Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Hari Menyakitkan



Perjalanan Bella begitu singkat, sampai tiba hari di mana ia melahirkan di salah satu klinik di temani dengan pelayan yang bekerja sekaligus menjaganya di rumah Brian selama masa hamilnya.


Tidak berjarak begitu jauh dari hari di mana Beren di putuskan menjalani hukuman selama enam tahun tiga bulan. Semua benar-benar ujian terberat Bella dan Beren untuk mempertahankan hubungan mereka meski cintanya terhalang dengan jeruji besi.


Tepat pukul sepuluh malam, Bella merasa perutnya sangat sakit.


"Bibi, perut Bella sangat sakit." ucapnya pada pelayan yang masuk ke kamarnya untuk mengantarkan Bella susu.


"Jangan-jangan Bella mau lahiran? sebentar Bibi beritahu Ayah Bella dulu yah di depan."


Pelayan itu sudah tampak panik melihat Bella yang gelisah di tempat tidur. Di luar Brian tengah asyik bermain judi dengan beberapa temannya tanpa perduli dengan kehamilan anaknya.


Selama itu Bella terus menyaksikan suasana gaduh di dalam rumah Ayahnya, pagi hingga tembus pagi lagi Brian selalu mengumpulkan banyak pria mau pun wanita di rumah itu untuk bermain kartu.


Sedih, sungguh Bella sedih melihat lingkungannya saat itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, Brian satu-satunya yang berkuasa di rumah itu.


"Ya Tuhan, hari ini sungguh seperti mimpi terburuk yang pernah ada di hidupku. Aku sudah akan melahirkan tapi Beren di dalam sana. Apa benar aku akan melahirkan tanpa ada yang mendampingi ku?" gumam Bella terus menangis di dalam kamarnya.


Bukan sakit perut yang membuat dirinya menangis, tapi keadaannya yang sangat-sangat menyedihkan membuat dirinya begitu terpuruk.


"Bella, ayo Bibi antar ke klinik sama supir." ajak pelayan itu dan segera menuntun Bella keluar kamar.


Di depan kamar Bella sudah banyak yang melihatnya, namun mereka seperti biasa enggan berkomentar karena takut dengan Brian.


Semua tahu bagaimana sikap kasar Brian pada orang lain mau pun keluarga sendiri.


Bella hanya membawa ponsel di tangannya tanpa membawa apa pun.


"Bella yang sabar yah Nduk, Bibi tidak kuat liat Bella seperti ini. Bella harus kuat lahirannya yah. Bibi benar-benar kasihan pada Bella." ucap pelayan itu memeluk tubuh Bella selama di perjalanan menuju rumah sakit.


Bella hanya bisa membalas pelukan Bibi tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu sakit, sakit sekali. Tak ada lagi harapan atau apa pun yang bisa membuat Bella semangat untuk melanjutkan hidupnya.


Bagi Bella selama ia berada dekat dengan Ayahnya tentu semua hidup akan selalu berada di bawah kendali Brian.


Suasana menyedihkan itu tiba-tiba buyar saat ponsel Bella berdering.


Bella melihat ponsel miliknya. "Ibu," ucap Bella segera mengangkat telpon dari Kirana.


Setelah sidang mereka di pengadilan sebagai saksi orangtua korban, Kirana memutuskan untuk pulang kembali dan meninggalkan Bella pada Brian. Karena bagaimana pun Kirana memiliki tanggung jawab atas toko yang ia miliki.


"Bella, kata Ayah kamu mau lahiran?" tanya Kirana.


"Iya, Bu." jawab Bella singkat.


"Kenapa tidak bicara dengan Ibu? tadi siang Ibu telpon kamu, tapi katamu masih belum terasa apa-apa." Suara panik Kirana terdengar dari seberang telepon sana.


"Beri kabar Ibu nanti, besok Ibu segera berangkat pagi-pagi yah."


Sambungan telpon pun berakhir, kini Bella sudah tiba di rumah sakit. Bella sudah mengirimkan pesan pada Ibu Beren.


Kedua orangtua Beren pun tiba di klinik bersalin itu. Mereka tampak antusias menemani Bella selama menjalani masa persalinannya. Satu malaman Bella terus merasakan sakit di bagian punggungnya.


Ia menangis entah tangisan itu mengarah karena rasa sakit di tubuhnya atau di hatinya. Semua benar-benar menyiksa Bella.


Bella tidak tahu harus melakukan apa setelah ini, bagaimana dengan permintaan keluarga Beren atas anaknya. Sungguh Bella sangat tidak menginginkan hal itu, tapi Bella tidak memiliki pilihan lain selain memberikan anaknya.


"Ya Tuhan, bisakah kau cabut saja nyawaku setelah persalinan ini? aku sungguh tidak sanggup menghadapi semua ini sendiri. Aku tidak sanggup Tuhan. Aku tidak sanggup berpisah dengan anakku." tangis Bella di sela-sela dinginnya malam yang begitu mencekam menemani dirinya yang tengah kesakitan di ruang rawat menanti pembukaan berikutnya.


Sementara orangtua Beren dan Bibi yang menemani Bella sudah terlelap di bawah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Beren yang menghubungi Bella malam-malam.


Di dalam sel Beren sudah membayar agar bisa menggunakan ponsel.


Ia melihat keadaan Bella yang menangis dengan mata sembabnya.


"Aku tidak kuat." ucap Bella sembari terus meneteskan air matanya.


"Sayang, kuatlah. Sebentar lagi anak kita lahir." tutur Beren.


Bella menggelengkan kepalanya dan semakin menangis.


"Aku tidak kuat menghadapi ini semua, aku tidak kuat menghadapi keluarga mu yang menginginkan anak kita." gumam Bella tanpa berani mengatakan yang sebenarnya pada Beren.


"Tenanglah, semua pasti baik-baik saja." sahut Beren lagi.


Beberapa waktu mereka gunakan untuk melakukan panggilan video sampai akhirnya Beren yang mengantuk memilih segera mengakhiri panggilan itu.


Bella kembali menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri. Mengapa hidupnya begitu tidak adil, mengapa semua benar-benar menghakiminya.


Jam sudah semakin malam membuat Bella begitu merasakan sakit yang luar biasa hingga ia benar-benar tidak lagi bisa menahan sakit itu.


"Aaaaaa." teriak Bella sudah mulai mengejang kuat.


Semua bangun dari tidur dan segera memanggil para tim media di ruangannya.


"Bella, sabarlah." ucap Ibu Beren membantu mengusap punggung Bella.


Tak lama kini tim medis datang dan segera membantu Bella untuk masuk ke ruang bersalin. Di sana Ibu Beren sudah menemani Bella dengan antusiasnya.