
Happy reading
Jam masih menunjukkan pukul 2 malam, Bella yang masih terlelap itu tak mendapati suaminya yang tadi memberikan kehangatan untuknya.
"Kemana dia?" tanya Bella dalam hati saat melihat sisi ranjangnya kosong.
Bella mengambil pakaian yang ada di atas kasur dan berlalu mencari keberadaan sang suami dimana.
"Sayang," panggil Bella pada suaminya yang sedang berdiri di atas balkon kamar mereka dengan rokok yang menyala membuat Lucas langsung mematikan rokok itu dan menatap istrinya lembut.
"Kamu ngerokok?" tanya Bella pada suaminya.
Bella bukannya melarang Lucas merokok, lagipula itu uang juga milik Lucas tapi Bella tak mau Lucas sakit karena merokok. Merokok juga tak baik untuk orang sekitar mereka.
"Maaf sayang," ujar Lucas ingin mendekat ke arah istrinya tapi Bella menahannya.
"Bentar aku ke bawah dulu, kamu tunggu sini jangan kabur!"
Dengan secepat kilat Bella berlari menuju luar kamar meninggalkan Lucas yang masih ada di balkon itu.
"Dasar," gumam Lucas duduk di kursi itu dengan tangan yang mulai mengambil rokok serta korek api.
Saat ingin menyalakan rokok itu tiba tiba Bella masuk kedalam kamar dengan secangkir teh di tangannya.
"Haiss baru aja ditinggal udah mau ngerokok lagi hah? Dasar gak sayang nyawa, kamu tahu kan banyak orang meninggal karena rokok. Kamu mau kalau anak dan istri kamu punya Daddy dan suami baru hah?" tanya Bella dengan garang.
Tangan yang tadinya ingin membakar rokok yang sudah ada ditangan kirinya itu terurungkan dan meletakkan kembali dua benda itu.
"Kami pilih aku atau rokok kamu ini?" tanya Bella dengan nada datarnya.
Lucas yang mendapat pilihan sulit itu langsung diam dan menatap istrinya dengan lembut.
"Pilih kamu," jawab Lucas dengan jujur.
Kalau pilih aku kenapa kamu malah ngerokok lagi Bukannya dulu kamu juga janji untuk tidak merokok tapi sekarang kenapa?"
"Oh apa selama ini kamu juga merokok saat aku tidak ada? Apa kamu juga meminum minuman yang sangat aku larang itu?" tanya Bella yang membuat Lucas mati kutu dibuatnya.
Jika ia jawab, dia pernah meminum minuman keras itu apakah yang akan dilakukan istrinya tapi jika ia bohong Bella bisa mencari kebenarannya sendiri.
"Jawab!!"
"Maaf sayang."
Dua kata itu sudah mewakili jika Lucas sudah melanggar apa yang dulu pernah menjadi kesepakatan mereka bersama.
Bella hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia hanya bisa menggeleng.
"Minum dulu," ujar Bella memberikan teh yang ia bawa.
Mereka duduk di sana seraya meminum teh hijau buatan Bella dengan pelan. Teh itu masih sedikit panas hingga membuat mereka pelan meminumnya.
"Apa setelah aku pergi kamu kembali meminum minuman dan merokok?" tanya Bella dengan pelan menatap mata Lucas yang sangat tenang itu.
"Maaf sayang."
"Aku tidak butuh maaf sayang. Aku cuma mau kamu jujur," ujar Bella mengelus rahang suaminya dengan lembut.
"Iya aku merokok dan aku juga pernah minum, minuman keras itu. Aku sedikit stress sayang, aku butuh penenang," jawab Lucas dengan sedih.
Ia menjadi teringat dulu saat Lucas berusaha ikhlas dan menjalani kehidupannya berdua dengan putri kecilnya saja tapi tak bisa. Ia tak kuat menahan rindu yang teramat dam hingga akhirnya Lucas kembali memasuki ruangan yang sudah Bella cap sebagai tempat haram.
Dan sejak saat itu pula Lucas mulai merokok, walau tidak selalu. Lucas akan merokok jika pikirannya mulai banyak.
Bella yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Lucas dengan lembut, tak lupa elusan di punggung lelakinya.
"Maaf ya sayang, aku yang membuat kamu seperti ini. Tapi kalaupun aku gak ada, kamu harus bisa menerima semua itu. Akan ada hikmah dibalik semua kejadian saat itu," ujar Bella dengan senyum manisnya.
Bella memeluk tubuh suaminya dengan lembut, Bella tahu sejak pertama mereka bertemu kembali berberapa bulan lalu. Ada kesedihan yang tak bisa dijelaskan di dalam tatapan Lucas dulu.
"Sekarang semua sudah berubah. Kamu sudah kembali tapi aku tak bisa menghentikan kebiasaanku untuk merokok."
"Kamu bisa kok, dulu aja bisa masa sekarang enggak," jawabnya dengan senyum manisnya.
Lucas mengurai pelukan sang istri dan menatap wajah ayu sang istri dengan lembut.
"Dan kamu harus bantu semua itu," ujar Lucas mengelus wajah putih mulus itu.
Bella yang mendengar itu hanya bisa menggeleng, kemudian ia tersenyum. Ia paham apa maksud suaminya ini.
"Iya nanti aku bantu, sekarang habiskan tehnya. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Bella mengambil teh yang hampir dingin dan meminumnya sedikit kemudian mengarahkan bekas bibirnya ke bibir Lucas.
Setelah Lucas menghabiskan teh hijau itu, Lucas langsung menggendong tubuh Bella dengan pelan. Meninggalkan cangkir teh yang masih ada disana.
"Istrinya siapa ini, kok manis banget?" tanya Lucas mengecup hidung Bella.
"Istrinya Mas ganteng," jawab Bella terkekeh fiakhir kalimatnya.
Cups
"Alu bahagia," ucap Lucas membaringkan tubuh Bella ke ranjang yang empuk itu.
"Terima kasih sudah kembali ke rumah ini, bersamaku dan Laura. Aku masih tak percaya jika kamu masih hidup," tambah Lucas yang diangguki oleh Bella.
"Aku yang harusnya terima kasih sudah di perbolehkan masuk lagi ke rumah ini. Maaf jika kepergianku membuat kamu berubah," jawab Bella tersenyum manis kemudian memeluk tubuh suaminya yang sudah berbaring itu.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Lucas seraya menjadikan lengannya sebagai bantal sang istri.
Sedangkan Bella malah asik membuat pola abstrak di dada Lucas sesekali ia mengecup dan mengigitnya hingga meninggalkan bekas di dada berbulu itu.
"Emm aku mau minta izin sama kamu."
"Izin apa? Jangan bilang kamu mau nikah lagi? Gak ya sayang, aku gak mau kamu menikah lagi."
Bella kesal dengan suaminya yang dengan cepat menyimpulkan bahwa dia akan menikah lagi.
"Aku gak mau kamu sayang titik gak pake koma!'
Lucas takut jika istrinya memiliki kekasih baru yang akan meninggalkan dirinya. Jika sampai hal itu terjadi, Lucas sendiri yang akan membunuh selingkuhan Bella.
"Dengarkan aku dulu, aku mau minta izin ke markas," jawab Bella yang membuat Lucas langsung membuka matanya dan menatap istrinya.
"Mau ngapain kesana?" tanya Lucas dengan nada tak bersahabat.
"Mau nyiksa si jalan*? Kenapa kamu gak suka? Nessa memang harus diberi pelajaran, aku gak rela dengan cara murahannya itu mendekati kamu dan putri kita. Apalagi sampai membuat aku hampir pergi dari dunia ini," ujar Bella dengan dendam yang sangat pada Nessa.
Dulu Bella dan Nessa berteman baik hingga akhirnya semua berubah ketika Lucas dan Bella menjalin kisah. Nessa tak terima dengan apa yang diterima Bella selama ini, hingga muncullah rasa iri dan dengki itu.
"Kapan?"
Bukannya melarang Lucas malah tanya kapan.
"Hari ini," jawab Bella.
"Oke aku izinkan, tapi harus bersama aku. Aku gak mau kamu kenapa napa."
"Haus itu markas juga milik aku, aku gak akan kenapa napa kok."
"Iya atau tidak sama sekali!!"
"Oke fine, tapi kamu nanti kerja sayang. Aku gak mau ganggu kamu kerja."
"Kamu gak ganggu, aku juga ingin melihat istri cantikku ini menyiksa orang," jawab Lucas mengelus bibir pink itu kemudian mengecupnya pelan.
"Awas saja kalau kamu ingin menghentikan aku nanti," ancam Bella yang membuat Lucas mengangguk.
"Aku gak akan ganggu kok."
Bella diam, dengan wajah yang sudah berada di dada Lucas. Rasa hangat dan aroma khas dari Lucas membuat Bella selalu betah di sana.
"Kamu gak ngantuk hmm?" tanya Lucasengelus rambut Bella.
"Belum, gara gara kamu nih. Pake bangun di pagi hari kayak gini."
"Gimana kalau kita cetak baby aja sayang, aku gak mau kamu nganggur gini aja. Apalagi kamu ingin membantu aku agar tidak merokok kan?" tanya Lucas yang sudah memasukkan tangannya di dalam baju Bella mengelus sesuatu yang ada disana.
Dan akhirnya pergulatan di pagi buta itu terjadi, jam setengah tiga pagi. Bella dan Lucas kembali memadu kasih dengan adegan maju mundur cantik itu.
Ahh
Mereka sampai ke puncak mereka, dengan Bella yang tumbang di atas tubuh Lucas. Lihatlah kedua manusia itu yang polos bak bayi yang baru lahir dengan keringat yang membanjiri tubuh mereka.
"Lepas dong sayang. Aku mau tidur, capek."
"Gak mau biarin aja."
Lucas memeluk pinggang Bella hingga senjata Lucas tetap tertanam sempurna di milik sang istri.
Karena terlalu lelah, akhirnya mereka terlelap dengan posisi yang sama.
Bersambung