
Mayang yang baru saja memberikan obat itu pada Bella kini tampak ragu.
“Bella, kau yakin ingin meminumnya?” tanya Mayang.
“Aku tidak ada jalan lain.” jawab Bella singkat dan segera meneguk obat itu.
Mayang yang merasa ketakutan jika terjadi sesuatu pada Bella segera mengabari Beren. Beren yang terkejut mendapat kabar itu, segera melajukan motornya menuju tempat Bella.
Waktu yang berjarak tidak begitu jauh membuatnya cepat berada di tempat Bella. Dengan cepat Beren berlari ke kamar Bella yang posisinya kamar paling depan di penginapan itu.
Ia sudah melihat Bella yang terbaring dengan memegangi perutnya di lantai. Matanya menangkan wajah yang kesakitan di sana.
“Bella, kita ke rumah sakit?” tanya Beren dengan panik.
Namun Bella dengan cepatnya menepis tangan pria itu. Ia tentu masih ingat apa yang di lakukan Beren hingga ia benar-benar murka.
“Pergi dari sini dan carikan aku obat yang lebih tinggi dari ini. Jika tidak, kau jangan berani muncul di hadapanku lagi.” pekik Bella yang membuang wajahnya dari hadapan Beren.
Beren yang merasa bersalah akhirnya melangkah keluar kamar Bella. “Ini semua salahku, aku sayang bersalah hingga Bella menanggung ini semua.” gumam Beren dan berlalu pergi.
Pria itu bingung apa yang harus ia perbuat, selama ini ia tidak pernah lagi dekat dengan teman-temannya karena Bella melarang. Semua teman Beren sangatlah memiliki pengaruh tidak baik. Karena itu Bella meminta Beren untuk menjauh.
Dan saat ini Beren tidak tahu harus berbicara dengan siapa lagi. Sampai akhirnya ketika ia telah kehabisan ide, Beren menghampiri seorang ibu-ibu yang ia anggap sangat dekat dengannya sudah di anggap sepeti tante.
Wanita itu juga salah satu pelanggan di koperasi tempatnya bekerja. Beren menceritakan semua tentang masalahnya dengan Bella. Dan bertujuan meminta bantuan untuk mendapatkan obat.
“Maafyah, Beren. Sayangnya saya tidak tahu tentang tempat atau orang yang menjual obat seperti itu.”
Sampai akhirnya Beren memulai jalan paling awal yaitu memakai nanas muda seperti banyaknya orang mengatakn jika nanas muda salah satu ancaman bagi kandungan yang masih awal.
Segera ia pun membawa pada Bella dan membuatkannya jus. Bella yang segera meminumnya masih merasa dirinya baik-baik saja. Sepertinya kandungannya benar-benar kuat.
***
Keesokan harinya Beren berniat mengajak Bella untuk berjalan dan menemaninya menagih beberapa pelanggan. Dan demi melancarkan turunnya kandungan yang sudah terkena obat itu, Bella pun mengiyakan saja.
Namun sayang, semua di luar dugaan. Bella yang ketika menemani Beren ke rumah salah satu pelanggannya itu bertemu dengan wanita yang memiliki ikatan keluarga dengan orang kepercayaan ayah Bella.
Sepulang dari sana di perjalanan Bella berbicara pada Beren.
“Apa ibu yang tadi itu katamu yang kau mintai obat?” tanya Bella.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Beren penasaran.
“Astaga, itu tadi ada temannya di sana. Dan temannya itu keluarga orang kepercayaan Ayahku.” terang Bella terdengar panik.
“Hah? Benarkah?” tanya Beren yang juga ikut syok.
Di perjalanan Bella terus ketakutan jika sampai berita itu akan sampai di telinga Brian. Beren berusaha memberikan ketenangan pada kekasihnya namun hasilnya masih saha nihil.
Bella sangat yakin jika masalah mereka sebentar lagi pasti akan terbongkar oleh Brian. Tubuh Bella terasa lemas membayangkan apa yang akan menimpa mereka berdua nanti. Bisa saja Bella dan Beren akan mati terbunuh dengan tangan ayahnya sendiri.