Daddy Lucas

Daddy Lucas
Call Me Daddy Boy



Happy reading


Setelah puas bermain, Laura dan Gavin menghampiri Bella yang sedang tersenyum kearahnya. Mereka berdua saling manja kepada Bella terutama Gavin yang sama sekali belum merasakan kasih sayang seperti ini.


"Gapin, ini Mommy Laula. Gapin gak boleh peluk peluk Mommy," ucap Laula dengan posesif memeluk leher ibunya.


Bella yang mendengar itu hanya bisa menggeleng, kenapa putrinya seposesif ini padanya. Kenapa sifat Lucas menurun juga pada Laura.


"Sayang kenapa kamu ngomong gitu hmm? Mommy gak pernah berkata seperti itu sama kamu."


Bella menurunkan tubuh Laura hingga membuat Laura duduk di pangkuan Bella sedangkan Gavin yang sepertinya sedih akan ucapan Laura itu langsung dielus rambutnya oleh Bella.


"Laura sayang, kamu gak boleh begitu. Gavin hanya minta pelukan dari Mommy."


"Nanti Gapin lebut mommy dari Laula dan Daddy," jawab Laura dengan wajah sendunya.


"Gavin gak akan rebut Mommy dari kalian kok sayang. Gavin hanya mengingkan pelukan dan kasih sayang Mommy, bukan mau ngambil Mommy dari kamu," ujarnya dengan senyum manisnya. Ia mengecup kening putrinya dengan lembut.


"Iya kan nak, kamu gak akan ngambil Mommy dari Laura kan?" tanya Bella pada Gavin yange menatap Laura dengan polosnya.


"Endak, tapi Gavin mau Mommy juga sayang sama Gavin," jawab Gavin memeluk Laura dengan pelan.


"Laula jangan takut, Gavin gak akan ambil Mommy dari kamu kok. Gavin juga punya Mama dan Papa sendiri," ujar Gavin dengan polosnya juga mengecup kepala Laura dengan sayang.


Hal itu membuat Bella tertawa karena gemas dengan tingkah anak anak ini. Tak terkecuali Nia dan Asih yang selalu mendampingi anak majikannya ini. Mereka juga sudah bertukar nomor ponsel agar sewaktu waktu mudah jika menghubungi mereka.


"Kalian lapar tidak?" tanya Bella pada anak anak itu.


"Lapal."


"Ya sudah ayo Mommy belanja kalian makan mau. Walau ini belum waktunya makan siang tapi Mommy juga gak mau kalian kelaparan karena Mommy nunggu waktu makan siang," ujar Bella dan langsung diangguki oleh keduanya.


Mereka berlima berlalu menuju kafe yang tak jauh dari sana, Bella menggandeng tangan kedua anak anaknya ke kafe. Dengan Laura sebelah kanan dan Gavin sebelah kiri.


Kafe yang tak jauh dari area taman itu tak membuat mereka capek jika hanya berjalan berberapa meter saja. Letak kafe juga sangatlah strategis untuk semua orang, harga makanan dan minuman yang dijual juga sangat pas untuk semua orang.


Mereka masuk kedalam kafe itu, Nia dan Asih juga dipaksa Bella untuk duduk bersama mereka. Ke limanya memesan makanan tak terkecuali Laura dan Gavin yang sedari tadi memang sudah lapar.


Setelah semua pesan makanan dan minuman, Bella mencegah pelayan yang ingin berlalu.


"Tambah susu dua ya," ucap Bella dan diangguki oleh Pelayan itu.


Sepeninggalan pelayan itu, para orang dewasa saling bercanda bagaikan teman. Sedangkan Laura dan Gavin saling bercanda dan tertawa dengan riangnya. Sepertinya Gavin dan Laura sangat clop jika seperti ini.


"Kenapa tadi Gavin bilang gak pernah mendapat kasih sayang atau pelukan dari orang tuanya? Memangnya kemana mama dan Papanya, Sih?" tanya Bella yang penasaran dengan kisah Gavin.


Anak sekecil itu harusnya masih bersama orang tuanya. Tapi Gavin di biarkan sendiri tadi walau ada suster Asih.


"Nyonya sama Tuan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Nyonya. Bahkan mereka sama sekali tak pernah menyempatkan waktu untuk bermain dengan Tuan kecil. Hanya saya dan Neneknya yang sayang dengan dia."


"Saya senang saat melihat Tuan kecil yang bisa akrab dengan Nona Laura dan Anda Nyonya."


"Kenapa begitu?" tanya Bella yang masih tak paham. Sebegitu berharganya pekerjaan mereka daripada anak mereka.


"Selama ini Tuan Kecil adalah orang yang sangat pemarah dan jarang orang yang bisa berinteraksi dengan dia selain sama saya dan Neneknya."


"Ohh gitu, kasihan sekali Gavin. Kenapa orang tuanya mementingkan pekerjaan daripada anak. Mereka akan menyesal saat tak mengetahui tumbuh kembang Gavin nanti," ucap Bella dengan sedih.


Rasa marah dan kecewa terhadap orang tua Gavin membuat Bella seakan ingin menghancurkan usaha mereka. Walaupun Bella tak tahu siapa orang tua Gavin.


Tak terasa hari sudah siang, sudah waktunya makan siang. Cacing di perut mereka sudah pada berdemo dengan kencangnya tak terkecuali Lucas yang sedari tadi tak beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu dimana?"


"Aku masih di kafe kenapa? Anak anak juga masih senang bermain, belum mau diajak pulang," jawab Bella dari seberang.


"Aku kesana sekarang, kamu jangan kemana mana."


"Oh iya ya ini sudah masuk waktu makan siang, cepat gih ku kesini. Nanti aku suapi," jawab Bella dengan senyum menggoda.


"Oke, tunggu aku."


Tutt


Dengan cepat, Lucas mengambil kunci mobilnya dan berlalu menuju kafe tempat dimana anak dan istrinya berada. Rasa rindu yang sedari tadi tertahan itu sempat ingin keluar karena hal ini.


Tak sampai 30 menit akhirnya Lucas sudah sampai di kafe dengan selama. sentosa tanpa ada halangan satu apapun. Mengingat kecepatan yang digunakan Lucas tadi adalah kecepatan penuh.


Dalam mobil tadi, Lucas juga sempat mendumel kenapa mobilnya jadi lambat seperti ini. Padahal kecepatan mobil itu sudah penuh.


Lucas keluar dari mobil dan masuk ke dalam kafe itu. Mencari keberadaan sang istri yang ada di sudut kafe itu. Ia tak bisa berada di bawah.


"Siapkan ruangan VIP untuk aku dan istriku," titah Lucas pada karyawan disana. Lucas adalah salah satu penanam saham di kafe ini, hingga tak menutup kemungkinan jika keinginannya harus terpenuhi disini.


"Baik Tuan."


Lucas menghampiri Bella yang sedang meminum air putih itu. Kemudian mengecup pipi Bella.


"Pindah ke ruang VIP. Aku gak mau ada orang yang melihat kita," bisik Lucas menatap anak anak yang sedang bermain disana.


"Anak anak gimana?"


"Daddy," pekik Laura.


Sebelum Lucas menjawab, gadis itu sudah terlebih dahulu memeluk tubuh sang Daddy. Lucas juga menerima pelukan dari sang putri yang paling ia cintai itu setelah istrinya.


Sedangkan Gavin yang sepertinya takut dan cemburu akan sikap Lucas itu hanya bisa terdiam.


Bella yang melihat itu langsung mengelus rambut Gavin, kemudian memeluknya juga.


"Siapa sayang?"


"Gavin."


Lucas yang meminta penjelasan dari Bella itu dengan pelan langsung menceritakan semua yang sudah ia dengar dari Asih pada suaminya.


Lucas yang mendengar itu ikut prihatin dengan keadaan Gavin. Pria itu menurunkan sang putri kemudian berjongkok di depan Gavin.


"Call me Daddy Boy."


Gavin yang memang sudah sedikit mengerti tentang bahasa Inggris itu. Mulai menatap mata Lucas dengan binar. Apakah ia boleh memanggil Lucas Daddy. Apa Mommy Bella dan Daddy Lucas akan menjadi orang tua penggantinya.


"Daddy."


Bersambung