Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
End



Bella begitu bersemangat untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia ingin segera bekerja agar bisa mendapatkan kehidupan sendiri tanpa bayangan keluarganya lagi. Sebisa mungkin Bella hidup berjauhan dengan orang tuanya. Setidaknya meski ia selalu menderita karena rindu keluarga, itu akan jauh lebih baik dari pada selalu mendengar keributan di rumah.


Hubungan kedekatan Bella dan Aldrich sudah menginjak usia dua minggu. Mereka tak pernah henti untuk selalu berkomunikasi. Bella begitu senang dengan perlakuan Aldrich padanya.


Mantan yang masih ia cintai, kini telah menjadi seorang polisi. Aldrich memang pria pekerja keras tak heran jika dirinya bisa mendapatkan jabatan menduduki dua puluh besar saat itu.


Perjalanan singkat komunikasi keduanya kembali membuat Aldrich ingin menjalani hubungan lagi dengan Bella.


Saat itu, siang hari tepatnya di waktu jam istirahat Aldrich yang tengah bertugas ia mengirimkan pesan lagi pada Bella.


"Bella, aku ingin menelpon. Bolehkah?" tanya Aldrich.


Bella yang begitu girangnya saat membaca pesan seketika tertawa dengan membungkam mulutnya. Karena ia sadar jika dirinya kini tengah berada di parkiran kampus.


Teman-teman Bella menatap penasaran. "Kamu kenapa Bella?" tanya Fiva.


"Eh tidak, Fiv, ayo kita pulang cepat." ajak Bella buru-buru mengeluarkan motornya.


Bella tinggal satu kos dengan teman kuliahnya. Namanya Fiva dan Ika. Keduanya sangat tahu bagaimana kehidupan Bella sebelum bertemu dengan mereka.


Meski sempat syok, namun bagi Fiva dan Ika itu hanya sebuah masa lalu. Tidak perlu di bahas lagi. Sungguh Bella benar-benar beruntung mendapatkan teman seperjuangan yang begitu baik dan pengertian.


Jarak yang tidak jauh kini usai mereka tempuh. Bella segera berlari masuk ke kamarnya. Tanpa mengganti pakaian ia segera membalas chat dari Aldrich.


"Eh iya boleh kok. Aku baru sampai di kos, Ric." balasnya.


Tak butuh waktu lama Aldrich pun menelepon Bella. Bukan telepon lebih tepatnya sebuah panggilan video. Wajah Bella terlihat tersenyum lebar. Ia sangat senang melihat wajah mantan kekasihnya itu.


Aldrich tentu tidak suka basa basi. Ia langsung to the point.


"Bella, aku mau jadi pacar kamu? apa kamu mau kita bareng lagi?" tanyanya dengan wajah serius. Mata Bella mendadak membulat sempurna.


Wajahnya merah merona, perkataan yang sangat membuat detak jantung Bella tak karuan. Namun keraguan juga masih terlihat jelas di sana. Bella takut. Takut jika akan kecewa lagi.


Selain kecewa dengan perlakuan Aldrich nantinya, ia juga takut akan di tentang oleh sang Ayah. Bella sungguh tak sanggup jika harus merasakan sakit hati lagi.


"Aldrich, apa kamu serius? atau hanya sekedar untuk berpacaran?" tanya Bella ragu.


"Aku serius, Bella. Aku ingin kita menjalani hubungan lagi. Aku janji kita akan bahagia." terang Aldrich.


"Aku takut, apa kamu bisa terima semua keadaanku? apa kamu tidak bercanda sekarang? apa kamu justru sedang ingin balas dendam karena aku dulu pernah mempermainkan kamu?"


Tatapan bahagia Bella kini berubah menjadi padam. Ia terlihat sedih, takut jika akan memulai kehidupan namun nyatanya akan membawa luka baru sementara luka lamanya belum sembuh.


Bella tak ingin Aldrich menambah beban pikirannya. Cukup sudah Bella merasakan penderitaan ketika anaknya terpisah dengannya saat ini.


"Bella, kamu tahu aku seperti apa kan? aku tidak mungkin mau mempermainkan kamu. Aku mohon percaya dengan ku Bella. Aku sudah menerima semua masa lalu mu. Aku sudah pikirkan semuanya ke depannya."


Bella masih tak goyah dengan rasa bimbangnya. "Lalu bagaimana dengan agama kita? kita beda agama. Dan asal kamu tahu Aldrich, saat ini aku tidak ingin berpacaran. Sudah cukup semua masalah hidup ku. Aku ingin mencari yang benar-benar serius denganku dan bisa menerima ku."


Tanpa bisa menahan lagi, buliran bening lolos begitu saja di wajah Bella. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa kali ini. Aldrich sungguh menunjukkan sisi ketulusannya. Penyesalan yang tiada akhir semakin membuat Bella tersudut. Anda waktu bisa di ulang Bella ingin sekali menjadi wanita yang baik.


Kini penyesalan tinggallah sebuah penyesalan. Tak ada yang akan mampu mengembalikan seperti semula lagi.


Bella ingin menjadi wanita yang menjaga kehormatan, ia ingin menjadi anak kebanggaan kedua orangtuanya. Meski penuh dengan kekerasan, Bella ingin tetap menjadi anak yang selalu di banggakan oleh sang Ayah.


Kini untuk mendekat pada Brian pun, Bella tak berani. Bukan semata karena ketakutan. Tapi karena ia sadar jika dirinya sungguh anak yang begitu hina. Ia sudah melemparkan kotoran pada wajah kedua orangtuanya secara tidak langsung.


"Hey... mengapa jadi menangis? aku sungguh mencintaimu, Bella. Aku akan berusaha untuk kita tetap bersama sampai menikah. Tunggu aku bisa cuti yah? aku langsung ke rumah minta persetujuan orangtua mu."


"Tapi orangtuaku pasti mau aku selesai kuliah dulu, Ric."


"Iya aku paham. Setidaknya mereka merestui hubungan kita. Setelah kuliah mu selesai kita langsung nikah. Oke?"


Bella tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Apa itu tandanya kau menerima ku?" tanya Aldrich begitu antusias.


"Belum, tunggu aku memikirkan semuanya dulu yah. Ini keputusan yang harus aku pertimbangkan. Dan aku minta kamu juga pikirkan baik-baik. Aku minta kamu bisa memegang ucapan yang kamu katakan nantinya.


***


Dua hari setelah itu, Aldrich kembali menanyakan tentang jawaban yang nantikan dari Bella. Pria itu kembali menghubungi Bella.


"Iya, halo." sahut Bella.


"Bagaimana, apa kamu sudah pikirkan semuanya?" tanya Aldrich tampak tidak sabaran.


"Apa kamu bisa berjanji serius denganku? aku takut harus sakit hati lagi." terang Bella.


"Pegang kata-kata ku, Bella." jawab Aldrich


"Oke, Ric. Aku terima. Aku tunggu kedatangan kamu di rumah sama orang tua ku yah?"


"Yes...kita pacaran kan? Oke Bella doakan aku bisa dapat cuti secepatnya yah. Semoga kamu juga pas lagi libur jadi kita bisa ketemu di rumah kamu.


"Iya, Ric. hehehe."


Keduanya saling berpandangan lagi di layar ponsel. Hubungan yang sejak lama tak berkaitan kini kembali terjalin. Meski begitu banyaknya halangan keduanya bersepakat untuk tetap berusaha mempertahankan hubungan mereka sampai ke pelaminan.


Semoga Aldrich satu-satunya pria yang bisa membuat Bella akan merasakan kehidupan yang sesungguhnya tanpa ada masalah yang akan mengguncang batinnya lagi.


Semoga Aldrich bisa menerima dengan baik kehadiran Mika di tengah-tengah hubungan mereka.


Semoga Brian bisa memberikan persetujuan untuk putrinya yang telah banyak menjalani pertentangan dengannya.


Dan semoga keluarga Aldrich bisa menerima masa lalu Bella kelak.


Semoga Mika bisa kembali di rebut oleh Bella dari keluarga Beren yang berupaya membuat nama Bella tak di kenal dengan anaknya sendiri.