Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Ancaman Mengusir



Setelah kejadian hari itu Bella terus menjalani hari-hari dengan berita tentang Ayahnya. Rasanya benar-benar membakar hati Bella, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur menyebar.


“Apa yang harus ku lakukan saat ini? Aku tidak ingin jika Ayah terus melakukan hal seperti ini.” gumam Bella.


Seketika tangannya meraih ponsel dengan tatapan liciknya. Gadis itu mengetik sebuah kata cacian hinaan tentang Dinar. Setelah selesai mengetik begitu panjangnya, Bella segera memposting di sosial media.


“Mampus kamu Dinar, sekalian jadi malu kan?” ucap Bella tertawa.


Seketika beberapa teman Bella mengirimkan balasan komentar. Banyak yang tertawa dan banyak juga yang merasa penasaran ada apa Bella dengan Dinar. Mengapa ucapan Bella begitu kasar.


“Bella, kamu serius bikin malu dia?” tanya Tesa tidak percaya melihat postingan Bella.


“Menurutmu aku bercanda? hehehe.” jawab Bella tampak kegirangan.


Sampai keesokan harinya tiba-tiba Brian menghubungi Bella.


“Ayah menelfonku?” gumam Bella tampak ketakutan.


Segera tangan gadis itu meraih ponsel dan menjawab panggilan dari Brian.


“Kau anak kurangaj*r beraninya kau menghina Dinar! Apa maumu hah? Tunggu besok lusa saya kesana akan ku usir kau breng**k!” Teriak Brian dari seberang telfon yang begitu mengejutkan Bella.


Suara sambungan telfon kini sudah terputus. Bella yang tampak syok menangis di duduk kasurnya. Ia menggelengkan kepala tidak percaya jika yang berbicara padanya adalah Ayahnya sendiri.


“Tidak, ini bukan Ayah yang bicara padaku. Aku tahu Ayah tidak mungkin mengatakan hal itu padaku. Ayah lebih sayang padaku dari pada wanita itu, aku tidak percaya ini.” ucap Bella terus meyakinkan dirinya.


Perkataan Brian terus terngiang di kepala Bella, semua benar-benar di luar dugaan. Baru kali ini ada yang melebihi kasih sayang Brian pada Bella.


“Dinar, apa yang sudah kau perbuat dengan Ayahku?” ucap Bella dengan geramnya.


Bella yang bingung harus bicara pada siapa lagi akhirnya memilih menelfon Kirana.


“Ayah, Bu...Ayah ingin mengusir ku.” ucap Bella sembari menangis.


Kirana yang mendengarnya begitu terkejut. “Hah mengusirmu? Ada masalah apa memangnya?”


Bella pun menjelaskan pada Kirana jika ia baru saja mempermalukan wanita itu, dan Ayahnya tidak terima perlakuan Bella.


“Bella, Ibukan sudah bilang jangan lakukan apa pun. Biarkan Ayahmu senang di luar sana.”


“Bu, Bella malu. Semua teman Bella membicarakan Ayah dan wanita itu.” bantah Bella lagi.


“Lalu bagaimana sekarang? Ibu tidak bisa menemanimu selalu di sana. Ayahmu pasti akan kesana menemuimu.” Kirana begitu khawatir.


Tentu ia tahu semarah apa Brian kali ini karena Bella sudah berani mengusik hidupnya dan wanita itu.


“Bella cuman mau Ayah berhenti bertingkah seperti itu, Bu. Setidaknya jangan sampai teman-teman Bella tahu. Bella malu menjadi bahan bicara teman-teman Bella di sekolah.” jelas Bella lagi.


Kali ini Bella sudah tampak pasrah jika memang Ayahnya tidak bisa meninggalkan wanita itu. Tapi setidaknya Brian jangan menampakkan hubungannya di luar.


Semua tentu sangat merugikan Bella, Dinar adalah gadis sepantaran Bella. Bagaimana pun mereka pasti berada di lingkungan yang sama saat ini.


Setelah Bella cukup lama berdebat yang tidak ada artinya dengan Kirana akhirnya ia memilih untuk menyudahi komunikasi itu. Bella butuh waktu untuk istirahat setidaknya sebelum Ayahnya datang membawanya pergi.


Bella terus menangis di kamar, rasanya tidak percaya mendengar ucapan Brian sekasar itu padanya. Dimana Ayah yang selalu menasihatinya, dimana Ayah yang selalu menyayanginya lebih dari apa pun meski sering kasar.


Bella sungguh tidak percaya dengan kehidupannya saat ini. Brian sudah benar-benar berubah jauh dari yang Bella kenal.


Ayah yang selalu bersifat bijaksana dan mengatakan tidak suka bermain wanita. Selalu menasihati orang yang sudah berumah tangga. Dan nyatanya saat ini justru Brian lah yang bermain dengan wanita murah*n seperti Dinar.