Daddy Lucas

Daddy Lucas
Balasan yang setimpal



Happy reading


Pintu dibuka, hal pertama yang Bella lihat adalah Nessa yang pingsan disana dengan keadaan polos. Temannya yang dulu begitu baik padanya ternyata adalah musang berbulu domba. Baik di luar tadi busuk di dalam membuat Bella kini membenci wajah cantik Nessa.


"Tutup matamu dan jangan ngintip. Aku gak mau kamu lihat tubuh wanita lain selain punyaku!!"


Titah istri adalah mutlak, jadi Lucas hanya bisa mengangguk. Walau ia tak menutup mata tapi ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang tergelak di lantai dingin itu.


Bella memakaikan pakaian yang ada di ruangan itu pada tubuh Nessa yang sudah cacat karena pukulan dan ehem (kalian tahulah).


"Aku tak akan membiarkan kamu meninggal secepat ini Nessa," gumamnya menyuruh salah satu mafioso untuk ke ruangan itu.


"Bawa apa yang aku minta kemarin," titah Bella pada Mafioso itu. Mafioso itu mengangguk dan mengambil apa yang diperintahkan Nona


Lucas yang sudah duduk di kursi itu hanya bisa menatap istrinya disana. Bella yang merasa diperhatikan itu menatap kembali Lucas.


"Tidakkah kau capek berdiri terus?" tanya Lucas pada Bella yang langsung berjalan menuju kursi tempat Lucas duduk.


"Capek," jawabnya manja. Bella duduk dipangkuan Lucas seraya memeluk leher suaminya itu.


"Apa dia mati?" tanya Lucas menatap Nessa yang ada disana.


"Tidak dia hanya pingsan, mungkin kelelahan," jawab Bella menatap wajah tampan suaminya.


Lucas mengangguk dan mengelus pipi Bella, entah kenapa makin hari Bella semakin cantik dari segi wajah tubuh dan lainnya.


"Cantik banget sih, kamu istrinya siapa?" tanya Lucas yang tak tahu tempat menggoda Bella.


Ingatlah Lucas saat ini kalian sedang ada di ruang eksekusi.


Tapi sepertinya jawaban Bella tak sesuai yang diharapkan Lucas.


"Kamu lupa sama istri kamu sendiri?" tanya Bella dengan nada kesal.


"Astaga gak gitu, sayang. Aku cuma mau goda kamu aja kenapa malah gak sesuai ekspektasi gini sih," ujar Lucas yang membuat Bella tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Aku tahu," jawabnya mengecup singkat bibir Lucas yang membuat lelaki itu menggeleng. Ada ada istrinya ini.


Hingga mereka disadarkan oleh anak buah Bella yang membawa air yang masih berasap itu dan sebuah tabung entah berisi apa.


Lucas dan Bella bangun, walaupun Bella sedikit malu akan kelakuannya tadi yang dilihat oleh tiga bawahannya. Tapi sedetik kemudian raut malu itu hilang.


Bella mengambil baskom yang ada di tangan anak buahnya, kemudian membawanya ke arah Nessa yang masih pingsang.


Bella tahu air yang ia bawa ini tidak terlalu panas, tapi air ini akan membuat kulit Nessa menjadi merah nantinya.


Byurr


Air itu menyiram ke tubuh Nessa yang sudah berpakaian itu. Tubun wanita itu basah kuyup karena siraman itu.


"Hah.."


"Udah bangun kamu, Ness. Gimana seger baru mandi!" tanya Bella manatap Nessa yang sudah tersadar. Bella tahu Nessa cukup terkejut karena hal ini tapi apakah Bella peduli tentu saja tidak.


"La-laura," gumamnya pelan.


Menatap wanita yang ada di depannya ini, wanita yang ia kira sudah meninggal itu kini berada di depannya dengan senyum yang menurut Nessa sangatlah mengerikan.


"Hai, ternyata ingatan lu belum hilang ya," ujar Bella dengan tawa yang mengerikan di telinga Nessa.


"Gue Laura, Laura Isabella. Wanita yang sudah lu buat hampir meninggal karena racun sialan yang sudah lu beri pada pelayan untukku."


Nessa menggelengkan kepalanya tak percaya jika wanita yang ada di depannya ini adalah Laura. Laura sudah meninggal dan ia sendiri datang di pemakamannya.


"Enggak lu bukan Laura. Laura sudah mati!"


Mendengar suara Nessa yang menyebut Laura sudah meninggal membuat darah Lucas mendidih.


Saat ingin mendekati Nessa, tapi Bella mencekal tangannya pertanda ia tak boleh mendekati Nessa.


"Ya, gue hampir mati karena lu. Tapi lihatlah Nessa, Tuhan masih sayang sama gue."


"Tapi, gara gara lu yang menyuruh orang sialan itu masuk ke dalam keluargaku aku tak bisa melihat tubuh kembang putriku. Aku tidak bisa melihat dia berjalan dan menangis memanggil namaku, Nessa. Gara gara kamu juga anakku tumbuh tanpa aku selama 3 tahun," ujar Bella dengan air mata yang tanpa sadar sudah jatuh.


Nessa yang mendengar itu hanya bisa tertawa, baginya penderitaan Bella membuat ia senang.


"Hahahaha gue bahagia dengan tersiksanya lu dan anak sialan lu itu. Lu tahu Laura, gue benci banget sama muka polos lu itu. Hidupmu terlalu sempurna, mempunyai suami yang sangat mencintaimu. Walau kamu tidak pernah menyebut atau memperkenalkan aku pada Lucas tapi aku tahu."


"Aku mengingkannya Laura, melihat Lucas yang sangat mencintaimu aku juga ingin diperlakukan seperti itu. Aku berambisi untuk memiliki suami kamu dengan membuat kamu mati."


Mendengar pernyataan Nessa membuat mereka terkejut, ternyata inilah alasan kenapa Nessa mencelakainya.


"Hiks hiks hiks lu gak tahu hidup gue Laura, gue korban broken home. Gue butuh kasih sayang orang tua dan juga kekasih tapi apa, gue gak mendapat semua itu."


"Tapi gue gak menyesal sudah membuat kamu menghilang 3 tahun ini. Karena dengan itu gue bisa merasakan perhatian Lucas walau pun tidak lama."


Bella menatap Nessa dengan senyum tipisnya, ia tahu semua kehidupan Nessa. Nessa adalah wanita serakah yang ingin menguasai segalanya.


Nessa bukan anak kandung orang tua Nessa. Tapi Nessa mencoba untuk mengambil semua kekayaan kedua orang tua angkatnya, walau hal itu tak sepenuhnya berhasil hingga membuat Ness menjadi wanita panggilan.


"Sudah cukup, gue gak mau mendengar semua celotehan gak jelas lu. Lu pikir gue gak tahu apa yang ada di otak licik lu itu? Gue bukan orang bodoh Nessa, aku tahu semua tentang kamu!"


Wajah pucat Nessa membuat Bella semakin yakin untuk memberikan sedikit pelajaran untuk Nessa.


"Sayang bisakah kamu memberikan aku sedikit waktu untuk memberikan dia pelajaran?" tanya Lucas yang tak tahan ingin menghabisi wanita di depannya ini.


Lucas tak akan segan pada siapa pun entah itu cewek atau cowok. Jika orang itu mengganggunya ia pasti akan memberinya pelajaran yang tak akan terlupakan.


"Tak perlu, kamu tak perlu mengotori tangan kamu untuk membunuhnya karena dia sendiri yang akan membunuh dirinya sendiri disini."


Bella menatap Nessa dan mengambil tabung yang berisi cairan dan juga pil yang ada di tangan anak buahnya itu.


Dengan paksa Bella memasukkan cairan itu ke dalam mulut Nessa diikuti oleh pil berwarna putih itu. Walau sekuat tenaga Nessa memberontak tapi tetap saja benda itu masuk ke dalam tubuhnya.


Bersamaan dengan itu, Bella tersenyum puas hingga ia menatap suaminya dengan mata berkabur. Pandangannya kabur, menatap suaminya itu juga sangatlah sudah.


Brug


"Sayang!"


Bersambung


Maaf ya jarang up, pikiran lagi ruwet ini. Tya gak bisa janji tapi diusahakan tetap up kok.