
Hari itu Bella tidak memiliki waktu lama untuk berada di kantor polisi. Karena Brian yang memberikan beberapa barang bukti milik Bella seperti yang di minta pihak kepolisian.
Kini Brian mengajak Bella dan juga Kiran untuk kembali kerumah tanpa ia perduli jika Bella terus menangis.
Sesampainya di rumah, Brian menyuruh Kirana untuk membelikan segala keperluan kehamilan Bella. Meskipun ia sangat kecewa, namun kekhawatirannya pada Bella jauh lebih besar.
Di kamar Bella diam-diam menerima telfon dari Ibu Beren.
“Ada apa, Bu?” tanya Bella sembari menempelkan telfon itu di telinganya.
Suara tangis yang terdengar di seberang telfon kini semakin nyaring.
“Apa kau tidak melihat keadaan Beren? Wajahnya sudah hancur, Bella. Dia du pukuli di sana.”
Bella begitu terkejut saat mendengar pengakuan ibu Beren. Ia membungkam mulutnya berusaha menahan tangis. Rasanya ia tidak percaya dengan ucapan ibu Beren.
“Tidak, Bu. Itu tidak mungkin kan?” tangis Bella berusaha mencari kebenaran.
“Kau tidak percaya? Tunggu aku akan mengirimkan foto anakku nanti.”
Ibu Beren dengan suara bergemetarnya kini sudah mematikan sambungan telfon itu.
Tak lama kemudian masuklah sebuah pesan gambar. Bella dengan cepat membukanya. Air matanya begitu deras mengalir ia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan yang terjadi pada Beren.
Terlihat wajah yang berwarna biru bekas pukulan hingga rahang bawah sebelah milik Beren membengkak dan juga tulang wajah bagian bawah mata membengkak.
Wajah pria itu sudah tidak berbentuk normal. Entah perlakuan apa yang Beren dapatkan di dalam sel itu.
Bella terus menangis rasanya ia ingin sekali datang menjenguk Beren, namun untuk saat ini tentu Bella tidak akan bisa pergi ke manapun.
Di depan jendela kamarnya, Brian sudah memberikan cctv agar bisa memantau jika sewaktu-waktu Bella ingin kabur.
Kirana yang baru saja tiba di rumah setelah membelikan berbagai keperluan Bella termasuk susu hamil kini kembali panik saat melihat anaknya sudah menangis.
Wajahnya bingung dan perlahan menutup pintu kamar itu lagi. Kirana melangkahkan kakinya hingga ia duduk di tepat di samping Bella.
“Ada apa? Mengapa menangis lagi? Kau bisa sakit jika terus seperti ini?” tanya Kirana.
Bella masih menangis tanpa bisa menjawab pertanyaan ibunya.
Terlihat tangannya yang membuka ponsel dan menunjukkan pada Kirana foto Beren saat ini. Kirana yang terkejut sangat syok rasanya sulit mengenali wajah Beren kali ini.
“Ibunya yang memberikan ku barusan, Bu. Dia di pukuli di dalam ini pasti Ayah yang menyuruhnya.” sahut Bella dengan wajah kesalnya dan air mata yang terus menetes.
Kirana hanya menggelengkan kepalanya karena tidak habis fikir. Tentu ia tahu jika suaminya akan menyuruh orang-orang di kantor polisi untuk memberi Beren pelajaran.
Karena saat di sana, Beren yang hampir di pukul oleh Brian di cegah beberapa polisi.
Akhirnya Kirana memutuskan untuk tetap di kamar menemani Bella. Beruntung saat ini Bella sudah melewati masa hamil mudanya hingga ia tidak begitu merasa tersiksa dengan rasa mual yang terus berangsur-angsur datang.
Di luar kamar Bella sudah terdengar beberapa suara teman ayahnya yang berdatangan. Seperti biasanya mereka selalu melakukan permainan judi di rumah itu.
Kirana sangat kesal namun kekesalannya itu tidak bisa ia lontarkan pada suaminya. Di luar semakin banyak orang yang berdatangan, Brian enggan berlarut-larut dalam kekecewaannya ia memilih untuk terus mencari hiburan bersama teman-temannya.
Bella yang begitu membenci lingkungan ayanya sungguh tak bisa habis fikir mengapa ia bisa memiliki ayah yang seperti itu. Besar harapan Bella untuk memiliki keluarga yang baik.
Namun semua rasanya hanya seperti mimpi baginya. Keluarganya sangatlah jauh dari ajaran agama. Itu semua bukan tanpa alasan, karena pada awalnya Brian memang seorang muallaf dan beberapa tahun ia mendalami Islam barulah menikah dengan Kirana.
Entah hal apa yang membuat Brian kembali meninggalkan satu persatu ajaran agamanya itu. Yang jelas dulu ia sangat rajin melakukan kewajibannya sebagai muslim.