Daddy Lucas

Daddy Lucas
Malam



Happy reading


Seorang wanita yang saat ini baru saja selesai berhubungan layaknya suami istri dengan seorang laki laki yang sudah ia anggap sebagai om itu hanya bisa mendesah pelan.


"Om jangan main kasar lagi, Nessa juga mau yang lembut."


"Itu tadi kurang lembut gimana Baby? Punyamu sudah kendor dan sangat tak enak untuk dimasuki," jawab Om itu dengan nada pelan.


Laki laki itu menyukai goyangan Nessa yang sangat profesional, tapi ia tak suka milik perempuan yang sudah kendor. Dia mau yang masih perawan ting ting.


"Om," pekik Nessa yang tak terima dengan ucapan Om nya itu.


"Memang itu kenyataannya kamu sudah tak enak lagi Ness. Sudah sampai sini saja kontrak ranjang kita, aku juga sudah berapa laki laki saja yang mencicipi milikmu itu," ucap Om itu dengan tegasnya.


Meninggalkan cek yang nominalnya cukup fantastis di meja itu kemudian meninggalkan Nessa yang masih terkapar disana dengan tubuh yang masih polos. Untung om tadi sudah pakai baju.


Nessa yang ditinggal begitu saja hanya bisa mengendus pelan, seorang model sepertinya bisa dibuang seperti ini saja? Nessa tak terima tapi saat melihat cek di atas meja itu membuat jika matrenya muncul.


"Gak apalah aku capek yang penting uang ngalir kan."


***


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Bella juga sudah mandi dan berganti pakaian.


"Laura sayang, makan dulu yuk. Jangan lari lari sayang "


Entah kenapa setelah bangun tidur tadi Laura jadi sangat lincah dan tak mau nurut padanya. Sukanya lari lari saat ingin dimandikan tadi juga lari, sekarang mau makan malam pun makan lagi.


"Laura awas jatuh," pekik Bella saat Laura menuruni undakan tangga itu.


Hap


"Huhh aman."


Bella mengelus dadanya seraya bernafas lega saat suaminya menangkap tubuh Laura yang akan jatuh.


"Anak Daddy kenapa lari lari?" tanya Lucas dengan lembut mencubit hidung Laura dengan gemas.


"Kasihan Mommy harus kejar kamu terus seperti ini, lihat narasnya terengah. Laura mau Mommy pergi lagi hmm?" tanya Lucas menggendong tubuh Laura menuju ruang makan bersama Bella.


"No Dad. Mommy tetap sama Laula."


"Makanya Laura harus jadi anak yang nurut sama Mommy dan Daddy."


"Ya Dad. Mommy Laulaan sap ya," ucap Laura yang mulai nurut dengan Mommynya.


"Iya sayang gak apa-apa, sekarang Laura makan ya. Nanti di gin buburnya gak enak."


"Kok baru pulang? Katanya bakal pulan awal? Kamu bohong banget deh," tanya Bella dengan lembut menyuapi Laura dengan bubur khusus untuk Laura.


"Banyak kerjaan sayang, ini aja ada yang sebagian aku bawa pulang. Maaf ya, janji besok besok aku cepat selesaikan di kantor," jawab Lucas menampilkan senyum manisnya.


"Ya sudah, sana mandi dulu. Aku sudah siapkan pakaian ganti kamu di kamar mandi."


"Gak mau mandiin aku yank?"


"Mau dimandiin sama buburnya Laura hmm?"


Lucas yang mendengar itu langsung menggeleng dengan cepat. Kemudian ia mengecup pipi putrinya dan mencuri ciuman dibibir istrinya.


"Daddy."


"Yes Mommy, Daddy sayang kalian," ucapnya dengan senyum manisnya sebelum Lucas menghilang di balik lift itu.


"Daddy mommy juga," jawab Laura dengan riangnya bermain dirumah itu tapi mulutnya masih belepotan.


"Kalau Laura lari lari lagi, Mommy gak bakal mau beliin Laura es krim lagi," ujarnya dengan ancaman agar putrinya itu berhenti berlari.


"Es klim, nyam nyam," gumam Laura menghentikan langkahnya dengan pelan kemudian menatap Mommynya yang duduk dengan berkecak pinggang itu.


"Mau es klim," rengek Laura dengan senyum manisnya kemudian memeluk kaki Mommynya dengan lembut bahkan gadis berusia 3 tahun itu sudah mengelus kaki sang Mommy yang mulus itu.


"Gak bisa sayang, ini udah malam. Nanti kamu sakit," jawab Bella masih dengan wajah garang. Walau dalam hatinya ia ingin sekali ia menggigit pipi bulat itu.


"Kalau Laura nurut, besok pagi boleh makan es krim," tambah Bella yang membuat Laura berbinar dan mulai memakan makan malamnya dengan semangat.


Karena es krim yang membuat dia seperti ini, apalagi ia sangat jarang diperbolehkan makan es krim. Mungkin dua hari sekali baru boleh.


Setelah menyelesaikan makannya, Bella menyuruh Nia untuk membawa Laura dulu ke kamar. Sedangkan dia harus mengurus suami tercintanya yang sudah duduk di kursi itu.


"Mau lauk apa hmm?" tanya Bella setelah mengambilan nasi untuk suaminya.


"Apa aja asal kamu yang suapi aku," jawab Lucas dengan senyum manja.


"Heem."


Akhirnya mereka makan disatu piring yang sama, Bella dan Lucas yang sudah terbiasa makan sepiring berdua itu dengan lahap menikmati makan malam mereka. Lucas yang masih mengunyah makanannya itu seraya memandangi wajah cantik Bella yang masih sama seperti dulu.


"Mau nambah lagi apa tidak?" tanya Bella pada suaminya yang menggeleng, jujur ia sudah kenyang karena mereka sudah menghabiskan banyak nasi untuk makan malam berdua ini.


"Enggak, aku sudah kenyang tapi kalau kamu mau nambah gak apa-apa," jawab Lucas pada sang istri yang juga menggeleng.


"Ya sudah aku mau bereskan ini dulu, kamu naik aja dulu," ujar Bella pada suaminya yang tak langsung dijawab oleh Lucas.


"Aku gak mau kamu cuci semua ini ya sayang. Kamu suruh aja pelayan yang cuci semua ini aku gak mau tangan kamu kasar."


"Iya, aku cuma mau bikin teh buat kamu."


Akhirnya Lucas mengangguk.


"Kamu tunggu aja di kamar."


"Iya, nanti kalau aku gak ada berarti aku ada di ruang kerja," ujar Lucas mengecup bibir Bella sekilas dan dibalas ciuman lembut pula dari Bella.


"Ciuman kamu manis."


"Bisa aja sih hmm."


Lucas hanya tersenyum dengan lembut kemudian berlalu meninggalkan Bella yang ada disana. Bella menatap punggung suaminya yang sudah masuk ke dalam lift itu.


Kemudian ia berlalu menuju dapur membuat teh untuk suaminya tak lupa berberapa buah yang selalu ia makan bersama suaminya sebelum tidur. Entah apa gunanya tapi itulah yang dulu mereka lakukan.


Setelah selesai membuat teh, Bella berlalu menuju lift dan berhenti di lantai kamar sang putri. Ia hanya ingin memastikan jika Laura sudah terlelap atau belum, dan ternyata gadis kecilnya sudah terlelap dengan Nia yang juga tidur di sisi Laura itu.


"Kenapa Nia tidak menikah saja? Padahal Asep itu adalah orang yang bertanggung jawab," gumam Bella yang tak habis pikir dengan gaya pacaran mereka.


"Entahlah."


Ia kembali menutup pintunya dan berlalu menuju kamar sang suami yang tak lain juga kamarnya.


Sampainya di kamar, Bella masuk dan tak ada Lucas disana berarti Lucas ada di ruang kerjanya.


Dan benar saja Lucas yang sangat tampan dengan kaca mata baca di hidung mancungnya membuat laki laki itu tampak gagah saja apalagi Lucas hanya memakai kolor berwarna hitam dan kaos oblong berwarna hitam pula.


Bersambung