
Happy reading
Lucas menggendong tubuh Bella berlalu meninggalkan tempat itu dan juga meninggalkan Nessa yang merintih kesakitan akibat obat yang sudah ia telan itu.
Lucas terkejut kenapa bisa istrinya itu pingsan seperti ini, padahal wanita yang ada di depannya ini sangat jarang pingsan. Tapi ini kenapa? Apa istrinya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya?
Rasa takut itu menyelimuti dirinya, Lucas takut Laura akan meninggalkannya kembali seperti tahun sebelumnya.
"Dimana kamar istriku, cepat!"
Lucas membentak siapapun yang ia temui, hingga salah satu dari mereka mengarahkan Lucas ke kamar istrinya yang ada disana.
Pintu kamar itu dibuka, Lucas membaringkan tubuh Bella di kasur dekat dengan putrinya yang masih terlelap.
Lucas mengelus rambut sang istri kemudian tak lama seorang dokter perempuan itu datang yang membuat Lucas sedikit lega.
"Tolong istriku."
"Tenanglah Tuan, Nona kami tak selemah itu," jawab dokter itu mulai memeriksa Bella.
Sepertinya tak ada hal aneh dalam tubuh Bella hanya saja ia menangkap detak jantung yang berbeda sedikit dari biasanya. Dokter itu belum bisa menyimpulkan secara pasti akan apa yang di alami Nonanya ini.
"Nona tidak kenapa napa Tuan, Nona Muda sangat sehat. Mungkin dia hanya kelelahan saja, tak perlu khawatir."
"Tapi dia pingsan tadi," sela Lucas dengan wajah kesalnya.
"Hal itu cukup biasa Tuan. Mungkin tidak lama Nona akan siuman."
Dokter itu pergi hingga menyisakan Bella, Lucas, serta Laura yang masih terlelap disana. Lucas sedikit tenang saat dokter mengatakan jika Bella baik baik saja, ia tak mau terjadi sesuatu dengan istrinya ini.
"Mommy..."
"Daddy.... Jangan tinggalkan Laula.."
"Mommy hiks hiks Daddy."
Lucas yang mendengar itu langsung berjalan kearah putrinya yang ada di ranjang yang sama itu.
"Sstt sayang bangun, kenapa kamu menangis seperti ini?"
Laura masih terlelap tapi air matanya tak kunjung berhenti dengan memanggil Mommy dan Daddynya.
"Ya Tuhan, kenapa putriku bisa mengigau seperti ini. Bahkan tangisannya tak kunjung berhenti," batin Lucas dengan sedih. Jujur saja selama ini Laura tak pernah serewel ini, bahkan Laura adalah anak yang sangat nurut.
Mendengar tangisan Laura membuat Bella yang ada di samping Laura itu terbangun.
"Laura kenapa sayang?" tanya Bella dengan suara paraunya. Entahlah mungkin kesadaran Bella belum sepenuhnya terkumpul.
"Kamu sudah bangun?" tanya Lucas tanpa menjawab pertanyaan Bella.
"Heem, Laura kenapa?" tanya Bella lagi.
"Aku juga gak tahu sayang, dia menangis terus sejak kamu pingsan tadi. Aku juga gak tahu kenapa Laura mengigau Mommy dan Daddy."
Bella bangun dan mendekat kearah Laura seraya mengelus rambut Laura dengan lembut seraya meniup pelan poni pendek sang putri.
Cups
"Anak mommy, apapun yang kamu mimpikan itu semua tak akan menjadi kenyataan sayang. Kamu gak akan sendiri, Mommy dan Daddy akan selalu ada untuk kami," ujar Bella mengecup kening sang putri.
Bella memeluk tubuh Laura agar bisa menenangkan putrinya, karena Laura akan nyaman dengan pelukannya.
"Jangan nangis lagi, nanti Mommy sama Daddy juga ikut sedih," ujarnya mengecup kembali kening dan pipi putrinya.
Dan benar saja Laura langsung terlelap kembali, tangisan yang tadi sangat kencang kini sudah berhenti hanya tinggal isakan kecil saja.
"Kalian kesayangan Daddy," ujar Lucas mengecup kening kedua orang yang paling ia sayang itu.
Bella hanya tersenyum saja, ia juga bahagia memiliki dua orang terhebat ini dalam hidupnya.
"Setelah ini kita ambil baju ya sayang, aku sudah pesan untuk ke acara besok."
"Aku ikut aja sayang. Paginya kita ke pesta sekertaris kamu itu, terus lanjut aja ke pernikahan Tamara dan Kenzie.
"Gak nyangka mereka akan menikah bersama walau dalam tempat yang berbeda," ujar Lucas ikut memeluk Laura dan Bella.
"Namanya juga takdir, seperti aku sama kamu."
***
Pagi pagi sekali Bella sudah di sibukkan dengan putri dan suaminya yang sangat manja kepadanya. Laura yang tak mau melepaskan pelukannya sedangkan Lucas juga tampaknya enggan untuk melepas pelukan hangat pada kedua orang yang ia sayang itu.
Otomatis Bella yang ada di tengah mereka sedikit kesal pada mereka. Tapi mau gimana lagi, semalam Laura kembali menangis dengan kencang dan tak mau tidur sendiri hingga akhirnya Bella dan Lucas membawa Laura ke kamar mereka.
"Bangun sayang, Mommy harus mandi nih. Kita kan mau ke pernikahannya Om dan Tante."
"Gak mau," jawab Laura dengan kekeuh.
"Ayolah Daddy juga kenapa kalian jadi manja begini sih hmm?" tanya Bella dengan kesalnya mencubit pipi Lucas yang ada bulu bulu halus itu.
"Awsss sakit sayang, kamu kok cubit aku sih?"
"Kamunya nyebelin sih, aku kan mau bangun dan mandi. Kita mau ke acara pernikahan sekretaris sama pernikahan sahabat aku loh sayang. Masa sih kita telat," jawab Bella dengan senyum yang dibuat buat.
Akhirnya mau tak mau Lucas melepas pelukan erat itu sekarang tinggal Laura yang harus Bella beri sedikit pengertian.
"Laura mau ikut Mommy apa enggak?" tanya Bella pada putrinya yang langsung mengangguk.
"Kalau Laura mau ikut nanti sekarang kita bangun dan mandi hmm. Mommy juga mau dandanin Laura cantik setelah ini."
Tampaknya Laura tergiur oleh ucapan Mommynya. Laura memang suka make up dan fashion. Diusianya yang masih 3 tahun, Laura sudah pandai memilih pakaian sendiri yang cocok untuk dirinya.
Bella dan Laura bangun dari tidurnya dan berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Lucas yang sedang menerima telepon itu.
Setelah Lucas kembali dark balkon, Lucas sudah tak mendapati kedua orang yang paling ia sayang disana berarti mereka meninggal dirinya mandi.
Bersambung