Daddy Lucas

Daddy Lucas
Markas



Happy reading


Akhirnya setelah setengah hari di kantor, Laura sudah merengek ingin keluar dari kantor besar itu. Cacing di perut Laura juga sudah meronta, walau tadi sudah diberi makan oleh Bella.


Setelah makan, Bella dan Lucas berlalu menuju markas tak lupa juga Laura yang saat ini sudah terlelap di pangkuan sang Mommy.


"Yakin mau bawa Laura sayang?" tanya Lucas dan diangguki oleh Bella.


Lagipula di markas yang mirip seperti mansion itu memiliki area taman bermain jika nanti Laura terbangun.


"Disana juga banyak mafioso perempuan kok."


Akhirnya Lucas mengangguk dan menatap putrinya yang terlelap itu. Entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi nanti. Entah itu apa, Lucas sendiri tak tahu apa yang kini ia risaukan.


Bella menujukkan jalan menuju markas mafia miliknya, jalanan biasa tak seperti cerita di novel novel jika ingin ke markas harus melewati hutan, danau, sungai.


Tapi menuju markas Bella tak perlu melewati semua itu, tapi yang aneh tidak ada satu kendaraanpun yang melintas di sini.


"Jangan heran ya nanti kalau sudah sampai."


"Memangnya kenapa?"


Bella tak menjawab tapi malah mengecupi rambut wangi khas bayi milik putrinya.


***


"Ini markas kamu sayang?"


"Heem, ini markas mafia keluargaku. Harusnya ini milik kak Leo, karena dia belum ketemu jadi aku dan Kenzie yang mengurus."


Lucas menggendong tubuh Laura dengan lembut mengikuti sang istri yang masuk ke dalam bangunan besar itu.


Banyak Mafioso yang berjejer disana menunduk hormat kepada Bella selaku pimpinan mereka.


Semua orang disana tahu jika pria dan putri yang ada di samping Bella adalah suami dan putri atasan mereka.


"Kalian pasti sudah tahu, jadi buka pintunya."


Sekilas Lucas takjub dengan tampilan luar bangunan ini tapi saat pintu di buka dan mereka masuk ia menarik kata katanya dalam hatinya tadi.


Senjata api yang memenuhi sudut ruangan dan juga berberapa botol kaca yang berisi berbagai cairan itu membuat Lucas bergidik.


"Setelah ini aku gak mengizinkan kamu untuk ke sini lagi!"


Bella sudah menduga hal ini akan Lucas katakan tapi mau apa lagi. Ini hanya untuk membalaskan dendamnya pada Nessa yang hampir membuatnya meninggal dunia.


"Gak janji."


Bella berjalan menuju salah satu mafioso wanita yang tak lain adalah teman Tamara.


"Tamara dan Kenzie ada dimana? Bukannya mau menyambutku?" tanya Bella pada Lexa.


"Nona Tamara dan Tuan Kenzie sedang ada di kamarnya, Nona. Tadi siang Tuan Kenzie muntah muntah," jawabnya sopan dan jujur.


"Emm baiklah aku akan ke kamar mereka, kamu tolong bawa putri cantikku ini ke kamarku ya. Aku ada urusan sedikit disini," ujar Bella pada Lexa. Lucas memberikan Laura yang masih terlelap itu pada Lexa.


"Aku titip putriku."


Mendengar suara dingin dari suami Nonanya ini membuat Lexa mengangguk takut bahkan tak berani menatap Lucas.


Setelah Lexa berlalu menuju kamarnya untuk menidurkan Laura disana. Bella dan Lucas berlalu menuju kamar Tamara dan Kenzie, tanpa mengetuk pintu Bella membuka pintu kamar itu dengan santai.


"Astaga mereka itu," gumamnya mencegah suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Karena jika sampai suaminya itu melihat dada Tamara yang masih terbuka bisa lain urusannya.


Brak!


"Bangun!"


"Kalian ini ya, gak tahan banget disuruh nunggu sampai besok aja. Kenapa sih ha!!!".


Suara Bella memang merdu tapu tidak jika sedang berteriak. Tamara yang sangat lelah itu tak bisa untuk tidak membuka matanya.


"Kenapa sih Bell?" tanya Tamara dengan suara paraunya.


Kenyamanannya ke ganggu karena teriakan sahabatnya ini, apalagi Kenzie yang sedang berada di antara dadanya itu.


"Kalian ini besok mau nikah kenapa gak tahan banget sih? Kata orang kan pamali kalau calon pengantin bersama saat akan menikah," ujar Bella sedikit berteriak kepada dua pasangan ini.


"Itu cuma mitos, Bell. Kita kan satu rumah gimana gak selalu bareng. Lagipula tadi Kenzie muntah muntah gak tahu apa sebabnya. Makanya dia lemes kayak gini," jawab Tamara sepertinya tidak merespons baik.


"Muntah? Kok bisa kenapa?"


"Gak tahu juga," jawab Tanara mengelus rambut kekasihnya yang sedang menyedot sumber kehidupan anaknya nanti.


Intinya tertutup dengan selimut tebal itu hingga hanya terlihat rambut Kenzie saja. Tapi Bella cukup tahu apa yang sedang dilakukan mereka. Apalagi bagian tubuh atas Tamara polos tanpa baju.


"Coba periksa Kenzie ke rumah sakit, kalau perkiraan aku sih. Kenzie terkena Sindrom Couvade," ujar Bella dengan santainya.


"Sindrom Couvade apaan?"


"Sindrom Couvade atau bisa disebut kehamilan simpatik adalah gejala dimana calon ayah yang merasakan tanda tanda kehamilan yang biasanya dirasakan oleh ibu hamil," jawabnya yang membuat Kenzie langsung melepaskan apa yang tadi ia usap lalu menatap kekasihnya.


"Dah lah, kalau kalian masih mau disini. Gue ada urusan, nanti tolong lihat Laura di kamarku."


"Laura lu ajak?" tanya Tamara.


"Iya, tadi habis dari kantor langsung kesini. Dia ketiduran di mobil," jawabnya dengan santai keluar dari kamar itu.


Lucas yang melihat istrinya keluar dari kamar dengan raut wajah agak kesal itu bingung.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Lucas memegang tangan suaminya.


"Masa di dalam, Kenzie ny*** ke Tamara sih."


Lucas yang mendengar itu bingung kenapa istrinya bisa sekesal itu hanya karena Kenzie berbuat itu kepada Tamara. Apa salahnya, apa Bella cemburu pada Tamara.


"Memangnya kenapa sih kalau mereka begitu?" tanya Lucas dengan curiga. Takut jika istrinya itu memiliki rasa pada Kenzie.


Bella mendekatkan diri kearah Lucas dan berbisik sesuatu yang membuat Lucas menggelengkan kepalanya. Ada ada saja pikirnya.


"Nanti ya."


"Hmm, kita ke ruang bawah tanah sekarang."


Lucas dan Bella berlalu menuju ruang bawah tanah yang jaraknya agak jauh dari tempat mereka saat ini.


Sampainya mereka berdua di ruang eksekusi, entah kenapa Lucas menjadi tak sabar untuk menyiksa wanita yang sudah membuat istrinya meninggalkannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Bella menatap suaminya yang sudah mengepalkan tangannya itu.


"Memberi sedikit pelajaran untuk wanita sialan itu," jawabnya.


Aura dari Lucas sangat terasa di tubuh Bella, Bella sendiri tak tahu kenapa suaminya itu bisa memiliki dua aura yang berbeda.


"Jangan marah hmm, kamu bisa membunuhnya kalau menggunakan amarah," ujar Bella mengelus punggung sang suami.


Lucas menatap istrinya dan tersenyum, walau Lucas tahu jika istrinya ini akan membunuh Nessa. Entah itu secara langsung ataupun perlahan.


Mereka masih berada di luar ruangan itu sebelum akhirnya tangan Bella menarik knop pintu yang terbuat dari besi itu.


Kreek


Bersambung