Daddy Lucas

Daddy Lucas
Laura



Happy reading


"Ante."


Suara pekikan Laura itu membuat pasangan yang baru saja melangsungkan acara pernikahan itu tersenyum menatap gadis yang ada disana. Begitu juga banyak pasang mata yang tadinya menatap pasangan baru itu beralih menatap Laura.


Laura turun dari pangkuan Daddynya dan berlari ke arah Kenzie dan Tamara.


"Kesayangan Ante, sini sayang."


Dengan senang hati Tamara langsung mengangkat tubuh Laura ke pangkuannya.


"Awas sayang, perut kamu kalau ketendang loh," ujar Kenzie mengambil alih tubuh Laura untuk duduk di pangkuannya.


"Enggak kok sayang, lagipula cuma mangku aja," ujar Tamara yang membiarkan suaminya memangku tubuh Laura.


Mereka berdua sudah duduk di pelaminan dengan keempat orang tua yang duduk di antara mereka karena setelah ini tidak ada lagi resepsi.


Seperti biasa banyak dari tamu yang langsung memberikan selamat kepada mereka. Walau undangannya dadakan tapi banyak yang sangat menantikan pernikahan ini.


Dan kenapa mereka tak mau melakukan resepsi? Karena Kenzie yang meminta untuk tidak ada resepsi, katanya ia tak mau istrinya kelelahan dan berujung ke anaknya yang ada di dalam perut Tamara.


Hingga saat dimana Bella dan Lucas bejalan beriringan menuju pelaminan untuk memberikan selamat. Disini Bella yang paling semangat akan pernikahan ini karena sedari dulu ia selalu memaksa keduanya untuk menikah tapi Tamara dan Kenzie belum mau alasannya adalah dirinya.


Sekarang dirinya sudah mengingat semuanya hingga sudah tak ada lagi alasan untuk tidak menikah bukan?


"Selamat kakak kakakku, akhirnya kalian menikah juga. Maaf jika selama ini aku yang menjadi halangan buat kalian menikah."


Bella memeluk keduanya yang membuat Laura yang berada di antara mereka merengek.


"Maaf sayang."


Tamara mengecup pipi Laura dengan lembut, dan menatap Bella dan Lucas.


"Terima kasih kalian sudah mau datang, hehehe maaf jika pernikahan kami tidak seperti yang kalian harapkan."


Pasalnya Bella juga ingin membantu mereka dalam pernikahan ini tapi Tamara dan Kenzie sendiri menolak. Mereka ingin pernikahan mereka sederhana walau akhirnya menjadi seperti ini.


"Aku paham kok."


Bella memberikan sebuah amplop dan Bella memberikan kotak kecil pada mereka. Karena Bella adalah orang yang simpel hingga cukup dengan kotak kecil itu yang ia masukkan kedalam tasnya membuatnya mudah.


"Makasih ya, tapi kecil banget sih kadonya," cemberut Tamara menatap kado yang ada ditangannya.


Bella hanya tersenyum dan menanyakan kamar mereka nanti di nomor berapa.


"Gue mau yang lebih gede tahu," tambahnya.


"Nanti kamu juga tahu apa isi dari kado itu," jawab Bella yang hanya diangguki oleh Tamara.


Cukup lama mereka disana hingga akhirnya, Bella mengajak Laura untuk duduk kembali. Sebenarnya Bella juga lapar tapi entah kenapa ia tak naf*u makan.


"Laula mau sama Tante," ujar Laura dengan manjanya.


Dengan sedih Laura menatap Kenzie dan Tamara. Padahal ia ingin bersama dua orang ini tapi disisi lain ia juga tak mau jika Mommynya pergi lagi.


Akhirnya dengan berat hati Laura turun dari pangkuan Kenzie dengan wajah mengembung. Bukannya terlihat jelek malah bertambah cantik bagi mereka.


Orang tua Kenzie dan juga orang tua Tamara tentu saja ikut gemas, tapi yang namanya seorang Papa yang menjaga wibawanya tak seperti istri mereka.


"Laula memang pengen ikut kalian tapi Laula tak mau Mommy pelgi lagi."


Ucapan itu membuat mereka yang ada disana terenyuh termasuk Lucas, ia tahu sedari dulu putrinya mengingkan seorang Mommynya.


Laura kemudian tersenyum dan minta untuk digendong sang Mommy. Bella pun langsung menggendong Laura kemudian menatap manik mata yang sama seperti miliknya itu.


"Laula sayang Mommy," ucap Laura dengan senyum manisnya.


Cups


Cups


Dua kecupan Laura berikan pada Bella, Bella tehtu saja bisa merasakan betapa tulusnya Laura. Rasa sedih yang tak bisa melihat perkembangan sang putri membuat Bella ingin menebusnya saat ini sampai nanti.


Karena Laura adalah permata hatinya, Bella akan melakukan apapun untuk putri cantiknya ini.


Cups


"Mommy juga sayang kamu sayang."


Bella membalas kecupan itu tak kalah lembut hingga membuat kedua orang ini lagi lagi menjadi pusat pemandangan mereka.


"Sayang, kita turun yuk. Lihat banyak orang yang ingin memberi selamat untuk mereka," ajak Lucas pada kedua kesayangannya.


Mereka pamit pada Tamara, Kenzie, juga kedua orang tua mempelai yang ada disana.


Bersambung


Hai hai balik lagi nih, yuk baca novel teman aku judulnya Goresan Luka, karya SyaSyi.



Pernikahan adalah sebuah impian setiap orang, tetapi bagaimana rasanya kalau kita menikah dengan orang yang salah? Perkenalan yang begitu singkat membuat Anindya tak mengenal jelas sosok Argantara suaminya. Niat hati ingin mendapatkan kebahagiaan, dia justru mendapatkan goresan luka yang dibuat oleh sang suami. Lantas, siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mungkinkah takdir tak berpihak kepadanya?


Anindya Saputri, wanita berusia 24 tahun yang harus merasakan luka dan penderitaan yang mendalam dalam pernikahannya. Pernikahan tak seperti dalam bayangannya. Dia telah salah dalam memilih suami. Argantara bukanlah suami yang baik untuknya. Banyak rahasia yang belum terungkap.


"Aku cape, harus terus terlihat bahagia di depan semua orang. Menutupi kelakuan kamu!"


-Anindya Saputri-


"Aku yakin kamu akan selalu mempertahankan aku dan tak akan pernah pergi meninggalkan aku."


-Argantara Wijaksono-


Rahasia apa yang dimiliki Argantara? Akankah Anindya tetap mempertahankan pernikahannya?