Daddy Lucas

Daddy Lucas
Ikut Ke Kantor



Happy reading


Pagi harinya kedua pasangan itu sudah bangun dengan posisi yang berganti, Bella berbaring di samping Lucas dan penyatuan mereka juga sudah terlepas entah bagaimana caranya.


Bella yang terlebih dahulu bangun itu langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Bella berjalan menuju ranjang dan membangunkan suaminya yang masih terlelap dengan keadaan polos itu.


"Sayang bangun sudah pagi loh ini."


Bella menggoyangkan tangan suaminya dengan pelan, untung Lucas bukan tipe orang yang susah untuk dibangunkan.


Dengan sekali goyangan tangan saja Lucas langsung bangun walau nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.


"Jam berapa?" tanya Lucas masih pada tahap pengumpulan nyawa.


"Jam 6 lebih, emang kamu gak kerja hmm?" tanya Bella seraya memberikan celana boxer sang suami.


Bukannya diambil, Lucas malah membiarkannya saja lalu bangun dan mencuri ciuman paginya.


Cups


"Kiss morning sayang," ucapnya dengan senyum.


"Kamu bau ih sana mandi, tapi pakai dulu celana kamu."


"Gak mau."


Setelah mengucapkan itu, Lucas langsung turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Membuat benda keramat itu bergelantungan indah di bawah sana, Bella yang melihat betapa besar dan indahnya milik suaminya itu hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Kadang ia masih tak habis pikir. Bagaimana bisa, benda sebesar itu masuk ke dalam miliknya yang kecil ini. Rasanya tidak mungkin, apa benda itu elastis hingga bisa masuk. Entahlah memikirkan itu hanya membuat Bella bingung sendiri.


"Astaga anakku," ucapnya tiba tiba teringat sang putri yang masih ada di kamar.


Dengan cepat Bella berlari menuju kamar putrinya yang akan menginjak usia 4 tahun itu. Tak terasa sudah besar putri cantiknya itu.


Ceklek


"Kenapa Nia?" tanya Bella saat melihat Laura yang menangis dengan kencang itu.


"Gak tahu Nyonya. Nona kecil sedari tadi nangis hak mau berhenti, padahal badannya gak panas," jawab Nia menenangkan Laura.


Bella yang melihat itu langsung mengambil alih untuk menggendong Laura yang menangis hingga membuat wajah cantiknya memerah apalagi bola mata biru yang masih mengeluarkan air mata.


"Anak mommy kenapa nangis hmm?"


Bella menimang sang putri yang masih menangis itu ke arah balkon, seraya memperlihatkan pemandangan indah dari atas balkon.


"Laura kenapa nangis?"


Laura hanya diam, gadis itu memeluk leher Mommynya dengan erat.


"Jawab Mommy nak jangan diam saja."


Laura masih saja diam, hingga membuat Bella menghela nafasnya. Kenapa putrinya ini tiba tiba menangis.


"Cup cup cup anak baik gak boleh cengeng. Bilang sama Mommy kenapa nak?" tanya Bella lagi seraya menghapus air mata putrinya.


Laura bersandar di dada Bella dengan suara Isak yang masih terdengar. Bahkan putrinya ini belum juga mau menatap dirinya.


Belum juga Laura membuka mulutnya, pintu kamar itu di buka oleh Lucas yang sudah tampan dengan pakaian kantornya apalagi aroma maskulin yang sangat khas membuat siapa saja yang menciumnya akan merasa tenang.


"Laura kenapa sayang?" tanya Lucas yang sudah berdiri di belakang Bella menatap putrinya yang masih terisak.


"Gak tahu, sejak aku masuk tadi Laura sudah menangis. Aku tanya dia gak mau jawab," jawab Bella dengan jujur seraya mengelus rambut Laura dengan lembut.


Lucas yang mendengar ucapan Bella itu menatap dua orang yang paling ia sayangi ini.


"Kenapa sih nak, coba cerita sama Mommy sama Daddy," ujar Lucas masih dengan lembut.


Perlahan Laura menatap kedua orang tuanya, tapi setelah itu ia kembali meneteskan air matanya. Anak berusia 3 tahun itu seperti tak kuasa melihat wajah kedua orang tuanya.


"Kenapa sih sayang, ayo cerita sama mommy."


Bella yang tak mendapati jawaban dari Laura itu mulai berjalan menuju ranjang seraya memperlihatkan boneka boneka lucu milik Laura berharap putrinya itu.


Dan benar saja tak lama setelah itu Laura sudah lebih tenang walau masih ada isakan pelan dari gadis kecil itu.


"Duduk sini sayang, Laura udah tenang kan. Cerita sama Mommy dan Daddy kenapa Laura nangis seperti tadi hmm?" tanya Lucas mengelus rambut Laura.


Kini Laura berada di tengah tengah kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi.


"Tadi Laula lihat kalau Mommy dan Daddy pelgi ninggalin Laula sendili. Laula udah teliak teliak manggil mommy sama Daddy tapi kalian tak dengal."


Bella dan Lucas yang mendengar cerita dari Laura itu hanya bisa tersenyum, ternyata putrinya tadi bermimpi. Tapi kenapa mimpi Laura bisa seperti itu. Lucas dan Bella tak mau berburuk sangka dulu. Mimpi adalah bunga tidur jadi tak perlu dianggap serius.


"Mommy sama Daddy pelgi gak pamit sama Laula. Laula ditinggal sendili. Laula gak mau Mom, Dad."


"Sayang, dengerin Mommy ya. Kamu itu cuma bermimpi sayang, lihatkan sekarang Mommy sama Daddy masih ada di depan Laura?" tanya Bella menghapus air mata Laura dengan lembut.


"Tapi Laula lihat Mommy sama Daddy pergi tinggalin Laula sendili. Laula teliak tapi talian tak dengel," jawab Laura dengan tangis histeris.


Gadis itu masih mengingat tentang apa yang ia lihat dalam mimpinya itu, hingga membuatnya menangis sejadi jadinya saat bangun dari tidurnya.


"Sayangnya Daddy, tadi itu cuma mimpi. Kalau nyata gak mungkin mommy dan Daddy ada disini kan?" tanya Lucas dan dianggukkan oleh Laura.


Bella dan Lucas terus memberikan pengertian tentang mimpi Laura. Hingga akhirnya Laura paham akan apa yang ada dalam pikirannya.


"Laura bau loh belum mandi, habis nangis loh ya."


"Ya Mommy," jawab Laura.


Akhirnya Bella dan Laura berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Lucas yang masih ada di kamar itu menatap kepergian istri dan putrinya.


"Rasa bahagia ini tak bisa aku ungkapkan dengan kata kata sayang," gumamnya dengan senyum manisnya.


Kemudian Lucas berlalu menuju ruang makan, seraya menunggu istri dan putrinya selesai mandi.


Tak sampai setengah jam, Bella datang dengan menggendong Laura yang sudah cantik itu.


"Kita ke kantor Daddy ya nak. Pasti Laura pingin banget lihat kantor Daddy yang besar itu hmm."


"Mau Mom."


Yah, hari ini Lucas mengajak Bella dan Laura ke kantornya sebelum nanti siang mereka akan ke markas yang lebih tepatnya adalah mansion.


Setelah sarapan pagi mereka lalui dengan nikmat, mereka bertiga berlalu menuju mobil pribadi Lucas yang sangat mewah.


"Biar Laura sama Mommy aja ya duduknya."


"Sayang, Laura sudah punya tempat duduknya sendiri di belakang kita. Udah ada mainan juga kok, biar dia terbiasa duduk sendiri mulai sekarang," ujar Lucas dengan lembut.


Akhirnya Bella setuju, lagipula Bella masih bisa melihat putrinya jika duduk di depan.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan Laura yang dibelakang mereka.


"Seneng gak nak, kita ikut Daddy ke kantor?" tanya Bella dan dijawab anggukkan oleh Laura. Tampaknya gadis kecil itu masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi tadi.


"Senang Mom," jawab Laura sekenanya.


Mobil itu berjalan meninggalkan rumah besar itu.


Bersambung