
Bella yang di antar Kevin pulang kini sudah masuk ke rumah sementara Kevin sudah beranjak pergi dari rumah Bella. Kirana yang masih menatap kepergian Kevin merasa penasaran. Kevin adalah teman sekelompok Bella di kelas.
Brian yang baru saja pulang kerja kini duduk beristirahat di depan rumah.
“Tadi Bella pulang di antar teman prianya.” ucap Kirana yang memancing kemarahan Brian.
“Bella.” panggil Brian berteriak.
“Iya, Ayah.” jawab Bella berlari mendekat.
“Siapa pria tadi?” tanya Brian dengan tatapan tajamnya.
“Teman kelompok Bella belajar Ayah.” jawab Bella yang sudah mulai takut melihat wajah Ayahnya.
“Sampai Ayah tahu kau berani pacaran, habis kau.” ancam Brian.
Akhirnya Bella bergegas masuk ke kamarnya dengan fikiran yang susah campur aduk. Perasaannya sudah tidak bisa tenang memikirkan ancaman Ayahnya.
Malam harinya Bella yang berada di kamar tiba-tiba berlari ketika mendengar suara teriakan di arah dapur.
“Tidak usah masak jika kau malas. Sudah ku katakan bukan!” teriak Brian yang mengagetkan Bella.
Seketika langkah gadis itu terhenti saat melihat semua makanan yang berhamburan di lantai dapur bersama pecahan piring-piring. Kirana yang terlihat menangis di kursi meja makan tidak berbicara apa pun. Brian yang sudah marah tanpa bisa memendam emosinya kini pergi meninggalkan Kirana dan Bella.
Bella yang melihat Ibunya menangis perlahan mendekat. “Berhenti di situ, Bella. Nanti kakimu terluka.” jelas Kirana.
Bella yang mendengar ucapan Ibunya memilih berdiam dan melihat Kirana membersihkan pecahan kaca dan makanan yang tumpah. Malam itu makanan semua yang sudah Kirana masak tanpa tersisa satu pun untuk mereka makan.
“Ayahmu benar-benar keterlaluan, Ibu hanya terlambat memasak dia sudah membuang semuanya.” ucap Kirana sambil terus menangis.
Bella hanya bisa berdiam mendengarkan keluhan sang Ibu yang terus menangis. Ia sangat paham Ayahnya yang selalu marah ketika makanan terlambat di sajikan atau ketika makanan tidak sesuai dengan keinginannya.
Bella yang sudah berkaca-kaca matanya menahan tangis kini bergegas menuju kamar kembali. Ia tidak berani mengatakan perutnya yang lapar demi menenangkan Ibunya.
“Kasihan Ibu, kalau aku katakan lapar pasti Ibu akan memasakkan sesuatu untukku lagi padahal Ibu sudah lelah.” ucap Bella dalam hati.
Akhirnya malam itu Bella memilih untuk tidur dengan perut kosongnya. Sementara Brian seperti biasanya yang selalu pulang larut malam.
***
Seminggu telah berlalu, kini Bella yang baru saja selesai sekolah ingin pulang ke rumah. Tiba-tiba saja temannya Bella yang bernama Sindi meminta Bella untuk menemaninya ke tempat Kakak kelas.
“Untuk apa ke rumahnya, Sin?” tanya Bella yang sedikit ragu.
“Aku ingin meminjam bukunya, mau yah temani aku?” tanya Sindi dengan memohon.
Sebenarnya Bella merasa berat untuk menemaninya, tetapi ia tidak enak jika menolak ajakan Sindi. Akhirnya Bella setuju untuk menemaninya.
“Baiklah, tapi jangan lama yah.” ucap Bella.
Kini mereka melangkah bergandengan tangan menuju rumah Kakak kelas Sindi. Setelah mereka tiba dengan cepat Sindi meminjam buku dan mengajak Bella pulang.
Di pertengahan jalan, Bella bertemu dengan Kevin teman sekelas mereka. Belum lama Sindi dan Bella berbicara dengan Kevin kini terlihat mobil Fortuner abu-abu yang melintas di samping mereka.
“Bella, Pulang!” teriak Brian yang melihat Bella di pinggir jalan.
Dengan cepat Bella berlari masuk ke mobil tanpa menunggu Sindi dan Kevin. Brian yang sudah terlihat sangat marah kini melajukan mobilnya pulang. Sampai di rumah Bella yang ketakutan perlahan turun dari mobil dan menuju kamarnya. Tubuhnya bergemetar hebat, saat itu Kirana sedang tidak di rumah. Seingat Bella saat pagi Ibunya bilang ingin ke rumah tetangga untuk acara nikah.
Brian yang tanpa Bella sadari telah mengikuti langkahnya dari Belakang tiba-tiba menjambak rambut panjang Bella.
“Ampun Ayah. Ampuunn!” teriak Bella ketakutan sambil menangis.
“Sudah ku peringatkan, jangan pacaran. Kau masih berani yah?” ucap Brian yang semakin keras menjambak rambut putrinya.
Belum sempat Bella menjelaskan Brian sudah lebih dulu menamparnya, menginjak tubuhnya sampai akhirnya Bria keluar kamar.
Bella yang sudah menangis di kasur tidak berdaya hanya bisa menutup wajahnya dengan bantal. Ia berfikir jika semua sudah berakhir.
Ternyata Bella salah, Brian yang kini sudah kembali masuk ke kamar dengan membawa gunting di tangannya dengan cepat ia memotong-miring rambut Bella bagian depan. Sampai terlihat sangat pendek.
“Ayah jangan Ayah.” teriak Bella yang berusaha menyelamatkan rambutnya.
Namun semua sia-sia kecepatan tangan Brian jauh dari pada tangan mungil Bella. Setelah merasa kemarahannya terlampiaskan kini Brian kembali mengancam Bella.
“Ini yang terakhir, jangan sampai ku tahu lagi jika itu terjadi habis kau tidak akan ada ampun untukmu.” ucap Brian yang sekali lagi menendang bokong Bella.
Bella sudah tidak lagi menjawab, ia hanya terus menangis dan menutupi tubuhya dengan selimut.
Lantai kamar kini terlihat bertebaran rambut-rambut Bella yang baru saja Brian potong. Bella yang terus menangis tanpa henti merasa kesal dengan sang Ayah.
Mengapa Ayahnya tidak mau mendengarkan sama sekali penjelasan darinya. Segitu bencinya kah Brian pada Bella sampai ia tega melakukan itu semua.
Tidak berapa lama kemudian, Kirana yang baru saja pulang kini menuju dapur. Ia terkejut ketika mendengar isak tangis Bella di dalam kamar.
Kini ia melangkahkan kaki mendekat ke arah sumber suara. Seketika matanya terbelalak tak percaya.
“Bella, apa yang terjadi?” tanya Kirana yang terkejut melihat rambut bertebaran memenuhi lantai kamar anaknya.
Bella enggan menjawab, ia hanya terus menutupi wajahnya dengan selimut. Rasa malu Bella tidak bisa ia tahan lagi. Tidak terbayangkan bagaimana wajahnya saat ini ketika melihat rambutnya yang sangat pendek.
Kirana mulai mendekat ke arah Bella dan memaksa membuka selimut yang menutupi wajah Bella.
Wajahnya hanya menampakkan ekspresi terkejut sambil memeriksa semua bagian kepala Bella. Bisa Kirana lihat jika yang terpotong hanya bagian depan saja.
“Bella, ayo bangun. Beritahu Ibu apa yang terjadi.” ucap Kirana yan. Penasaran.
Bella masih tidak mau bicara ia benar-benar kesal mengingat perilaku ayahnya yang seenaknya mengambil tindakan tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dulu.
“Ibu tanyakan saja pada Ayah.” jawab Bella dengan ketus.
“Kamu seperti tidak tahu Ayahmu saja, mana bisa dia di tanya-tanya.” sahut Kirana.
Akhirnya Bella menceritakan jika ia pulang bersama Sindi dan tanpa sengaja bertemu teman pria sekelasnya di jalan. Mereka hanya berbicara sebentar saja. Namun Brian yang sudah melihatnya tanpa bertanya apa pun langsung memukul Bella di rumah.
Bella yang berusaha menjelaskan namun tidak mendapat kesempatan untuk bicara. Tubuhnya sudah lebih dulu di injak-injak oleh Brian.
Beruntung saja saat itu tubuh Bella masih berada di kasur setidaknya tulangnya masih bisa tertolong.
Kirana yang mendengar cerita Bella hanya menggelengkan kepala tidak percaya.