
Happy reading
"Emm tangannya jangan nakal," Bella menepis tangan Lucas yang saat ini berada di dalam dress-nya.
"Aku merindukanmu sayang. Tiga tahu lebih aku menahannya," jawab Lucas tetap mengelus dan memainkan dada Bella.
"Aku tak bisa," ucap Bella dengan lirih.
Mendengar ucapan Bella membuat Lucas bingung, apa istrinya tak mau bercinta dengannya? Tapi kenapa?
"Kamu tak mau bercinta denganku? Kenapa? Apa kamu sudah memiliki lelaki lain?" tanya Lucas dengan nada memburu.
Bella yang dituduh itu ikut marah dia mulai menampar pelan pipi Lucas.
"Kalau ngomong itu dijaga. Aku gak pernah ya punya laki laki lain kalau bukan kamu. Seenaknya aja nuduh, kamu tuh yang pernah menjalin kisah sama cewek lain. Kamu pikir aku gak tahu hah!!"
Mendengar ucapan Bella membuat Lucas terdiam, benar ia berberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan tapi itu tak bertahan lama. Bahkan ada yang terang terangan menggodanya. Tapi sayangnya Lucas hanya menjadikan wanita itu sebagai pelarian.
Tapi tenang tidak sampai ehem ehem, Lucas masih ingat batasan. Bahkan pegangan tangan saja tidak.
"Terus kenapa tidak boleh?" tanya Lucas dengan nada merajuknya.
"Aku masih datang bulan, tunggu ya," jawab Bella mengelus pipi suaminya.
Lucas yang mendengar kata keramat dari bibir manis Bella itu terkejut. Sedangkan Bella hanya terkekeh geli melihat ekspresi Lucas yang seperti itu. Bella tahu suaminya selalu seperti ini jika ia sedang datang bulan. Harusnya sebagai seorang suami, Lucas mengerti Bella yang notabene adalah perempuan.
"Ya sudahlah, lebih baik kita makan aja. Aku sudah lapar, menceritakan kakak saja membuat aku lapar," ajak Bella yang sudah mulai bangkit dari pangkuan Lucas dan mengambil makanan yang tadi di bawa Lucas.
"Laura tadi kemana?" tanya Bella yang tiba-tiba teringat sang putri yang tadi keluar dengan Nia tadi sore. Dan ini sudah menujukkan pukul 7 malam.
"Mungkin masih ada di kamar," jawab Lucas duduk di kasur itu.
Bella meletakkan kembali di nakas, kemudian tanpa berpamitan pada suaminya Bella keluar dari kamar itu menuju kamar putrinya.
"Sayang," panggil Lucas melihat punggung istrinya menghilang di balik pintu.
"Astaga kita baru bisa bersama tapi kenapa kamu lebih mengutamakan Laura?" tanya Lucas mengikuti sang istri yang berjalan menuju kamar putrinya itu.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, ini Mommy."
Laura yang mendengar suara Mommynya itu langsung berjalan menuju pintu dan ia melihat Mommy dan Daddynya disana.
"Mommy, Daddy... Adik bayinya sudah jadi?" pertanyaan polos itu keluar dari bibir manis Laura yang seakan berharap lebih.
Lucas dan Bella yang mendengar itu terkejut tapi juga sedikit malu, mereka saling pandang dan saat Bella menatap ke dalam ternyata ada Tamara dan Kenzie di dalam sana.
"Kenapa Laura bilang gitu? Memang Daddy sama Mommy ngapain sampai Laura bilang gitu?" tanya Lucas pada putrinya yang sudah sangat cantik menggunakan baju piyama yang baru dibelikan Bella untuk Laura.
"Tante Tamala yang bilang, katanya Laula gak boleh ganggu Daddy sama Mommy buat adik untuk Laula. Laula mau adik dad, mom."
Mendengar jawaban dari Laura membuat kedua orang itu langsung menatap horor ke dua orang yang ada di atas tempat tidur itu.
"Jadi Laula tanya, adik bayinya sudah jadi?"
"Mana Mom?"
Terbesit ide jahil di kepala Lucas mendengar ucapan dari Laura. Ia menyamakan tinggi Laura dengan berjongkok.
"Laura mau adik hmm?"
"Ya Daddy. Laula mau adik sepelti teman teman," jawab Laura dengan antusias.
"Kalau Laura mau adik, Laura harus berani tidur sendiri. Laura gak boleh merengek sama Mommy buat tidur bareng lagi."
"Yank, gak boleh bilang gitu sama Laura," ujarnya dengan berbisik pada Lucas.
"Gak apa-apa."
"Tapi."
Laura tampaknya tak rela meninggalkan Mommynya, dan apakah ia bisa tidur tanpa mommy? Pelukan Bella membuat Laura nyaman dan cepat tidur.
"Hmm, tapi Daddy harus bawain Laula adik ya. Nanti Laula coba buat tidul sendili," jawab Laura dengan yakin. Demi adik ya Ra.
Kenzie dan Tamara yang juga mendengar itu hanya bisa menggeleng. Ada saja siasat Lucas untuk membuat sang istri tetap di kamar.
"Ada ada saja."
"Gak apa-apa dong, Honey. Nanti biar anak kita punya teman baru selain Laura," ujar Kenzie mengelus perut kekasihnya dengan lembut.
"Iya juga sih, aku juga seneng kalau aku dan Bella bisa lahiran bareng. Nanti bisa yoga bareng, dan lainnya."
"Apapun untuk kamu," jawab Kenzie mengecup kening Tamara.
Mereka dulu tak akan pernah sedekat ini tanpa adanya Bella. Tugas keduanya dulu hanya menjaga Bella tapi lama kelamaan benih cinta itu muncul di hati mereka. Bahkan saat mereka pertama melakukan hubungan badan, Kenzie dan Tamara belum mengetahui isi hati masing masing.
Hingga setelah mereka sadar akan dosanya yang sudah mereka perbuat. Kenzie memberanikan diri untuk menembak Tamara dengan cintanya. Kedua keluarga mereka juga sudah tahu akan hal ini.
Mereka berdua bangkit dan mulai berjalan menuju mereka bertiga. Kenzie mengelus pucuk kepala Laura.
"Bel, Lu. Laura sayang, kita gak bisa lama lama disini. Kita pamit pulang, kapan kapan kita bakal kesini lagi," ujar Kenzie pada mereka.
"Heem, jangan lupa permintaan anak gue ya. Saat kita nikah nanti kalian harus ada kabar gembira," ujar Tamara mengecup pipi Laura dengan gemas.
"Katanya Tante mau tidul sama Laula. Kenapa Tante mau pulang?" tanya Laura yang tampaknya merajuk karena semua meninggalkannya pulang.
"Sayang, Tante sama Om punya rumah sendiri. Nanti kalau Laura mau, Laura bisa menginap di rumah Tante sama Om."
Bella mengajak putrinya untuk masuk ke dalam kamar, tak baik berbicara di depan pintu kamar. Lalu mendudukkan tubuh Laura di kasur empuk itu.
"Jadi boleh ya, Tante sama Om pulang?"
"Boleh."
Akhirnya setelah mendapat izin dari nona muda. Kenzie dan Tamara pamit pulang. Karena Tamara juga sepertinya sedang ngidam sesuatu yang membuat Kenzie mau tak mau menurutinya.
Kini setelah peninggalan Tamara dan Kenzie, Bella, Lucas dan Laura kini duduk di kasur itu dengan posisi Laura di pangkuan Bella.
"Mainnya udah kan, sekarang sayangnya Mommy tidur ya. Kalau ada apa apa panggil aja Mommy, Mommy ada di kamar sebelah."
Lucas yang mendengar ucapan Bella langsung menatap sang istri. Kamar sebelah adalah kamar Bella dulu saat masih merawat Bella.
"Iya Mommy."
"Sayang kenapa tidak di kamar atas saja?" tanya Lucas pada istrinya.
"Laura masih kecil. Jika dia butuh apa apa gimana? Nia juga ada di lantai bawah kan? Sejak aku masuk ke sini kan memang Laura selalu sama aku."
Bella sedang menidurkan Laura yang sudah sangat ngantuk. Untungnya Laura sudah memakan makan malamnya tadi.
Lucas mengangguk walau ia tak terlalu setuju dengan istrinya.
"Gak apa-apa kan kalau untuk sementara waktu kita tidur di kamar sebelah?" tanya Bella menatap lembut Lucas yang hanya mengangguk.
Bersambung