Daddy Lucas

Daddy Lucas
Jika kamu mau



Happy reading


Setelah Laura menghabiskan cake yang tadi dimintanya, Bella dan Lucas pergi dari tempat itu.


"Hotel Permata kan yank?" tanya Lucas dan diangguki oleh Bella.


"Heem, hotel milik Kenzie sendiri. Bahkan aku punya kamar pribadi di sana."


"Boleh nanti kita coba," godanya yang membuat Bella menggeleng.


"Laura gimana kalau kita nginep di hotel hmm?" tanya Bella yang kini sedang memangku tubuh Laura yang sedang bermain dengan bola karet itu.


"Nanti kita suruh Nia dan Asep jemput, lagian kamu juga gak mau bawa mereka," ujar Lucas pada istrinya.


Bukannya Bella tak mau mengajak Nia untuk pergi bersamanya tapi karena kemarin ia tak sengaja mendengar obrolan Nia dan Asep yang ingin menghabiskan waktu berdua tapi belum ada waktu.


***


Berbeda dengan Bella dan Lucas yang sudah OTW ke pesta pernikahan Tamara dan Kenzie tapi keduanya itu bahkan belum juga siap dengan pakaian mereka. Kenzie yang tak bisa jauh dari Tamara hanya membuat kedua orang tua mereka menggeleng.


Kedua keluarga itu juga sudah tahu jika Tamara kebobolan alias hamil duluan dan Kenzie yang mendapat karmanya.


Kedua keluarga juga tak bisa marah karena sejak 5 tahun lalu mereka sudah lepas tangan menjaga anak anak yang sudah dewasa.


Tapi mereka tak sepenuhnya lepas tangan, karena sejak anak anak mereka memutuskan untuk melanjutkan jejak mereka dulu papa Tamara dan Papa Kenzie selalu menyiapkan mata mata dan bodyguard bayangan untuk mereka.


"Ken, orang orang udah pada nunggu tuh. Kamu malah gak bisa lepas gini dari Tamara," ujar Mama Kenzie yang tak habis pikir dengan putranya ini.


"Mah, Kenzie lemes Mam."


"Hais salah siapa buat anak orang bunting dulu? Kamu juga harus tanggung jawab dong sama apa yang sudah kamu buat," ujar Mama menatap calon menantunya.


Kenzie menatap Mamanya dengan pelan, matanya sangat susah untuk dibuka lebar hingga sebuah kecupan dibibir membuat Kenzie tersadar.


Cups


"Ini hari bahagia kita, kamu gak boleh lemes lemes," ujarnya dengannya lembut.


Kenzie yang mendapat kecupan dari Tamara itu tanpa sadar tersenyum dengan wajah yang memerah.


"Kamu harus buat aku sah menjadi istri kamu," ujarnya dengan lembut.


Walau ia sedikit kesal karena calon suaminya ini sangat manja akhir akhir ini tapi ia paham karena Kenzie sedang mengalami kehamilan simpatik.


Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuk mereka, tentu Tamara tak akan membuat harinya berbeda karena ia harus ngomel.


"Tapi lemes, Honey."


"Kamu gak mau main kuda kuda pagi nanti malam hmm?"


"Mau lah, masa enggak.".


"Ya sudah kalau begitu kita turun, dan nanti malam kamu boleh apain aku sepuasnya," jawabnya yang membuat semangat Kenzie kembali muncul.


Mungkin mereka lupa jika Mama Kenzie masih berada di kamar itu dan mendengar apa yang diucapkan anak-anaknya ini.


"Dasar bucin, kalian gak anggap Mama ada ya."


Sontak saja keduanya langsung menatap Mama Kenzie yang berkecak pinggang itu. Wanita yang sudah tak muda lagi tapi masih terlihat cantik itu menggeleng pelan.


"Emm mam, Bella sama Lucas sudah datang?" tanya Kenzie dengan pelan pada Mamanya.


"Belum ada mungkin masih ada di perjalanan, kenapa?"


Kenzie menggeleng dengan pelan begitupun dengan Tamara, hingga Mama Kenzie keluar dari kamar itu.


Setelah Tamara merapikan jas yang dipakai calon suaminya. Mereka turun dari kamar dengan bergandengan tangan. Sangat berbeda dengan pengantin lain yang sang pangeran harus menunggu tuan putrinya datang dari kamar.


"Anak kamu itu," ujar Papa Kenzie pada istrinya.


"Anak kamu juga. Bahkan sifatnya juga mirip kamu," jawab Mama Kenzie.


"Yang penting aku dan anak kita tak lepas tanggung jawab. Dan aku juga sangat mencintaimu," bisiknya mengecup singkat pipi sang istri.


Kenzie yang tak sengaja melihat Mama dan Papanya itu hanya menggeleng, tak bisa ia pungkiri darimana ia mendapat sifat ini. Ya tentu saja dari kedua orang tuanya yang sama sama pro.


"Kita tunggu Bella datang dulu ya, aku gak mau dia tak menyaksikan pernikahan kita ini," ujar Tamara dan dianggukkan oleh Kenzie.


Mereka berdua menunggu sebentar sebelum Bella dan Lucas serta Laura datang ke hotel itu. Tak lama Bella dan Lucas datang yang membuat arah kamera kini mengarah pada mereka bertiga bersama Laura yang sangat cantik seperti prinses Elsa. Apalagi wajah dan mata indah itu.


"Mereka datang kita bisa memulai acaranya."


Bella dan Lucas mengambil meja untuk mereka, sedangkan acara pernikahan yang secara sakral dilakukan di atas panggung itu membuat siapa saja pasti terharu dengan ucapan Kenzie yang sangat romantis bagi Tamara.


"Jadi pengen nikah lagi," gumam Bella mengabaikan momentum itu dalam kamera canggihnya.


"Kamu mau nikah lagi hmm?" tanya Lucas pada istrinya.


"Eh... gak gitu juga sih, aku cuma terharu aja sama ucapan mereka sangat romantis dan juga manis," ujar Bella dengan senyum manisnya yang membuat sebagian orang yang mengarah ke mereka itu terpana terutama laki laki.


"Sayang jangan senyum gitu, lihat tuh laki laki semua lihat kamu," ujar Lucas membuat Bella menatap suaminya kemudian menatap sekeliling. Benar apa yang diucapkan Lucas banyak orang yang menatap kearahnya.


"Maaf aku terbawa situasi aja."


Lucas tak menjawab tapi ia masih menatap putrinya yang tak bisa lepas dengan bola karet berwarna biru itu. Kemudian menatap depannya dimana Tamara dan Kenzie melangsungkan pernikahan.


"Maaf jika dulu aku tak bisa memberikan pernikahan semewah ini hmm. Kalau kamu mau saat ini juga aku juga bisa memberikan kamu pernikahan seperti yang kamu inginkan," ujar Lucas mencubit pipi Bella.


"Aku gak perlu pesta atau pernikahan yang mewah, sudah cukup dengan krsetiaan dan juga senyum tulus kamu."


**Bersambung


Kira kira gimana nih nanti, mau ada niakh lagi apa enggak**?


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya judulnya PENAKLUK SANG CASANOVA karya


Warnyi.



Diandra, perempuan dingin dan cenderung angkuh, berusia 27 tahun. Kehidupannya begitu rumit, dengan berbagai masalah yang mengelilinginya. Pertemuannya dengan laki-laki yang merupakan seorang pemain wanita, perlahan mulai merubah kehidupannya.


Giovano, laki-laki dewasa berusia 32 tahun. Seorang casanova juga pewaris perusahaan keluarganya. Dia hidup dengan sebuah janji kepada mending ayahnya. Hingga akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat terpencil, untuk mengembalikan kembali kejayaan hotel peninggalan kakeknya. Giovano merasa tertanang saat bertemu dengan seorang perempuan yang terus menolak pesonanya.


Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka berdua?


Mampukan Giovano membantu Diandra untuk menyelesaikan semua permasalahannya?