Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Ini Adalah Karma



Setelah beberapa lama kemudian tibalah Agus dengan wajah datarnya. Ia masuk ke dalam rumah lalu memberikan ponsel Bella pada Brian.


Brian segera memeriksa ponsel Bella dengan nafasnya yang memburu. Seakan tampak sedang menahan emosinya. Bella hanya terdiam menatap wajah sang Ayah.


“Periksa saja, sudah tidak ada apa-apa lagi di sana.” gumam Bella tertawa dalam hati.


Brian yang meminta Agus untuk mengantarkan Bella kembali ke rumah Tante Nely kini segera melangkah ke kamarnya tanpa memberikan ponsel itu lagi pada Bella.


Di perjalanan Bella hanya terdiam tanpa mau bicara sekata pun pada Agus.


“Dasar penjilat!” tutur Bella dalam hati.


Sesampainya di rumah Tante Nely, Bella enggan mengatakan Terimakasih dan segera masuk ke rumah.


Hanya satu informasi yang Bella dapatkan, bahwa Ayahnya sudah tidak lagi berhubungan dengan Dinar. Mereka sudah beberapa bulan tidak berpacaran.


“Sudahlah mulai saat ini aku tidak ingin lagi perduli dengan Ayahku. Dia sangat jahat dia bukan Ayahku lagi. Aku sungguh tidak mengenalnya sudah.” ucap Bella yang membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menutup matanya karena lelah dengan semua ini.


“Bella.” Suara Tante Nely yang perlahan masuk ke dalam kamarnya.


Bella segera bangun dari tidurnya. “Tante.” sahut Bella.


“Bagaimana? Apa kau tidak di apa-apakan dengan Ayahmu?” tanya Tante Nely penasaran.


“Tidak, Tante. Hanya ponsel Bella saja yang di sita. Tapi tidak apa, Bella juga masih punya ponsel satunya kok.” seru Bella seraya meraih ponselnya dan memperlihatkan pada Tante Nely.


“Yasudah kalau begitu kau jangan terlalu memikirkan hal itu yah. Sekarang coba kabari Ibumu. Dia pasti sudah sangat khawatir.” pintah Tante Nely.


Bella pun segera menghubungi Kirana, “Bella, apa kau baik-baik saja?” tanya Kirana cemas.


“Iya, Bella baik-baik saja. Ibu tidak perlu cemas sekali pun Ayah membunuh Bella, Bella rela kok.” tutur Bella yang segera di bentak oleh Kirana.


“Bella hentikan perkataanmu itu! Ibu tidak suka yah kau bicara seperti itu.” ucap Kirana dan segera Bella pun mengakhiri panggilan itu.


Tante Nely yang mendengar obrolan Bella kini mendekat pada Bella.


“Bella, Tante boleh kasih masukan pada Bella?” tanya Tante Nely lembut.


“Iya Tante.” jawab Bella.


Nely pun segera memberi nasehat pada Bella agar tidak bertutur kata kasar pada orangtuanya. Sekalipun lada Ayahnya namun Bella yang enggan menuruti beberapa kali di bujuk oleh Tantenya itu.


Sampai akhirnya Bella pun mengiyakan ucapan Tante Nely. Bella yang ditinggalkan oleh Tante Nely segera beristirahat.


Setelah kejadian itu, Bella tidak lagi mendengar gosip Ayahnya dengan Dinar. Meskipun beberapa kali ia mendengar nama-nama yang terus di sebut-sebut menjadi wanita simpanan Brian.


Sungguh telinga Bella terus memanas setiap kali mendengar ucapan dari teman-temannya. Kirana yang sibuk mengurus adiknya Bella di rumah mulai terbiasa dengan sikap Brian yang suka seenaknya sendiri.


Setiap waktu Brian hanya menyusahkan waktunya di rumah sekitar satu sampai dua minggu saja. Selebihnya ia selalu tinggal di rumahnya yang satu Kota dengan Bella.


Kirana kini mulai membuat usaha toko sembako yang bermodal masih sangat minim. Namun berkat usaha kerja kerasnya Kirana mampu membuat toko sembako nya berkembang begitu pesat.


Hingga wanita itu lupa dengan permasalahan rumah tangganya. Bella pun yang semakin bebas hanya dengan perhatian Tante Nely dan suaminya masih tak cukup mampu mengendalikan gadis itu.


Meskipun Tante Nely dan suaminya tidak tahu jika Bella terus-terusan bolos dari tempat lesnya.


Setiap hari usai Bella menyelesaikan pekerjaan rumahnya, ia pun segera bersiap jalan hingga malam jam delapan baru pulang. Tante Nely sangat tidak mempermasalahkan jika Bella jalan.


Karena pekerjaan di rumah Tante Nely sangat membuat Bella sulit untuk berangkat sekolah pagi dan istirahat siang.


Brian yang sudah membeli sebuah penginapan membuat Bella sangat ingin tinggal di sana.


Sejak lama ia memendam keinginannya sampai suatu hari ketika Bella sudah menduduki kelas 3 SMA ia kembali membujuk Kirana agar memindahkannya ke penginapan milik Ayahnya.


Brian merasa berat jika Bella tinggal di penginapan itu. Namun Kirana yang mengerti dengan fisik Bella yang lemas akhirnya Brian menyetujui anaknya pindah rumah.


Sejak Bella tinggal di tempat itu ia sama sekali merasakan enaknya hidup yang tidak ada mengawasinya. Hingga Bella setiap malam minggu bisa jalan bersama teman-temannya.


“Itu Ibu sudah kirimkan uang untukmu beli ponsel baru.” Suara Kirana dari seberang telfon Bella.


Yah Bella selama ini hanya memakai satu ponsel sejak ponsel satunya di sita dengan Brian.


“Iya Bu, Terimakasih.” jawab Bella dengan senangnya.


Bella pun mulai menyalin beberapa nomor ponsel teman-temannya. Termasuk nomor ponsel salah satu gebetannya yang di kenalkan dengan teman sekelas Bella.


Selama proses dekatnya Bella dengan Wely, Bella benar-benar berniat serius tanpa mau dekat dengan pria lain.


Beberapa bulan mereka berpacaran sama sekali tidak ada masalah. Namun suatu ketika Bella mendapat pesan dari salah seorang wanita yang tidak ia kenali.


“Ini Bella?” tanyanya dengan ketus.


“Iya, ini siapa?” Bella bertanya kembali.


“Aku kekasihnya Wely, kau jangan dekati kekasihku lagiyah. Atau mengganggunya sekali pun!” seru wanita itu.


Bella tercengang dan dadanya saat itu juga terasa sangat sesak. Air matanya berjatuhan mendengar ada wanita lain yang memiliki hubungan dengan Wely.


Bella terduduk lemas ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bella yang sudah mengakhiri panggilan itu segera menghubungi Wely.


“Halo sayang. Ada apa?” tanya Wely bicara dengan santainya.


“Kau jahat! Kau selingkuh dariku yah? Apa maksudmu seperti ini?” Bella berteriak tanpa bisa mengendalikan emosinya lagi.


Wely terdiam sesaat. “Bella kau bicara apa?” tanya Wely.


“Kau jahat! Kau brengs*k! Aku membencimu Wely. Aku sudah begitu setia padamu lalu apa yang kau lakukan padaku? Barusan selingkuhanmu menghubungiku.” tutur Bella sembari menangis terisak.


Wely yang terkejut karena mendengar Bella sudah di hubungi dengan kekasihnya akhirnya mengakui perbuatannya.


“Iya Bella, maafkan aku.” ucap Wely dengan tenangnya.


Bella yang begitu sakit hati tampak tidak terima dengan ucapan Wely. Bagi Bella ia adalah satu-satunya pria yang mampu merubah pandangan Bella pada pria.


Namun mengapa Wely begitu tega menghianatinya kali ini. “Kau keterlaluan aku tidak bisa terima ini, Wely. Kau jahat padaku, selama ini aku begitu percaya denganmu.” tangis Bella pecah di sambungan telfon itu.


“Bella, ini semua bukan salahku. Anggap saja ini sebuah karma yang kau dapatkan dari perlakuan Ayahmu. Kau jangan lupa, Ayahmu adalah pengoleksi wanita di Kota ini. Kau fikir aku tidak tahu itu?”


Bella yang bergemetar tubuhnya benar-benar tidak menyangka jika kekasihnya bisa setega itu padanya. Bella tak sanggup lagi mengatakan apa-apa pada Wely.


Semua yang pria itu katakan benar adanya. “Tidak... ini tidak benar. Mengapa harus aku yang menerimanya? Aku tidak mau, aku tidak mau.” gumam Bella seraya terus menangis dan mengakhiri telfonnya seketika.