Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Aku Tidak Melakukan Kesalahan



Sampai akhirnya hari yang benar-benar Bella takutkan kini pun tiba, Bella terlihat lemas memikirkan semua permasalahannya dengan sang Ayah. Namun, ia masih tetap harus menjalankan kewajibannya membereskan seluruh pakaian yang harus ia setrika di rumah itu.


Tentu Bella tinggal tidak dengan perlakuan yang memanjakannya. Itu semua Tante Nely lakukan demi mengajari Bella dan Tasya agar bisa mengurus rumah dengan saling membantu.


"Bella," panggil Tante Nely yang menghampiri Bella di kamar sedang menyetrika baju.


"Iya Tante, ada apa?" tanya Bella menatap sosok wanita cantik bertubuh gemuk itu.


"Di depan ada Ayahmu, cepat bersiaplah! katanya kau ingin di ajak ke rumahnya." ucap Tante Nely yang seketika membuat tubuh Bella bergemetar dengan lemasnya.


Bella terduduk di lantai ia tak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Tante Nely sadar dengan perasaan takut Bella saat ini. Ia melangkah mendekati Bella dan mengusap punggung Bella yang sudah terasa berkeringat.


"Tidak apa-apa, Bella. Tante yakin Ayahmu tidak akan menyakitimu." ucap Tante Nely yang tanpa sadar juga ikut meneteskan air matanya.


Bella tidak mengatakan apa-apa lagi selain beberapa kali terus mengusap air matanya dengan bajunya. Bella benar-benar takut menghadapai Ayahnya kali ini ia sangat ingin marah tapi jika mengingat perlakuan Brian selama ini padanya Bella sudah bisa membayangkan jika pria itu bisa kapan saja melenyapkan nyawanya.


"Ayo Nak, bersiaplah. Tante selalu doakan yang terbaik untuk Bella. Tante yakin Ayahmu tidak akan melukaimu demi perempuan itu." ucap Tante Nely yang ikut terdengar bergemetar.


Sementara Brian yang tidak turun dari mobilnya bahkan tidak mematikan mesin mobil itu beberapa kali membunyikan klakson mobil itu. Bella semakin tidak bisa menahan ketakutannya.


Dengan cepat ia mengganti bajunya. "Ya Tuhan, jika memang hari ini adalah hari terakhirku aku mohon tumbuhkanlah rasa cinta di antara kedua orangtuaku agar adikku tidak merasakan kesengsaraan yang aku rasakan." gumam Bella kembali menitihkan air matanya.


Setelah Bella selesai mengganti pakaiannya dengan cepat ia segera menyembunyikan ponselnya dan membawa ponsel satu saja yang di berikan oleh Brian. Bella pun masuk ke mobil dengan raut yang tidak bisa di jelaskan ada raut wajah takut dan ada juga kekesalan terlihat di dalam sana.


Di perjalanan Brian hanya terdiam begitu pun dengan Bella sepanjang jalan mereka tidak ada mengatakan apa pun sampai akhirnya Brian tiba di rumahnya. Bella turun tanpa di perintah ia segera masuk ke rumah berusaha terlihat marah dan kuat.


Dengan santainya Bella mendaratkan tubuhnya di sofa menunggu sang Ayah yang masuk ke kamar. Semua seakan mengingatkan Bella pada beberapa tahun yang lalu. Ketika Brian masuk ke kamar dan kembali mendekat pada Bella. Lalu menghajar Bella dan menggunting-gunting rambut Bella.


Brian pun tiba di hadapan Bella, ia duduk berjarak dengan anaknya. Kali ini Bella hanya berdiam menunggu perlakuan apa yang akan Brian berika padanya. Apakah benar yang Brian katakan akan mengusir Bella dari Kota itu? semua hanya Brianlah yang tahu.


"Kau benar-benar keterlaluan, Bella. Mengapa kau bisa membuat Dinar malu seperti itu?" tanya Brian yang sudah memulai pembicaraan.


Bella berusaha menahan air matanya ia hanya menatap keluar pintu tanpa mau mengatakan apa pun. "Aku tidak boleh lemah, aku tidak bersalah mereka yang bersalah harusnya mereka sadar dengan perlakuan mereka yang memalukan itu. Tenang Bella sekali pun kau berakhir hari ini kau sudah melakukan yang benar, mereka harus sadar dengan hubungan memalukan itu." gumam Bella yang kini sudah berani menatap Brian dengan tatapan tajamnya.


"Iya." jawab Bella singkat.


Brian yang berusaha menarik nafasnya dalam segera memanggil seseorang kepercayaannya di rumah itu. "Gus, kamu pergi ke rumah itu dan minta ponsel Bella." pintah Brian dengan sedikit berteriak.


"Ah syukurlah semuanya sudah sempat ku putuskan." gumam Bella yang merasa legah ketika ponselnya ingin di ambil oleh pria penjilat itu.


Iya dia adalah Agus salah satu pria yang selalu berada di samping Brian semenjak Brian mulai berhasil. Dan sebelum keberadaan Agus di sisi Brian ia memiliki kakak laki-laki bernama Salim. Kedua pria itu selalu bertingkah berlebihan di depan Brian demi mendapatkan semua fasilitas dan bantuan dari Brian.


Termasuk tempat tinggal hingga biaya hidup mereka terjamin. Tugasnya hanya selalu memuji Brian dan menyodorkan beberapa rekomendasi wanita. Kecuali Dinar, wanita itu adalah salah satu rekomendasi dari pemilik salon ternama di Kota tempat Bella sekolah.


Dan Salim juga selalu menjadi kepercayaan Brian dalam melakukan transaksi apa pun itu. Tanpa Brian sadari terkadang pria itu sering kali mengambil laba begitu tinggi, namun Brian tak pernah mempermasalahkannya bagi Brian uang adalah hal yang kecil.


Agus pun segera beranjak pergi dari rumah itu menuju rumah Tante Nely untuk mengambil ponsel Bella yang sudah Bella lepas memori cardnya. Dari beberapa hari setelah kejadian pertengkaran Bella dan Brian ia sudah membersihkan ponselnya dari seluruh pesan kekasihnya yang banyak dan termasuk foto-foto pria yang sering Bella dapatkan dari kekasihnya itu.


"Kau tahu, karena ulahmu Dinar mengamuk padaku dan beberapa kali ia ingin datang menyobek-nyobek mulutmu." lanjut Brian lagi.


Bella tidak menjawab dan hanya menatap semakin penuh amarah pada Ayahnya. "Andai itu benar terjadi aku akan lebih legah. Sayang dia tidak pernah muncul di hadapanku." gumam Bella yang begitu geram mendengar ucapan Ayahnya.


Brian fikir Bella selemah itu menghadapi wanita seperti Dinar, bagi Bella sekuat apa pun wanita lawannya selama Bella tidak bersalah ia sangat ingin melawannya.


"Kau tidak malu berkata seperti itu? kau sudah mempermalukan Ayahmu sendiri." ucap Brian yang terus mengomel.


"Andai kau tahu betapa malunya aku menjadi bahan bicara teman-temanku karena kalian berdua yang mempermalukan aku duluan. Lihat saja semua tidak akan sampai di sini, aku sudah cukup diam dan menurut semua perkataanmu." Bella yang terlihat menaruh dendam pada Ayahnya saat ini.


Namun entah apa di fikiran Brian saat ini, mengapa ia masih saja terus membela wanita malam itu. Apa dirinya tidak sadar seberapa terlukanya hati putrinya saat ini. Bella benar-benar terluka, mengapa Brian sama sekali tidak bersikap lembut untuk meluluhkan hati putrinya? bukankah kelahiran Bella yang sangat di tunggu-tunggu Brian sejak dulu? mengapa saat ini saat Bella sudah tumbuh dewasa justru ia sangat tidak mengenal sosok Ayah yang ada di hadapannya ini.


"Aku sungguh tidak mengenal sosok pria di hadapanku kali ini? kau benar-benar jauh dari yang ku tahu. Ayahku tidak pernah membela wanita lain selain anaknya. Kau bukan Ayahku lagi kau sudah benar-benar melukai hatiku. Aku tidak akan mau lagi menuruti semua keinginanmu."


"Sudah cukup semua sekolahku selama ini selalu mengikuti keinginanmu tanpa kau tahu betapa susahnya aku mengusahakan yang terbaik demi menyenangkan hatimu. Semua cita-citaku musnah karenamu, selama ini aku pasrah bahkan setiap kali kau pukul tubuhku aku tidak pernah lari. Aku tahu hanya dengan itulah kau bisa melampiaskan kekesalanmu dalam keluarga. Aku rela tubuhku biru dan luka-luka demi membuatmu puas memukulku. Tapi tidak untuk sekarang." Bella terus mencaci Brian dalam tatapan yang sudah berkaca-kaca itu.


Brian sama sekali tidak mau menatap wajah anaknya, ia hanya berbicara sembari memainkan ponselnya. Meskipun terlihat jelas wajah yang merah padam di raut pria paruh baya itu.