
“Apa selalu dengan kekerasan kau memperlakukan Bella?” tanya Kirana yang meluapkan amarahnya.
“Jaga bicaramu, sejak kapan kau berani menentang ku hah?” bentak Brian dengan kasarnya terlihat dari sorot matanya yang sedang sangat marah.
Kirana yang mendengar bentakan dari suaminya kini memilih masuk ke kamar membersihkan rambut Bella yang berhamburan di lantai. Sedangkan Bella masih terus menangis membayangkan wajahnya yang memiliki rambut botak.
Beruntung hari itu adalah hari terakhirnya sekolah karena beberapa minggu ke depan ia libur. Setidaknya rambut Bella masih sempat memanjang meskipun hanya sedikit.
Setelah kejadian saat itu Brian sudah sangat jarang berada di rumah. Sebulan ia hanya seminggu paling lama bertahan di rumahnya.
Pagi itu Brian yang tengah bersiap keluar kota memanggil Kirana.
“Aku dua bulan kedepan tidak akan pulang ini uang untuk kalian.” ucap Brian yang kini melangkah memasuki mobilnya tanpa menunggu istrinya berbicara.
Kirana hanya terdiam menyaksikan kepergian suaminya tanpa berani bertanya. Sementara Bella yang sebentar lagi akan selesai masa SMPnya bingung menentukan pilihan sekolah selanjutnya.
“Bu, Bella ingin masuk SMK saja yah?” tanya Bella pada Kirana.
“Memangnya kau tidak ingin SMA?” tanya Kirana.
Bella yang menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Kirana merasa ingin sekali mengikuti keinginannya.
“Nanti tanya dulu pada Ayahmu, Ibu tidak tahu soal itu.” ucap Kirana.
Mendengar kata Ibunya Bella hanya bisa menghela nafas dengan kasarnya. Bella sangat ingin masuk sekolah tata busana tapi ia takut jika Ayahnya tidak mengijinkannya.
“Memangnya mengapa kau tidak mau masuk SMA saja? Kan sama itu.” sahut Kirana lagi.
“Bu, SMA dan SMK itu berbeda, kalau SMA itu pelajarannya masih umum sedangkan SMK kita sudah bisa mengambil jurusan jadi kalau Bella kuliah bisa tahu apa yang harus Bella masuki.” jelasnya.
Kirana yang tidak mengerti hanya bisa terdiam tanpa kata. Ia sama sekali tidak mengerti tentang sekolah selain SD.
“Yasudah nanti setelah Ayahmu pulang baru kalian bicarakan.” jawab Kirana yang terdengar acuh.
***
Dua bulan kemudian Brian baru tiba di halaman rumah dengan mobilnya yang sudah ia ganti.
“Kau ganti mobil?” tanya Kirana terkejut.
“Iya, mobil yang lama di tukar oleh temanku dengan hotel.” jawab Brian dengan santainya.
Kirana yang terkejut mendengar ucapan suaminya hanya bisa berdiam diri. Brian sudah sangat Bangak berubah belakangan ini ia selalu melakukan sesuatu tanpa berbicara pada Kirana. Termasuk membeli mobil dan bertukar mobil pertamanya dengan hotel.
Beberapa hari Brian berada di rumah namun waktunya selalu ia gunakan untuk memantau proyeknya yang ke tiga kalinya ia bangun. Bella yang tidak berani mengatakan tentang sekolahnya hanya terus berdiam tiap kali berpapasan dengan Brian di dalam rumah.
Sampai tiba waktunya masa pendaftaran SMA pun di buka. Bella begitu bingung harus mendaftar di mana. Brian yang tidak mau menuruti keinginan Bella untuk masuk SMK akhirnya mendaftarkan Bella di salah satu SMA di tempat Brian tinggal saat ini.
“Kau harus masuk SMA dan menjadi Dokter ingat itu.” ucap Brian yang tegas pada Bella.
“Tapi Ayah, Bella tidak bisa jadi Dokter Bella tidak mau.” ucap Bella berusaha menjelaskan pada Brian.
“Ingat Bella, semua tidak ada yang tidak bisa jika kau mau. Ayah tidak akan mengijinkanmu masuk jurusan selain Dokter.” ucap Brian dengan bergegas pergi meninggalkan Bella.
Sampai akhirnya sekolah yang Brian tuju ternyata lebih mengutamakan pelajar yang dari sekitarnya. Dan banyak murid yang tidak di terima ketika mendaftar di SMA itu. Akhirnya Brian menyuruh Bella mendaftar sekolah yang tidak jauh dari rumah mereka.
Tanpa berani menolak akhirnya Bella menuruti perintah Brian. Bella bersekolah di SMA C itu mulai menikmati hari-harinya meski ia sebenarnya tidak sepenuhnya ikhlas masuk di SMA C.
Tanpa Brian dan Kirana ketahui kelakuan Bella sejak SMP ternyata belum berubah. Selalu berpacaran dengan banyak pria. Dan sewaktu SMA Bella justru lebih bebas karena di berikan ponsel oleh Brian. Begitu banyak pria yang mendekati Bella, tanpa berfikir panjang Bella pun menerima mereka semua. Namun cara Bella pacaran tetap sama seperti sebelumnya. Hanya melalui ponsel saja, semua demi keamanan dirinya.
Jika Brian sampai tahu mungkin ia bisa di gundul lebih parah lagi. Di SMA C Bella memiliki tiga orang sahabat. Namanya Vida, Gita, dan Caca. Ketiga sahabatnya semua berparas cantik. Mereka selalu bersama kemana pun perginya.
Sampai suatu hari ada seorang pelajar SMP kelas tiga beberapa kali menggoda Bella. Ia selalu melambaikan tangan dan tersenyum tiap kali bertem dengan Bella di sekolah.
Sekolahan Bella memang bergabung dengan sekolah SMP. Karena itulah tiap kali Bella baru tiba selalu ia melihat salah satu pria yang memandanginya.
Sampai akhirnya Bella yang tidak bisa menahan rasa penasarannya bercerita dengan ketiga sahabatnya.
“Braakk.” Suara pukulan meja yang mengejutkan Bella dan kedua sahabatnya.
“Bel, kamu serius suka sama anak SMP?” tanya Gita yang tidak percaya mendengar cerita sahabatnya.
“Nggak ada salahnya, kan?” tanya Bella terlihat menaikkan kedua pundaknya dengan tangan yang mengekspresikan diri tidak bersalah.
“Bella, pacarmu kan banyak jadi jangan deh pacaran sama anak SMP.” lanjut Gita.
“Git, yah boleh aja dong. Kan dia juga seharusnya sekelas sama kita cuman gara-gara dia pindah kesini tanpa surat makanya jadi tidak naik kelas.” jelas Caca yang membuat Bella semakin bersemangat.
“Beneran, Ca yang kamu bilang barusan?” tanya Bella dengan antusiasnya.
“Iya Bella beneran, Yaudah kita bantuin deh kalo kamu memang suka tapi kasian kalo kamu buat mainan aja.” jawab Caca.
“Iya iya aku serius kok suka sama dia.” ucap Bella tersenyum memohon.
Akhirnya sepulang sekolah Bella dan ketiga sahabatnya menghampiri pria yang tengah duduk di kursi bersama temannya.
Caca, Gita, dan Vida memang sudah kenal dengannya jadi Bella tidak begitu kesulitan mendekatinya.
“Kita boleh gabung kah?” tanya Vida sambil tersenyum.
“Iya boleh kok.” jawab pria itu sambil membalas senyumannya. Sesekali matanya melirik ke arah Bella yang masih berdiri.
Tidak perlu berkenalan, sebenarnya mereka sudah saling tahu nama masing-masing. Karena sebelum Bella sekolah keluarga mereka sempat bekerja sama. Sampai akhirnya Brian bangkrut dan memilih menganggur beberapa tahun sementara keluarga pria itu masih tetap bekerja.
Namanya adalah Aldrich Jeff, ia adalah cucu tertua seorang pengusaha kayu. Keluarganya begitu kenal dekat dengan orang tua Bella. Wajahnya yang tampan membuat Bella tak bisa berhenti terus memikirkan Aldrich.
“Aldrich, kita boleh tidak minta nomor kamu?” tanya Vida dengan datarnya.
Aldrich yang mendengarnya tersenyum dan seketika ia menyebut nomor ponselnya. Setelah ketiga sahabat Bella memasukkan nomor ponsel pria itu kini Aldrich beralih memandang Bella.
“Kamu kenapa tidak minta nomorku?” tanyanya dengan santai.
Bella yang mendengar ucapan pria itu mendadak gugup, tubuhnya berkeringat dingin menahan malu. Bagaimana jika sebenarnya Aldrich mengetahui kalau Bella yang sebenarnya meminta nomor melalui ketiga sahabatnya.
“Eh tidak, mereka saja.” jawab Bella dengan gugupnya. Aldrich yang melihat ekspresi Bella hanya tertawa sambil memandangi keempat wanita yang sudah pergi meninggalkannya.
“Terus ini nomor mau di apain, Bel?” tanya Caca yang bingung.
“Sudah kalian hapus aja, biar aku yang simpan nomornya hehe.” jawab Bella dengan mudahnya.
Ketiga temannya saling melempar pandangan konyol. Mereka yang berusaha minta dan sekarang dengan mudahnya Bella menyuruh hapus nomor itu.
Setelah kejadian meminta nomor ponsel itu. Bella beberapa kali berbalas-balasan pesan dengan Aldrich. Beberapa hari mereka balasan pesan sampai akhirnya Aldrich menanyakan tentang Bella. Karena memang selama ini Bella mengaku sebagai Caca.
“Teman kamu yang namanya Bella itu kenala tidak menghubungiku?” tanya Aldrich dengan pedenya.
“Apa dia menanyakan aku astaga.” gumam Bella yang kegirangan saat membaca pesan dar Aldric sampai beberapa kali ia terus membaca pesan itu. Rasa tidak percaya menyelimuti fikiran gadis itu.
Tanpa bisa mengendalikan diri kini Bella mengakui dirinya. “Maaf yah Aldrich, sebenarnya ini aku Bella yang selama ini smsan sama kamu hehehe.” jawab Bella dengan gugupnya. Seketika detakan jantung terasa berdegup kencang tak beraturan.
***
Sampai suatu hari tiba libur panjang hari raya.
Bella merasa sedih karena tidak bisa sekolah dan melihat Aldrich lagi. Begitu banyak pesan masuk tetapi bukan dari Aldrich melainkan dari beberapa pacar Bella. Rasanya sama sekali tidak ia inginkan pesan masuk itu selain dari Aldrich.
Sayangnya Aldrich yang tampak sibuk dengan kerjaan orangtuanya tanpa menghiraukan pesan dari Bella. Setelah hari raya usai kini Bella kembali bertemu dengan Aldrich di sekolah.
“Bella, selamat hari raya yah.” ucapnya dengan mengulurkan tangan pada Bella.
“Eh iya Terimakasih yah.” jawab Bella dengan senangnya tersenyum lebar.
Aldrich yang membalas senyuman Bella kini pergi meninggalkan Bella bersama para sahabatnya.
“Ciehh Bella di samperin Aldrich.” ejek ketiga sahabatnya yang membuat Bella tersenyum malu. Kedua sekolahan yang tergabung itu tampak ramai membicarakan Aldrich yang sedang dekat dengan Bella.