Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Permintaan Putus



"Apa pun yang orang katakan padamu, aku tetap memperjuangkan hubungan kita, Bel." gumam Aldrich sambil mengelus rambut panjang Bella.


Bella yang tampak gelisah keluar masuk kamar meninggalkan Aldrcih membuat pria itu bertanya-tanya. Apa yang Bella lakukan sebenarnya mengapa begitu terlihat gelisah sekali. "Ada apa, Sayang?" tanyanya yang tidak bisa menahan diri lagi.


"Em, itu aku dari tadi kebelet pip*s terus hehe." jawab Bella berbohong.


Mendengar jawaban Bella Aldrich hanya mendengus kasar, ia seperti mencurigai sesuatu tapi rasanya untuk ribut sangat membuatnya takut kehilangan Bella. Akhirnya ia memilih bungkam demi menjaga hubungan yang sangat ia harapkan. Bella merasa ada yan Aldrich sembunyikan darinya, tapi untuk menanyakan sungguh Bella tidak memiliki keberanian. Tentu ia berfikir jika Aldrich akan menanyakan hubungannya pada pria selingkuhannya.


Cukup lama hubungan mereka berjalan baik-baik saja meskipun satu sama lain sama-sama tahu jika ada kebohongan di balik hubungan mereka. Bella yang terus di desak oleh sahabat-sahabatnya merasa tidak tega terus membohongi Aldrich.


"Sayang, apa kita bisa bicara?" tanya Bella melalui pesan singkatnya. Aldrich yang mendengar hal itu merasa takut akan hubungan mereka. Ia selama ini terus memilih berpura-pura bodoh demi menjaga hubungannya dengan Bella.


"Sayang, aku lagi sibuk bantu keluarga." Aldrich berusaha menghindar dari Bella.


"Yasudah, kalau begitu besok pulang sekolah saja. Kali ini aku tidak mau kau menolak lagi." ucap Bella yang memaksa Aldrich.


***


Hari yang di nanti Bella pun tiba, namun sebaliknya adalah hari yang paling Aldrich takutkan. Semua mungkin memang sudah jalannya. Bella yang begitu terlihat gelisah menunggu Aldrich menemuinya kini menangkap sosok pria tampan yang mendekat ke arahnya.


"Apa aku benar-benar harus memutuskannya?" ucap Bella dalam hati. Sementara Aldrich yang terlihat berusaha tersenyum saat mendatanginya kini sudah berdiri tepat di hadapan Bella.


"Ada apa, Sayang? kau kangen yah?" Aldrich berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.


Belum sempat mengatakan apa-apa lagi Bella sudah lebih dulu mengatakan tanpa basa basi. "Aku mau kita putus." ucap Bella yang sukses tidak mengejutkan Aldrich. Pria itu terlihat menarik nafas dalam seakan ingin membuat semuanya bisa berjalan dengan baik.


"Apa alasannya kok minta putus, sih?" tanya dengan sabar. Bella yang melihat ekspresi Aldrich begitu tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya lagi. Ia hanya terdiam menunduk mencari alasan yang masuk akal.


"Kita tidak bisa sama-sama kita berbeda agama." jelas Bella berbohong.


Bella tidak bisa lagi menjawab, ia hanya terdiam seribu bahasa. Bibirnya bergetar berusaha menahan sakit di hatinya. Ia tidak bisa melepaskan Aldrich namun rasa tidak percayanya pada pria membuatnya harus melepaskan Aldrich. Bella tidak ingin terus menerus membohongi pria yang ia sayang.


"Aku tahu Sayang, kau memutuskan aku karena pria itu kan?" tanya Aldrich dengan yakinnya.


Bella lagi-lagi tidak menjawab, ia hanya terus berdiam fikirannya sudah tidak bisa lagi ia gunakan untuk berfikir. Ucapan apa lagi yang harus ia lontarkan jika keadaan sudah seperti itu. "Maafkan aku." ucapnya dengan lirih.


"Aku sayang sama kamu, Bella." lanjut Aldrich terdengar begitu tulusnya.


Bella yang tak kuasa mendengarnya segera berlari pulang meninggalkan Aldrich seorang diri, pria itu terlihat menunduk sedih. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa saat ini, Bella sama sekali tidak memberinya kejelasan apa-apa lagi.


Aldrich yang terdiam cukup lama kini memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan menghubungi Bella lagi melalui telfon. Ia benar-benar menyayangi gadis cantik itu, Aldrich yakin hubungan mereka bisa di pertahankan jika Bella mau memperbaiki semuanya.


Bella yang menangis di kamarnya membayangkan wajah Aldrich begitu merasa bersalah. Tapi hal itu tak bisa menutupi perasaan ragu Bella pada pria mana pun termasuk Aldrich.


"Aku tidak ingin menyakitimu, Aldrich. Biarkan kita berjalan masing-masing lagi." ucap Bella dalam hatinya.


Sementara Aldrich yang baru saja tiba di rumahnya tanpa melepaskan seluruh pakaian sekolahnya ia segera mengambil ponsel di lemari. Tangannya bergemetar ketika melihat nama kontak Bella, ada perasaan ragu ingin menghubungi kekasihnya namun hal itu tentu tidak akan bisa di biarkan begitu saja.


"Ada apa denganmu?" tanya Mama Ros pada Aldrich yang membuat tubuh pria itu seketika terkejut.


"Mamah, ti-dak ada apa-apa." jawab Aldrich dengan cepatnya.


 


Mamah Ros yang melihat wajah cemas putranya seperti bisa mengetahui ada hal tidak baik terjadi pada putranya. Tatapan mata seorang ibu tidak akan pernah bisa di bohongi,namun ia menyadari jika Aldrich bukanlah pria yang mudah kalah apa pun yang terjadi ia pasti akan bisa menyelesaikan semunya dengan baik.


"Mamah yakin kau pasti bisa menemukan yang terbaik, Nak." ucapnya dalam hati.