Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Berkelahi



Setiap hari Bella selalu mendapatkan pukulan tiap kali Brian merasa kesal.


Sedangkan Kirana hanya bisa terdiam pasrah tanpa bisa melindungi putrinya.


Suatu hari Bella begitu merasa sangat lelah dengan kehidupannya.


Saat ia sedang duduk berdua dengan Ibunya tiba-tiba saja timbul rasa ingin menyerahnya.


“Ibu, apa aku tidak bisa tinggal bersama Nenek saja?” tanya Bella.


Kirana yang mendengarnya terkejut seketika ia terhenti dari kegiatannya.


“Mengapa kau ingin tinggal bersama Nenek?” Kirana bertanya balik.


“Aku lelah Bu, jika terus menerus Ayah memukuli ku.” lanjut Bella yang tertunduk sedih.


Kirana yang begitu merasa takut pada suaminya hanya bisa memberi Bella pengertian tanpa bisa melindungi.


“Kau tidak boleh bicara seperti itu lagi, sekarang fikirkanlah untuk terus belajar agar Ayah tidak memukulmu.” ucap Kirana.


Bella yang mendengar ucapan Ibunya hanya diam saja, ia merasa begitu lelah dengan jalan hidupnya.


Bagaimana bisa ia lebih kuat menghadapi semuanya sedangkan Ibunya sendiri pun juga takut.


Tidak ada tempat Bella saat ini bisa mengadu atau meminta perlindungan.


Hari-haru terus berjalan tanpa ada satu hari pun Bella lewatkan dengan kebahagiaan.


Pagi itu tampak Bella sedang sarapan sendiri dan terlihat sudah memakai seragam sekolah yang begitu rapi.


“Ibu, Bella pergi sekolah dulu.” ucap Bella.


“Hati-hati yah.” jawab Kirana yang masih sibuk membuat kue.


Semenjak Bella sudah masuk semester dua ia berangkat sekolah selalu sendirian.


Setelah kepergian Bella ke sekolah, Brian yang baru saja bangun kini menghampiri Kirana.


Matanya menatap arah meja makan dan melihat hanya lauk yang terlihat tidak begitu menggugah selera makannya.


Tanpa bertanya apa pun Brian sudah dengan cepatnya melempar semua makanan dengan menggeser menggunakan kedua tangannya di atas meja.


Kirana yang terkejut mendengar pecahan piring sangat panik.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Kirana dengan takutnya.


“Kau menyuruhku makan makanan ini?” tanya Brian dengan mata melototnya.


“Lalu kau mau makan apa lagi?” Kirana yang bertanya lagi pada Brian.


Brian yang mendengarnya hanya terdiam dengan tangan yang sudah mengepal erat.


Wajahnya memerah karena kesal melihat makanan yang di sajikan oleh Kirana begitu sangat tidak selera untuk di lihat.


“Kau mau makan apa? Bagaimana aku bisa memasak makanan yang lain uang saja tidak cukup membeli yang lain.” jelas Kirana yang sudah mulai kesal.


Namun kali ini kesabarannya sudah cukup untuk menghadapi tingkah suaminya.


Brian yang mendengar pertanyaan istrinya kini terdiam dengan wajah marah.


Hatinya merasa di permalukan dengan Kirana yang bertanya tentang biaya di dapur.


Tanpa sadar kini kedua tangan Brian sudah mencekik leher Kirana dengan kasarnya lalu mendorong tubuh istrinya ke dinding ruang dapur.


“Apa yang kau lakukan ?” ucap Kirana yang sudah ketakutan.


“Kau berani menghinaku.” Suara geram Brian yang begitu merasa kesal.


“Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu.” jawab Kirana yang sudah ketakutan.


Brian yang begitu merasa terhina tanpa sadar sudah menampar wajah Kirana dengan kerasnya lalu mendorong tubuh wanita itu sampai tersungkur ke dasar lantai.


Kirana yang di perlakukan dengan kasar oleh Brian hanya menangis tanpa berani melawan sedikit pun.


Setelah merasa selesai melampiaskan kekesalannya kini Brian bergegas pergi dari rumah meninggalkan Kirana yang masih terduduk di lantai.


Dan beberapa pecahan piring beserta lauk yang berhambur.


Kirana terus menangis meratapi hidupnya saat ini bagaimana bisa ia menikah dengan pria yang kejam dan kasar seperti Brian.


Namun semua itu harus ia hadapi bersama putri kecilnya. Karena Kirana tidak ingin keluarganya mengetahui kesengsaraan yang ia hadapi ketika bersama Brian.


Mengingat kedua orang tua Kirana kini sudah sangat tua tentu Kirana sangat takut jika harus menceritakan semua masa yang ia jalani selama jauh dari kedua orang tuanya.


Semua sudah menjadi kewajiban Kirana untuk menutupi aib Brian pada keluarga kecilnya.


Tanpa terasa hari sudah siang kini Bella waktunya pulang dari sekolah.


Wajahnya sangat gugup jika harus bertemu dengan Ayahnya lagi.


Langkah Bella begitu terlihat ragu ketika semakin dekat rumahnya.


Matanya terus memandang ke depan untuk melihat apakah Ayahnya sudah menunggunya di depan pintu.


Karena hari itu Bella sedang mendapat nilai yang tidak baik.


Bella mendapat nilai sembilan puluh delapan karena dari sepuluh soal ia salah menjawab satu soal.


Dan itu soal pelajaran matematika, Bella sangat tahu jika Brian melihat hal itu tentu akan sangat marah padanya.


Dugaan Bella sangat tepat kini Brian sudah duduk di depan pintu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Langkah Bella seketika begitu pelan tubuhnya bergetar keringat sudah membasahi tubuhnya.


Matanya terus menunduk sejak melihat kehadiran Ayanya.


Wah kira-kira apa yang terjadi pada Bella yah kali ini? Yuk ikutin terus ceritanya yah jangan bosan menunggu updatenya.