
Hubungan yang sudah begitu di perjuangkan kini tak lagi ada artinya ketika sebuah pengkhianatan terjadi. Rasa cinta, rasa bersalah pada diri Bella kini terbang pergi di bawa angin kekecewaan.
Penentangan pada kedua orangtuanya sungguh membuat Bella benar-benar menyesal seumur hidup. Pria yang ia perjuangkan sungguh tak ada baiknya. Benar apa yang menjadi firasat orangtua sangatlah tepat.
Sekuat apa pun perjuangan tanpa restu jalannya tidak akan lancar.
Suara pemberitahuan di salah satu bandara, tepatnya bandara Internasional Juanda, kini seorang wanita tengah duduk termenung sembari memandangi satu persatu foto dirinya dengan pria yang tidak lain adalah Beren.
Pupus. Harapannya yang selama ini sudah ia bayangkan akan bahagia usai perjuangan mereka untuk bersatu demi Mika, buah cinta mereka tidak akan ada lagi. Dengan lincah jari jemari Bella menghapus seluruh foto kenangan yang menyakitkan itu.
Buliran mata kini jatuh kian deras di wajahnya, secepat itu juga tangan Bella mengusap kasar karena ia sadar dirinya saat ini sedang berada di tempat umum.
Penyesalan tinggallah sebuah penyesalan tak akan mampu mengulang dan merubah semua yang telah terjadi. Kehadiran seorang anak bayi cantik tanpa adanya pernikahan sungguh tidak akan pernah mendapat pandangan baik dari setiap orang.
"Aku tidak ingin mengenal pria lagi." begitu ucapan Bella dalam hati yang kini benar-benar berada di titik terendah.
Ia tidak bisa percaya dengan siapa pun lagi saat ini. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Kepergiannya kali ini hanya untuk anak satu-satunya yang akan ia rindukan selamanya.
***
Di bandara tepat tujuan terakhir Bella, ia segera menuju salah satu penginapan yang terbilang sederhana. Bella tak ingin boros karena ia harus membeli tiket untuk kepulangannya lagi setelah berjumpa dengan Mika.
Tiga hari ia lalui di kota itu, setiap pagi Bella datang ke rumah keluarga Beren demi menemui putrinya. Meski ada perasaan yang takut, takut jika sang Ayah akan mengetahui keberadaannya yang diam-diam pulang ke kota asal.
"Bella, kamu putus yah sama Beren?" tanya Ibunya Beren dengan tatapan sinisnya.
"Iya, Bu. Kami putus. Beren-"
"Oh begitu." Belum sempat Bella menjelaskan apa yang terjadi kini Ibu Beren sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.
Bella hanya bisa diam kembali, ia tidak ingin banyak bicara. Apa pun yang keluar dari mulut mereka tentu akan selalu melukai hati Bella.
Kerap kali Bella mendengar mereka mengajarkan Mika untuk memanggil dengan sebutan mama padanya, sementara Bella tidak pernah di anggap sebagai mamanya.
"Apa pun masalah kalian, saya tidak akan ambil pusing. Toh itu hubungan kalian yang mau. Kalau pun kalian mau kembali saya tidak akan mau ikut campur. Sudah cukup semua yang kami alami karena keluarga mu." Suara Ibu Beren tiba-tiba kembali bersuara.
"Iya, Bu." sahut Bella singkat.
"Yasudah, aku kerja dulu. Nanti kalau kau mau pulang Mika biar sama Kakeknya."
"Iya, Bu. Hati-hati."
Ibu Beren sampai saat ini masih bekerja di salah satu club malam sebagai tenaga rias para ladies. Namun Bella tak pernah perduli apa pun keseharian mereka. Setidaknya Mika akan baik-baik saja di rumah itu rasanya sudah lebih cukup.
***
Bella kini sudah kembali ke kota pendidikan di mana ia berkuliah. Meski rasa rindu masih teramat dalam pada putri kesayangannya, namun uang miliknya sudah tak cukup lagi jika Bella berlama-lama di sana.
Sebulan terlewati dengan baik, sampai suatu hari ponsel Bella di kejutkan kembali dengan pesan yang ia tak sangka-sangka.
"Aldrich." ucapnya kaget.
"Hay Bella, bagaimana kabarmu?"
Dada Bella seketika bergetar hebat saat mendapat pesan direct message dari mantan kekasihnya yang pernah ia permainkan itu.
Perlahan tangan Bella menyentuh dadanya, sungguh perasaan apa ini? itulah yang ada di benak Bella. Ada rasa debaran kuat dan senang di saat yang bersamaan.
Secepatnya Bella membalas pesan yang ia dapat, hingga beberapa kali mereka saling balas pesan. Dan terjadilah saling tukar nomor WhatsApp.
Bella masih tak menyangka jika pria itu kini hadir kembali di hidupnya. Entah rasanya harapan yang sudah sirna tiba-tiba timbul kembali. Bukan tanpa sebab, Bella sangat tahu bagaimana hubungan mereka dahulu. Aldrich satu-satunya pria yang tak menyukai bergaul dengan banyak wanita. Pria itu terkesan jauh lebih cuek dengan lawan jenisnya.
Komunikasi yang berawal hanya saling balas pesan kini mulai saling melakukan panggilan video. Hubungan keduanya semakin berjalan baik.