Daddy Lucas

Daddy Lucas
Siapa Dia?



Happy reading


Setelah itu mereka turun dari kamar menuju ruang makan, selama perjalanan juga Lucas tak melepaskan pelukan di perut Bella.


"Duh manjanya suamiku ini," ucap Bella memeluk tubuh Lucas. Mereka masih ada di lift menuju lantai 1.


"Baru ketemu sama kamu sayang. Padahal rencanannya aku mau ambil cuti lagi. Aku mau berduaan terus sama kamu," ujarnya dengan senyum seraya mengecup pipi sang istri.


"Kan ada Laura, kamu ini gimana. Masa anak sendiri di lupakan? Bilangnya cuma berdua," ujar Bella dengan lembut.


"Kan ada Nia dan Asep. Nanti kita bulan madu ya lagi berdua aja," ujarnya yang tak di jawab Bella.


Ting


Sampainya di pantai 1, mereka langsung berjalan menuju dapur. Ternyata sudah ada Laura yang makan bubur hangat itu.


"Sayangnya Mommy makan apa?" tanya Bella menghampiri putrinya.


"Bubul."


"Pinter ya anak Mommy, makan yang banyak ya nak. Biar cepat besar," ucap Bella mengelus lembut rambut Laura yang sudah kering.


"Dan bisa jadi kakak yang baik kalau nanti puja adik," tambah Lucas dengan senyum manisnya.


Ia memangku tubuh Laura yang tadinya duduk di kursi itu, Bella yang mendengar ucapan Lucas yang begitu jujur hanya bisa menggeleng.


"Nanti baju kamu lecek loh mangku Laura," ujar Bella mulai menyuapi Laura dengan bubur.


"Enggak apa-apa sayang."


Setelah Laura selesai makan, Bella mulai mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Bella seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


Laura sudah diajak Nia untuk bermain di ruang main. Meninggalkan orang tuanya yang masih sarapan.


"Gak tahu sayang, lihat aja nanti. Tapi akan aku usahain untuk pulang awal dari biasanya," jawab Lucas dengan lembut.


"Emm hari ini aku mau ajak Laura ke taman bermain ya, supaya dia bisa berbaur sama teman temannya," izin Bella pada suaminya.


"Apapun itu, asal kalian selalu dalam penjagaan yang ketat."


"Hmm aku tak mau penjaga yang terlihat. Cukup bodyguard bayangan saja, aku tak mau Laura risih harus diikuti oleh orang berbaju hitam terus," ujarnya menyelesaikan sarapannya.


"Iya sayang. Tapi kamu juga hati hati ya, aku gak mau terjadi apa apa lagi sama kamu," jawab Lucas dengan senyumnya.


Ia meminum air yang ada di depannya.


"Iya."


Setelah itu Bella mengantar suaminya sampai pintu depan, sebelum masuk mobil. Lucas terlebih dahulu memeluk tubuh istrinya sebentar kemudian mengecup kening dan bibir Bella.


"Jaga diri baik baik hmm. Dan ingat jangan sampai kamu termakan hasutan orang lagi. Aku gak mau kejadian dulu kembali terulang," ujarnya.


Bella hanya mengangguk dan membalas pelukan Lucas tak kalah erat.


"Aku berangkat kerja dulu, cari uang buat kamu sama anak anak kita kelak," ucapnya mengecup kembali kening dan bibir Bella yang tetapi menjadi candu untuknya.


Bella mengangguk dan Lucas berlalu menuju mobil pribadinya.


Tin!


"Hati hati," ucap Bella sebelum Lucas meninggalkan area rumah itu.


Setelah memastikan bahwa Lucas sudah meninggalkan rumah itu ia mulai masuk dan mencari putrinya. Rasanya ia masih tak menyangka jika ia bisa kembali keluarga ini.


"Huhh dulu ku anggap kamu baik, Nes. Tapi ternyata kamu berusaha untuk membunuhku karena aku memiliki suami yang sangat mencintaiku. Lucas adalah milikku tak akan aku biarkan kamu mengambilnya. Aku akan membalas apa yang sudah kamu lakukan padaku dan juga pada Lucas dan Laura."


***


Perasaan senang itu memenuhi rongga dada dan hati Lucas, bahkan ia tak henti hentinya bersenandung ria ala anak muda yang baru kasmaran.


"Ahh sayang kau selalu membuat aku gila," gumamnya dengan senyum yang tak bisa ia tahan. Sudah sempat ia tahan tapi tak bisa.


Tak berapa lama akhirnya Lucas sampai di depan bangunan megah itu. Lucas sangat dihormati di sana, walau dengan sifat yang seperti itu tapi Lucas adalah atasan yang royal terhadap semua karyawannya. Ia akan selalu bersikap adil walau apapun itu jabatan mereka.


Lucas menormalkan dirinya, walau rasa senang itu lebih dominan dalam dirinya. Ia keluar dari mobil.


Lucas memberikan kunci mobilnya pada satpam yang ada disana. Kemudian dengan cepat ia langsung masuk ke dalam kantornya.


"Pagi Tuan," sapa resepsionis yang mengagumi Lucas sejak ia bekerja disana.


"Hmm."


Senyum tipis itu Lucas perlihatkan, mungkin karena efek dari rasa senangnya. Resepsionis yang dapat melihat senyum itu tersepona. apa bosnya ini akan melihat bagaimana rasa cintanya pada Lucas.


"Semoga hari Tuan menyenangkan," ujar Resepsionis yang ada disana. Namun tak di dengar oleh Lucas. Pria itu sudah masuk ke dalam lift.


"Sumpah senyum bos tadi buat gue diabet aja tahu gak?"


"Alah senyum tipis kayak gitu aja," jawab teman satunya menangapi ucapan temannya. Karena menurutnya itu lebay.


"Dia baru pertama kali senyum ke gue, beb. Jadi gue harus bahagia dan bangga. Siapa tahu jadi nyonya Lucas."


"Halu aja terus, kerja sono daripada ngehalu terus."


***


Sampainya di ruangannya, Lucas langsung disambut oleh sekretarisnya yang merangkap menjadi asisten Lucas.


"Selamat pagi Tuan Lucas," ucap Tedy dengan sopan.


Pria yang bekerja dengan Lucas sejak perusahaan ini kecil itu menundukkan kepalanya.


"Pagi Ted."


"Maaf Tuan, tapi saya ingin memberikan ini untuk Tuan dan Nyonya serta Nona kecil," ujar Tedy memberikan tiga buah undangan dengan nama Lucas, Bella dan Laura.


"Oh jadi kamu ingin menikah, Ted? Kenapa kamu tak memberi tahukan semua inj pada saya. Saya akan membantu kamu jntuk menyiapkan pernikahan kamu," jawab Lucas menerima tiga buah undangan itu.


"Maaf Tuan saya takut merepotkan. Bagi saya kedatangan kalian ke dalam acara saya sudah sangat senang dan terhormat."


"Saya akan datang. Tapi maaf jika sedikit telat karena di hari ini juga teman istriku menikah."


"Tidak apa-apa Tuan."


"Terima kasih tuan."


Lucas mengangguk dan menepuk punggung Tedy dengan pelan. Lucas langsung berlalu menuju ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.


Lucas membuka laptop yang ada di depannya. Bukan untuk mengerjakan pekerjaannya bukan. Tapi karena ia masih mengamati wajah ayu Bella dan Laura yang dulu ia ambil dengan sembunyi.


"Kalian adalah wanita paling aku sayangi. Maaf jika dulu aku sempat menghianati cinta kita. Tapi aku juga sudah lama tak berani merasaka apa yang dulu diciptakan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk saja Ted.".


Ceklek


"Sayang aku pulang!"


Bersambung


Siapakah orang itu? TUNGGU BESOK.