Daddy Lucas

Daddy Lucas
Mengingat



Happy reading


Setelah dokter datang, dokter pribadi keluarga Lucas itu langsung memeriksa Bella yang terbaring lemas di ranjang besar Lucas itu.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Lucas pada sang dokter.


Dokter itu sedikit terkejut mendengar ucapan Lucas, setahunya istri dari Tuannya ini sudah meninggal. Tapi saat melihat wanita dan foto foto di kamar ini membuat ia percaya.


"Keadaan Nyonya baik Tuan. Hanya terlalu banyak beban pikiran, apalagi jika saya lihat Nyonya mengalami amnesia. Apa tadi ia terlalu memaksanya untuk mengingat?" tanya dokter itu dan dianggukkan oleh Lucas.


"Saya mohon jika Nyonya belum mengingat semuanya. Jangan dipaksakan atau akan berakibat fatal kedepannya. Saya sudah memberikan obat tidur saat ini, tunggulah sampai tiga jam."


"Hmm."


Setelah berbicara itu dokter pamit keluar, suasana di kamar mewah itu sangat dingin baginya. Apalagi saat dia melihat raut wajah Lucas yang tak bersahabat untuknya.


Kini tinggallah Lucas yang sedang menatap wajah Bella dengan lembut. Ia tak menyangka jika istrinya masih hidup, ia pikir semua akan berakhir setelah Laura meninggal saat itu.


Brak


"Daddy," pekik Laura membuka pintu kamar itu dengan paksa. Di belakang Laura ada Tamara, Kenzie dan Nia.


"Laura, udah bangun hmm?" tanya Lucas memangku sang putri dengan lembut.


"Mommy kenapa, Dad? Mommy kok tidul disini?" tanya Laura menatap Bella yang masih berbaring di ranjang itu.


Lucas tak menjawab tapi tatapannya mengarah pada orang orang yang masih ada disana. Ia tak suka kamarnya dimasuki oleh orang lain. Kecuali Bella dan Laura.


Kenzie yang sepertinya paham dengan tatapan Lucas itu mengajak kedua wanita yang ada disana untuk keluar tak lupa menutup pintu kamar itu dengan rapat.


"Dad, kenapa Mommy?" tanya Laura lagi.


"Mommy lagi istirahat sayang, dia lelah. Kamu jangan ganggu Mommy dulu ya," ujar Lucas pada putrinya.


"Laula susahin Mommy ya, Dad? Laula nakal ya Dad?" tanya Laura dengan sedih.


"Enggak sayang, Laura gak nakal. Kan Daddy cuma bilang kalau Mommy lagi istirahat, bukan karena Laura nakal. Anak Daddy kan anak baik, gak mungkin kalau kamu nakal."


"Tapi Mommy banyak jagain Laula. Maafin Laula ya Mommy," ucap Laura mulai naik ke atas ranjang itu dan memeluk sang Mommy yang masih menutup matanya.


"Lihatlah mereka sangat mirip, tak heran kenapa dulu pertama aku melihat Bella dan Laura bahkan denganku memiliki ikatan yang erat," gumamnya menatap putri dan istrinya yang ada disana.


Tanpa sepengetahuan Bella, ia sudah melakukan tes DNA dengan Laura. Lucas sengaja mengambil rambut Bella saat wanita itu terlelap.


Lucas yakin jika Bella masih ada hubungannya dengan Laura. Entah itu saudara atau sepupu dan yang lainnya.


Lucas mengelus punggung putrinya yang tampak nyaman memeluk tubuh Bella. Sepertinya putri cantiknya itu ingin tidur lagi.


Sedangkan Lucas langsung mengambil laptop yang ada di nakas itu. Ia mulai mempelajari poin yang nanti akan menjadi bahan meeting.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Lucas ikut naik ke atas kasur itu dan memeluk tubuh Bella di sebelah kiri sedangkan Laura ada di sebelah kanan.


"Cepat bangun, aku juga tak apa kamu tampar saat kamu bangun nanti. Maaf sudah lancang memeluk kamu tanpa izin tapi aku sangat lelah," bisiknya memeluk perut Bella dan membaringkan tubuhnya di samping Bella.


Tak sampai 5 menit, Lucas sudah terlelap dengan nyamannya di samping Bella. Bahkan ini kali pertama Lucas cepat tidur setelah kepergian istrinya dulu.


***


Tak jauh beda dengan di kamar Lucas yang sedang pelukan saat ini, Kenzie dan Tamara juga sudah berada di kamar mereka yang sengaja Bella pilihkan dulu.


Kenzie dan Tamara juga sedang berpelukan saat ini, bahkan posisi mereka sangat int**.


"Gimana Baby mau apa lagi selain peluk?" tanya Kenzie mengelus perut rata Tamara.


Kenzie pun dengan pelan meletakkan tubuh Tamara di kasur empuk itu masih dengan berpelukan karena jika di lepas bisa saja Tamara merajuk bahkan bisa saja tak memberikan jatah untuknya. Dan Kenzie sangat tak bisa tidur tanpa jatah masuk sarang.


"Nanti kalau Bella bangun kasih tahu aku ya," ucap Tamara.


"Kan aku disini peluk kamu. Aku gak tahu dia bangunnya kapan, Honey."


Kenzie mengelus rambut kekasihnya dengan lembut. Tamara seketika mengangguk, benar juga apa yang diucapkan Kenzie.


"Ya sudah kalau begitu."


"Kiss me, Baby," ujarnya dengan manja.


"Kenapa tiba tiba pengen cium? Ini maunya Baby atau maunya Mamanya?"


"Dua duanya dong, aku juga mau di kiss sama Papa."


"Ya sudah sini sayang sini."


Cups


Kecupan singkat itu Kenzie layangkan pada bibir Tamara. Ia masih menahan bibirnya di bibir Tamara hingga akhirnya wanita hamil itu membuka bibirnya yang membuat Kenzie memperdalam ciuman itu.


Hanya pergulatan lidah tak lebih, mereka juga sadar ini rumah siapa. Tak bisa seenaknya mereka berbuat mesum disini.


"Secepatnya kita akan menikah," ucap Kenzie setelah ciuman itu terlepas.


"Aku siap."


Tamara senang dengan ucapan sang kekasih yang akan menikahinya itu.


***


1 jam, 2 jam berlalu. Perlahan Mata Bella terbuka, ia merasakan pusing di kepalanya dan juga berat di lengan dan perutnya.


Deg


Bella ingat semuanya, siapa Laura dan siapa Lucas. Dia mengingat siapa dirinya sebenarnya dan kejadian berberapa bulan ini.


Bella menyentuh tangan Laura dengan pelan kemudian ia beralih menatap Lucas yang memeluk perutnya itu.


Bella tersenyum melihat Lucas yang saat ini ada disampingnya itu. Memeluk dirinya dengan hangatnya, Bella mengelus wajah Lucas yang masih sangat tampan seperti saat mereka kenalan dulu.


Dulu Bella tak memperkenalkan dirinya sebagai putri seorang mafia yang meninggal karena dibantai oleh musuh. Bella atau Laura Isabella hanya memperkenalkan nama dan dia adalah seorang yatim piatu.


"Maaf jika selama ini aku terlalu menyakitimu, aku pergi meninggalkan kesedihan bagi kamu dan Laura anak kita," batin Bella mengelus pipi Lucas yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.


Bella menangis dengan pelan, ia merasa bersalah karena sudah berbohong meninggal saat itu. Bella juga tak mau memberi harapan palsu pada suaminya jika nanti ia tak sembuh dari racun yang menyerangnya.


Tanpa Bella sadar, air matanya mengalir di pipi Lucas. Otomatis Lucas yang merasa pipinya basah itu perlahan membuka matanya.


"Kenapa menangis? Maafkan aku sudah lancang memelukmu. Aku hanya menjaga kamu dan Laura saja," ujar Lucas menghapus air mata yang ada di pipi Bella.


"Hiks hiks hiks."


Bukannya menjawab dan marah, Bella malah menangis lebih keras. Membuat Lucas bingung, kenapa Bella malah menangis seperti ini.


"Aku sudah mengingat semuanya," ucap Bella yang membuat Lucas kaget tapi juga senang.


Bersambung