Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Bertemu Kembali



"Kau bisa ke tempat Mamah besok bawa Bella." ucap Brian yang menyodorkan tiket bus pada Kirana dengan wajah marahnya.


"Ada apa?" tanya Kirana yang bingung.


"Mamahmu sakit." jawab Brian dengan bergegas pergi tanpa menatap wajah istrinya.


Brian yang baru saja menerima telfon dari keluarga Kirana merasa berat membiarkan istri dan anaknya pergi di saat sedang ada masalah seperti ini. Tapi keadaan orang tua jauh lebih penting dari masalah mereka saat ini fikir Brian.


Akhirnya keesokan hari pun tiba, kini Kirana yang sudah bersiap berangkat dengan Bella tidak mengucapkan apa-apa pada Brian. Sementara Brian yang tiba-tiba mendekat ke arah Bella segera memeluk erat tubuh putrinya entah apa yang pria itu rasakan saat ini yang jelas ada rasa cemas. Namun kemarahannya pada Kira masih sangat besar sampai mereka masih tidak berbicara satu sama lain.


"Hati-hati sayang yah." ucap Brian yang mengelus rambut panjang Bella.


Terlihat wajah sedihnya saat di tinggal putrinya menaiki bus yang sudah siap untuk berangkat mengantarkan mereka ke tujuan.


Brian yang tinggal seorang diri di rumah hanya duduk di pintu sambil menyandarkan kepalanya pada tiang pintu rumah yang berdiri kokoh. Matanya menatap kosong dengan fikiran yang berlarian ke sana kemari entah apa yang membuat Brian tidak ikut untuk pulang ke kampung mertuanya.


Setelah lama Brian berdiam diri kini ia melangkah ke dapur untuk makan, meskipun Kirana sedang tidak bersapa dengan suaminya kewajiban tetaplah kewajiban baginya untuk menyiapkan makan Brian.


"Mengapa rasanya sangat tidak enak makan sendirian?" gumam Brian yang membayangkan tiap kali ia makan di temani Bella dan juga Kirana.


Tangannya terus berusaha untuk memaksa mulutnya makan saat ini ia hanya sendiri dan harus bisa menguatkan diri tentunya.


***


Di perjalanan Bella yang merasa lelah kini tertidur di kursi bus sendiri sedangkan Kirana di sampingnya hanya duduk sambil melamun. Fikirannya berkecamut dengan kepergian mereka di tengah-tengah permasalahan yang keluarganya hadapi. Rasanya sangat tidak legah ketika pergi sementara masalah di rumah belum selesai. Telebih lagi Kirana memikirkan Brian yang menyuruhnya pulang untuk menjenguk ibunya di saat keuangan mereka sedang susah.


Rasa bersalah Kirana timbul di dalam hati ia sudah begitu tega melukau hati suaminya dan setelah melukainya Brian tetap berbaik hati mengijinkannya pulang terlebih lagi Brian memberikan uang pada Kirana yang jumalahny pada saat itu lumayan besar. Brian khawatir jika nanti orang tua Kirana membutuhkan bantuan dana untuk ke rumah sakit.


Perjalanan yang sangat jauh mereka tempuh dalam waktu dua belas jam aga bisa sampai di tujuan keluarga Kirana. Bella yang selama perjalanan terus tertidur karena lelah membuat Kirana merasa lebih mudah untuk membawa putrinya kemana-mana. Selama perjalanan Bella sama sekali tidak pernah mengeluh tentu ia tahu orangtuanya sedang melewati masa-masa sulit dan tidak pantas rasanya jika ia mengeluh hanya karena masalah kecil.


Malam pun tiba kini bus yang Kirana tumpangi berhenti di pertengahan jalan sepertinya tampak mengambil seorang penumpang yang ingin naik. Penumpang itu seorang pria yang memakai topi dengan wajah menunduk dan sedikit tertutupi dengan topinya.


Matanya terlihat begitu tajam melirik satu persatu penumpang untuk mencari seseorang, setelah beberapa kursi ia lewati kini matanya tertuju dengan wanita yang tertidur menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bus.


"Kirana...Kirana." panggil seorang pria itu yang membangunkan Kirana dari tidur lelapnya.


Perlahan wanita itu membuka matanya dan mengusap-usap pelan kedua matanya agar terbuka dengan sempurna. Seketika mata kirana membulat dengan sempurna betapa terkejutnya ia ketika melihat kehadiran Jiko di hadapannya.


"Jiko?" suara Kirana yang sedikit berteriak.


"Sssssstt nanti Bella bangun." ucap Jiko yang memberi peringatan pada Kirana.


Akhirnya dengan pelan Jiko mengangkat tubuh mungil Bella agar duduk di pangkuannya dan ia duduk di sebelah Kirana. Bella masih belum juga terbangun sepertinya bocah kecil itu masih sangat mengantuk sampai tidak merasakan tubuhnya yang di angkat.


Kirana masih menunggu penjelasan dari Jiko bagaimana bisa ia sampai tahu Kirana berada di bus itu dan bagaimana ia bisa tahu jika Kirana sedang dalam perjalanan. Akhirnya Jiko menceritakan semua.


Falshback on


"Jiko, cukup kau sangat keterlaluan. Kau membuat kami semua malu dengan perlakuanmu bsia-bisanya kau membuat hubungan terlarang dengan istri Brian apa yang ada di dalam otakmu itu?" Kakak wanita Jiko terus marah tanpa memperdulikan permohonan adiknya.


"Iya Kak, aku salah justru itu biarkan aku kali ini meminta maaf pada Kirana." jawab Jiko.


"Kalau kau salah, bukannya minta maaf pada wanita itu tapi pada Brian." bentak Kakak Jiko yang sudah sangat emosi.


Jiko yang tanpa mau menyerah terus memohon dan berusaha meyakinkan Kakak perempuannya agar mau membantunya untuk yang terakhir kalinya. Kakaknya yang mendengar ucapan adiknya begitu serius akhirnya luluh dan mau membantunya.


"Baiklah, tapi kali ini saja." jawab Kakak Jiko.


Akhirnya mereka berdua mengatur rencana untuk menghubungi Brian dan Kakak Jikolah yang pertama bicara.


"Halo, Brian." ucap Kakak Jiko dengan suara sedikit panik.


"Iya ini siapa?" tanya Brian.


"Ini Kakak, mau mengabari jika Mamah sedang sakit keras dan bisakah kau menyuruh Kirana untuk kemari?" tanya Kakak Jiko.


Brian yang mendengarnya merasa khawatir dan sedikit bingung mengapa semuanya kebetulan seperti ini di saat rumah tangga mereka sedang menghadapi masalah besar justru keluarga istrinya sedang ada masalah juga. Cukup lama Brian berdiam sampai akhirnya ia tersadarkan dengan suara di seberang telfon itu.


"Brian." ucap Kakak Jiko.


"Iya Kak, baik Kak besok saya suruh Kirana pulang." ucap Brian dengan cepat.


Flashback off


"Jadi tentang Mamah yang sakit itu semua tidak benar?" tanya Kirana yang terkejut.


Jiko hanya mengangguk dan menatap Kirana dengan dalam ia sekali lagi meminta maaf karena membuatnya susah. Kali ini ia ingin bertemu untuk yang terkahir kalinya pada Kirana karena itulah ia rela berbohong lagi.


Namun tanpa Jiko sadari kebohongannya kali lagi-lagi membuat Bria harus membuang-buang uang karena berfikir keluarga Kirana sangat dalam masalah. Brian berusaha keras untuk mencari pinjaman uang kesana kemari demi memberikan Kirana pegangan takut jika di keluarganya sedang kesulitan uang.


Setelah cukup lama mereka berbicara Bella yang baru saja terbangung menatap ke samping untuk memastikan ibunya masih ada bersamanya. Setelah ia memastikan keberadaan ibunya kini tatapannya kembali ke tangan yang melingkar di perut Bella.


"Tangan pria? siapa ini?" gumam Bella yang merasa bingung.


Karena seingat Bella ia tidur tidak ada pria yang duduk bersamanya, akhirnya ia menatap ke arah belakangnya dan matanya terkejut tidak percaya melihat sosok Paman Jiko.


"Paman." ucap Bella pada Jiko.


"Hai cantik, kau sudah bangun rupanya." jawab Jiko dengan ramah.


Bella hanya tersenyum dan terus berfikir keras mengapa bisa ada pria itu bersama mereka dengan tiba-tiba bukankah kata Ibunya terkahir kali jika Pamannya tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Bella merasa sangat bingung sebenarnya ada perasaan sedih ketika ia meninggalkan Ayahnya.


Brian yang selalu kasar pada Bella tetap menjadi Ayah yang di sayangi Bella rasa tidak tega bocah kecil itu sangat besar pada Ayahnya.