisa secerdas ini hanya dengan melihat data yang belum jelas.
"Aku berharap kak Leo cepat menemui aku. Aku sudah bosan dengan kertas seperti ini."
"Sabarlah sayang kan ada Kenzie, nanti kalau aku bisa aku akan membantu perusahaan kamu," ujar Lucas dan dianggukkan oleh Bella.
"Heem, tapi Kenzie juga sudah banyak mengurus mafia peninggalan Papa sayang."
"Kamu bisa menghentikan sebentar mafia milik kamu sayang, bukan membubarkan apa yang sudah dibentuk. Tapi jika kurangnya pengawasan mafia peninggalan Papa bisa saja hancur dan hal itu berdampak pada perusahaan kalian," ucap Lucas dengan serius tatapannya masih mengarah pada laptop miliknya.
Cups
"Akan aku pikirkan, karena yang mengelola semua itu. ikan cuma aku Sayang. Terima kasih saran terbaik ini," jawab Bella mengecup bibir Lucas dengan senyum.
"Heem, aku mencintai kamu. Setelah pekerjaan ini selesai kita akan pergi."
"Iya."
"Sayang."
"Ada apa?"
"Aku memikirkan mimpi Laura tadi malam."
"Percayalah semua akan baik baik saja, itu hanya mimpi sayang. Mimpi hanya bunga tidur kamu tahu itu kan?" tanya Lucas mengelus punggung sang istri dengan satu tangan.
"Aku harap begitu."
Bella masih dalam pangkuan Lucas menatap putrinya yang masih asik bermain bola warna warni itu dengan riang bahkan bola yang tadinya ada di tempat kini sudah berserakan kemana mana.
Bersambung