
Happy reading
Sedangkan di sebuah ruangan itu, Nessa tak henti hentinya mend*sah, dari semalam ia tak bisa tidur karena terus di gilir oleh berberapa orang pria yang sudah di sewa anak buah Kenzie.
Apalagi obat yang semalam di berikan Tamara masih terasa di badan Nessa.
"Udah kendor, gue gak suka," ucap salah satu pria itu menjambak rambut Nessa. Nessa yang dijambak itu bukannya kesakitan tapi malah terus mengulum batang yang masih kokoh itu.
"Sudahlah terima aja, gue yang nikmati pertama juga merasakan kalau dia itu jalan*. Ku rasa sudah banyak batang yang masuk ke dalam sana," ujar seorang pria yang sudah berpakaian rapi duduk di kursi itu.
"Ahhh, mumpung gratis untuk hari ini kita bisa party," tambah seseorang yang sedang menghujam milik Nessa dengan keras.
Nessa antara merintih nikmat juga kesakitan yang luar biasa hanya bisa menangis.
"Ini sudah lebih dari 7 jam kenapa reaksi obat itu belum habis?" tanya satu pria yang duduk disana.
Sedangkan salah satu pria itu mulai melepaskan diri karena lelah. Walau tak rela dari sorot mata Nessa tapi wanita itu tak bisa berbuat apa apa karena hasratnya saat ini masih sangat menyiksanya.
Setelah 30 menit berlalu, para laki laki itu lelah. Apalagi sedari malam tadi mereka bergiliran untuk menikmati tubuh Nessa.
Nessa yang tak kuat itu mende*ah dan meraung seraya memuaskan dirinya sendiri tapi semua itu sia sia. Akhirnya Nessa pingsan dengan keadaan polos.
Mereka tak membuat Nessa meninggal sebelum bos mereka datang. Ketiga pria itu meninggalkan Nessa yang masih tak sadarkan diri. Mereka juga butuh mengisi tubuh mereka dengan makanan.
***
Hoek Hoek Hoek
"Kamu kenapa sih, kok muntah muntah kayak gini?" tanya Tamara memijat pelan tengkuk suaminya.
"Gak tahu Honey, perut aku rasanya diaduk. Padahal tadi gak apa-apa."
Padahal jam sudah menujukkan pukul 11 siang, tak mungkin kan kalau Kenzie masuk angin.
"Kamu masuk angin nih pasti, kan aku sudah bilang kalau malam itu gak perlu hidupin AC. Kamu sih ngeyel," ujar Tamara membawa kekasihnya ke dalam kamar.
Kenzie hanya bisa diam dengan lemahnya, Kenzie berbaring di atas ranjang.
"Honey mau kemana?" tanya Kenzie pada Tamara.
"Ambil makan sama minum buat kamu, aku gak mau calon suami aku sakit waktu pernikahan kita besok."
Tamara meninggalkan Kenzie di kamar sendiri, rasa tubuh Kenzie sangat lemas apalagi tadi ia muntahkan semua yang ada di perutnya.
Tak lama Tamara kembali dengan bubur yang masih mengebul dengan teh hangat buatan Tamara.
"Sayang bangun dulu yuk," ujar Tamara menggoyangkan tangan Kenzie sedikit keras.
"Hmm."
Kenzie membuka matanya dan duduk di ranjang itu.
"Makan dulu yuk, jangan susah kalau disuruh makan bubur," ujar Tamara membenarkan bantal yang menyangga tubuh kekasihnya.
Tamara dengan telaten mulai menyuapkan bubur yang ia tiup sedikit itu agar tak panas.
"Habis ini sembuh ya, jangan sakit sakit. Gak biasanya kamu muntah seperti ini, apalagi sampai lemes kayak gini," ujar Tamara mengusap rahang kekasihnya yang sedang mengunyah bubur yang sudah lembek itu.
"Aku gak tahu, tapi tadi itu aku mencium sesuatu yang bau banget hingga aku mual kayak tadi. Perut aku gak enak, kayak diaduk aduk gitu."
Kenzie tampaknya dengan manja menahan tangan Tamara di rahangnya. Kemudian di kecupnya telapak tangan Tamara itu.
"Iya Honey."
Tamara kembali menyuapkan bubur itu hingga habis, tak lupa juga drama drama keromantisan Kenzie yang tak ada habisnya.
Akhirnya setelah drama itu, semangkuk bubur itu habis. Tamara memberikan teh hangat itu pada Kenzie agar badan kekasihnya itu lekas sembuh.
Jika dilihat Tamara sudah seperti seorang istri yang sedang merawat suaminya saja, padahal hal itu masih akan terjadi besok ketika mereka resmi menikah.
"Udah sekarang kamu istirahat aja, aku mau ke depan. Siapa tahu, Bella sudah datang," ujar Tamara yang mendapat gelengan oleh Kenzie.
"Gak boleh, aku mau kamu disini aja."
"Kenapa? Aku gak mau Bella berpikir kita tidak profesional."
"Bella pasti tahu kok."
Akhirnya Tamara menurut, entah kenapa kekasihnya itu menjadi manja seperti ini. Tak biasanya Kenzie bersikap seperti ini.
Apalagi Kenzie meminta dia untuk memeluk dan mengelus rambut pirang Kenzie.
"Apa jika kita sudah menikah kamu akan sepengertian ini sama aku?" tanya Kenzie yang membuat Tamara tertawa. Kenapa kekasihnya ini bertanya seperti ini.
"Tentu saja, memangnya kenapa? Apa kamu tidak mau aku perhatikan hmm?"
Kenzie menggeleng, kemudian mengelus lembut perut rata Tamara.
"Sebentar lagi akan ada malaikat kecil kita yang akan datang ke dunia ini. Aku yakin pasti kasih sayang dan perhatian kamu ke aku kurang. Pasti ke anak kita semua," ujar Kenzie dengan manja memeluk tubuh Tamara dan menelusupkan wajahnya di dada empuk Tamara.
"Sayangku, kamu tahu anak ini anugerah untuk kita. Aku selalu ingin kamu nikahi, dengan adanya anak ini hubungan kita makin erat."
"Bukan hanya aku yang harus menyalurkan kasih sayang ini. Tapi juga kamu, dan yah kasih sayang dan cinta aku buat kamu dan anak anak kita nanti sama. Mungkin jika mereka besar, kamu yang akan mendapat perhatian aku yang paling banyak."
"Ingat satu hal ini, saat kita sudah tua nanti. Yang akan merawat kita adalah anak anak kita dan juga pasangan kita. Tak selamanya kan kita bisa berdiri terus. Aku dan kamu akan menjadi tua dan menikmati hidup kita bersama anak dan cucu kita nanti."
"Jangan pernah sedih dan merasa jika nanti setelah kita nikah kamu bakal mendapat sedikit perhatian dari aku. Aku janji akan adil antara kamu dan anak kita. Apalagi kita ini adalah suami istri."
Kenzie yang mendengar jawaban dari sang kekasih itu hanya bisa tersenyum di dalam pelukannya itu.
Kenzie beruntung memiliki kekasih dan calon ibu seperti Tamara. Walau dulu hubungan mereka sempat banyak batu terjang yang membuat mereka hampir putus. Tapi syukurlah semua itu bisa mereka atasi.
"Kenapa manja banget sih hmm? Dan kenapa tangannya ada disini?" tanya Tamara pada kekasihnya yang tampak asik mencari pengait bra miliknya. Tak tahukah Kenzie jika ia tak memakai bra yang ada pengaitnya.
"Mana pengaitnya Honey?"
"Gak ada."
Tapi bukan Kenzie jika tak banyak ide, bahkan ia bisa dengan cepat melepas bra itu. Ia mulai mere*as benda bulat itu dengan gemas. Lihat saja wajah Tamara yang sedikit tersiksa akan apa yang di lakukan Kenzie.
"Mungkin setelah aku minum susu akan sembuh."
"Masa iya sih? Mau aku ambilkan susu di dapur?"
"Bukan susu itu tapi susu cap nona ini."
Tamara terkekeh mendengar hal itu, bisa bisa saja kekasihnya itu. Tapi ia juga sudah kecanduan akan apa yang di lakukan Kenzie.
Dan di siang itu Kenzie meminum susu setelah mabok tadi.
Bersambung