Daddy Lucas

Daddy Lucas
Istri Nakal Leo



Happy reading


Disisi lain seorang pria dan wanita sedang melakukan aktivitasnya sebelum tidur. Yaitu saling memijit, dia adalah Caramel dan Leo, sepasang suami istri yang baru saja pulang kerja.


"Mama, yang sebelah kanan belum," rengek seorang laki laki itu.


"Yang sebelah sini hmm, jangan tidur dulu ya pah. Mama juga harus papa pijit," ujar perempuan itu memijat baju kanan suaminya.


"Iya, oh ya Arka sudah tidur kan?" tanya Leo pada sang istri.


"Sudah tadi, aku merasa jika anak kita itu butuh banyak perhatian dari kita. Walau aku tahu dia sangat pengertian akan pekerjaan kita tapi aku merasa bukan ibu yang baik."


"Aku juga merasa begitu, bahkan di hari weekend kita tak bisa libur."


"Itulah resiko pekerjaan kita, Pa."


"Heem, entah kenapa juga akhir akhir ini banyak pasien di rumah sakit."


"Sama Ma. Orang yang memesan jasa Papa buat melukis juga banyak, bahkan karyawan Papa saja kewalahan," jawab Leo menikmati pijatan sang istri.


"Kita syukuri saja dulu, hingga kontrakku dengan rumah sakit itu habis aku akan resign. Aku mau fokus pada Arka dan keluarga kecil kita saja," ujar Caramel pada suaminya.


"Aku akan selalu mendukung apa yang menjadi keputusan kamu, Ma. Tapi ingat ya kewajiban kamu sebagai seorang istri. Aku gak mau kamu menjadi istri yang durhaka."


"Papa tenang saja, Mama tahu batasan kok."


Setelah selesai memijit suaminya, Caramel berbaring tengkurap dan meminta suaminya untuk memijatnya. Mereka lelah tapi itulah pekerjaan mereka, Caramel yang harus berteman dengan obat obatan sedangkan Leo harus bergulat dengan kuas dan cat. Walau hanya menjadi pelukis tapi pendapatan Leo bisa dibilangan sangat fantastis. Melebihi gaji Caramel sebagai dokter.


"Bagaimana pencarian kamu tentang adik kamu?" tanya Caramel memejamkan matanya.


"Nihil. Aku belum mendapat apapun tentang Laura. Entah dia masih hidup atau tidak aku juga tak tahu. Tapi aku yakin adikku itu masih hidup, mungkin saat ini dia sudah besar," jawab Leo memijat lembut pundak Caramel.


"Jangan menyerah, aku yakin suatu saat adik kamu bakal ketemu. Dan kita bisa menjadi keluarga besar nantinya," ujar Caramel membalikkan badannya hingga dua dadanya sangat terlihat oleh mata Leo.


"Aku juga yakin, Ma. Hanya Laura keluargaku satu satunya, aku akan terus mencari sampai ke ujung dunia sekalipun," ujar Leo dengan mantap. Tapi tatapan matanya terarah pada dada besar Caramel yang memang memiliki ukuran sangat besar.


"Hei aku juga keluargamu, keluargaku juga keluargamu. Kamu tak pernah sendiri apalagi ada Arka yang akan mempererat tali keluarga kita."


Leo tersenyum dan mengangguk, ia bangga mendapatkan istri seperti Caramel yang mampu menyesuaikan hidup dengannya. Gadis yang dulu sangat cupu di kampusnya itu sudah berhasil menarik perhatian.


Caramel dulu memang cupu dengan dada yang sedikit besar itu selalu tertutup pakaian longgarnya. Tapi entah kenapa Caramel yang dulunya membuat ia kesal malah membuatnya tertarik.


Hingga saat dimana Leo tahu ada kristal tersembunyi dalam diri Caramel yang saat itu berhasil membuat hatinya yang beku menjadi mencair.


"Sepertinya Arka butuh adik, Mam," goda Leo mengecup tangan halus istrinya.


Entah apa yang digunakan Caramel di badannya, karena setahunya Caramel jarang perawatan ke salon tapi kulit wanitanya itu sangat lembut bahkan wajahnya tetap awet muda.


Caramel yang mendengar ucapan dari sang suami itu hanya tersenyum malu. Ia menatap Leo yang sudah ada di atas tubuhnya itu, walau sudah 8 tahun mereka menjalin rumah tangga tapi entah kenapa rasa malu itu tak bisa hilang dari dirinya.


Caramel tak menjawab tapi ia langsung menarik selimut itu dan menutup tubuhnya sampai kepala. Leo yang melihat tingkah istrinya itu hanya bisa mengulum senyum tipisnya.


"Kalau kamu terus malu malu gini, kapan kamu terbiasa hmm?"


Caramel membuka sedikit selimutnya dan menatap Leo yang sedang tersenyum dia atasnya itu. Jarak wajah keduanya sangat dekat bahkan hembusan nafas masing masing itu sangat terasa.


"Aku malu, kamu bilangnya frontal gitu."


"Kita menikah sudah berapa tahun?" tanya Leo pada Caramel.


"8 tahun," jawabnya.


Leo mengangguk dan menarik selimut berwarna abu abu itu hingga tubuh Caramel yang sudah tak memakai baju tapi masih menggunakan bra dan celana piyama itu terpampang jelas.


"Aku udah berapa kali suruh kamu berani di ranjang sama aku bukan sama yang lain. Aku ingin merasakan istriku yang cantik ini bergoyang di atas aku. Karena hampir setiap malam aku saja yang memimpin," ujarnya dengan sedikit melas.


Leo memang bukan tipe laki laki pemaksa, tapi jika ia memiliki keinginan ia akan mengucapkan secara langsung.


Termasuk pada istri cantiknya ini, lihat saja sekarang sang istri lebih cantik dari dulu. Dulu saat pertama kali Leo bertemu dengan Caramel, wanita itu masih menggunakan kacamata bulatnya. Yang dulu ia kira Caramel itu minus tapi ternyata Caramel hanya ingin menutupi dirinya agar tak di ganggu di kampus besar itu.


Karena dulunya Caramel hanya anak seorang buruh biasa dengan segala cita citanya.


"Maaf," hanya itu yang bisa Caramel ucapkan. Ia memang sangat susah jika seperti ini, walau sudah ada Arka di antara mereka sifat pemalunya tak pernah hilang.


"Mau belajar dari sekarang? Belajar untuk menjadi istriku yang nakal, saat kita berdua?" tanya Leo mengelus pipi lembut Caramel bahkan tangan pria itu sudah melepas pengait bra milik Caramel.


"Jangan lelah ajari aku ya, Pa. Maafkan Mama jika belum bisa menjadi seperti yang Papa inginkan," jawab Caramel dengan senyum manisnya.


"Hampir setiap malam, Papa ajarin Mama tapi Mamanya terlalu banyak pelajari ilmu kedokteran. Jadi apa yang Papa ajarin hilang gitu aja ketelan tugas tugas kamu," ujar Leo mengecup bibir seksoy istrinya.


Akhirnya apa yang sudah seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri itu terjadi. Kali ini kali perdana Caramel memimpin permainan setelah 8 tahun menikah.


Ahh


Cairan kenikmatan itu keluar dari inti mereka masing masing. Caramel tumbang di atas tubuh Leo. Ia juga merasakan jika milik suaminya masih tertanam dalam di dalam miliknya.


"Teruslah jadi wanita nakalku hmm."


Caramel tak menjawab karena lelahnya, ia mulai meringkuk bagai anak yang kedinginan di atas tubuh suaminya. Sedangkan Leo membiarkan cairannya masuk semua ke dalam sarangnya.


Leo berharap dalam hatinya, akan ada makhluk yang menempati rahim istrinya ini. Merasa sudah cukup lama mereka dalam posisi itu. Leo melepaskan pelan miliknya yang membuat Caramel menggigit bibir bawahnya.


"Good night sayangnya aku," bisiknya sebelum ia turun dan memakai celananya dan mengambil selimut yang tergeletak di pinggir ranjang.


Leo menyelimuti tubuh Caramel dengan selimut itu, kemudian mengecup kening Caramel.


Cup


Caramel membuka matanya pelan, badannya lemas hingga memutuskan untuk kembali tidur dengan Leo yang memeluk tubuh Caramel dengan erat.


Bersambung