Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Peringkat Satu



Tanpa terasa kini ulangan semester Bella telah usai wajahnya tampak bahagia.


Bella sangat yakin kali ini ia bisa membuat dirinya terbebas dari Cengkraman Brian.


“Kau sudah pulang?” tanya Brian yang sudah menunggunya di depan pintu.


“Iya Ayah.” jawab Bella.


“Bagaimana ulanganmu?” tanya Brian lagi.


“Bisa semua Ayah.” jawab Bella dengan bicara sopannya.


“Kau yakin dengan ucapanmu?” tanya Brian menatap dalam pada putrinya.


“Iya Ayah.” jawab Bella yang terlihat takut.


“Baiklah kalau begitu pergilah ganti bajumu dan segera makan.” ucap Brian.


Bella yang merasa legah karena terbebas dengan segera berlari ke kamar mengganti baju lalu menuju dapur.


“Kau mau makan?” tanya Kirana yang melihat putrinya duduk di meja makan.


“Iya Ibu.” jawab Bella.


Dengan cepat Kirana ikut duduk untuk menemani putrinya makan.


Sementara Brian yang entah sudah pergu kemana. Setiap harinya ia selalu menghilang tanpa memberi tahu istri atau anaknya.


Kirana yang sudah terbiasa dengan sifat suaminya hanya bisa berdiam tanpa kata.


Hari itu berlalu dengan cepat, kini pagi sudah kembali menyambut aktifitas semua orang dengan mentari yang begitu terang.


Bella yang terlihat sudah sangat rapi memakai seragam sekolahnya tampak cantik sekali.


Kirana memang setiap hari selalu mengikat rambut Bella dengan macam-macam model.


Bella memiliki rambut yang sangat lurus dan lembut karena itulah Brian melarangnya untuk memotong.


Setelah Bella selesai bersiap-siap kini ia mendekat pada Kirana untuk meminta ijin ke sekolah.


“Ibu, Bella berangkat sekolah dulu.” Suara menggemaskan gadis kecil itu membuat Kirana berhenti dari kegiatannya di dapur.


Dengan segera ia mengulurkan tangannya untuk di kecup oleh putrinya.


Kini Bella berjalan ke sekolah bersama temannya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.


Sementara Brian yang baru terbangun dari tidurnya segera menuju kamar mandi.


Ia tahu jika hari ini adalah pembagian raport putrinya.


Setelah selesai bersiap kini pria itu menuju dapur untuk sarapan.


“Nanti ada keluargaku yang akan kemari.” ucap Brian tanpa menatap wajah Kirana.


“Apakah aku harus menyiapkan sesuatu?” tanya Kirana.


“Kau cukup menyiapkan kamar di belakang saja,” jawab Brian.


“Baiklah.” ucap Kirana.


Kini Brian beranjak dari duduknya dan menuju sekolah Bella.


Wajah pria itu tampak antusias ia sangat menunggu momen ini setelah beberapa bulan lamanya.


Di sekolah sudah tampak wali murid yang telah duduk rapi di dalam kelas.


Mereka menunggu kehadiran wali kelas dari anak-anaknya untuk membagikan raport nya.


“Selamat pagi Bapak dan Ibu semuanya yang berkenan hadir di ruangan ini.” salam wali kelas yang saat ini sudh berdiri di depan semua wali murid.


Bella yang duduk bersama Brian tampak tegang. Meskipun ia yakin dengan nilainya kali ini tapi tetap saja ada rasa takut jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan Brian.


Setelah pembukaan di ruang kelas itu kini waktunya wali murid memanggil satu-satu dari nama raport yang akan ia bagikan.


Nama pertama tentu sudah bisa terlihat dari tatapan Pak Bagas wali kelas Bella.


“Laila Sifabella Syein.” panggil Pak Bagas dengan wajah tersenyum penuh kebanggaan.


Dengan cepat Brian menggandeng tangan mungil Bella menghadap ke Pak Bagas.


“Selamat yah Pak Brian, putri anda luar biasa bisa menduduki peringkat satu. ucap Pak Bagas sambil memberikan raport dan memberi selamat pada Brian.


Wajah Bella pun ikut tersenyum menatap Pak Bagas begitu juga dengan Brian.


“Akhirnya usahaku mengajari Bella tidak sia-sia.” gumam Brian sambil melamun dan tersenyum.


“Ayah.” panggil Bella yang membuyarkan lamunan Brian.


“Eh iya.” jawab Brian.


Akhirnya Brian dan Bella keluar dari kelasnya dengan wajah bahagianya.


“Tunggu dulu.” ucap Brian yang tersadar akan sesuatu yang ia lupakan.


Tangannya membuka raport Bella dan melihat nilai Bella yang menunjukkan mata pelajaran matematika mendapat nilai 96.


Wajah pria itu seketika berubah menjadi kesal kembali.


“Bella, apa kau tidak paham yang Ayah ajarkan padamu?” tanya Brian yang sudah bernada bicara tinggi.


Bella yang terkejut merasa bingung dengan maksud Ayahnya.


“Bella sangat mengerti Ayah.” jawab Bella ketakutan.


Brian yang tampak kesal dengan kasarnya menghadapkan tatapan putrinya begitu dekat dengan raport nya.


“Lihat ini, nilaimu masih kurang berarti kau melakukan kesalahan saat ulangan.” jelas Brian yang sudah kesal.


“Hiks...hiks...hiks.” Suara tangis Bella membuat beberapa guru terkejut dan berlari mendekat.


“Saya sudah mengajarinya Pak, tapi masih saja ia melakukan kesalahan.” jelas Brian dengan nada bicara penuh kemarahan.


Pak Abraham yang mendengarnya menghela nafas pelan lalu tersenyum.


“Pak, Bella sudah sangat pintar mungkin ini hanya kekeliruannya saja karena kamu memberi waktu yang tidak lama saat ulangan.” jelas Pak Abraham.


Brian yang mendengarnya berusaha membuang kemarahannya lalu mengangguk pada Pak Abraham.


“Baik Pak, saya pulang dulu.” ucap Brian.


“Silahkan Pak Brian. Bella Selamatyah, Nak atas juara satunya.” ucap Pak Abraham sambil tersenyum.


“Terimakasih Pak.” jawab Bella yang tetap menunduk karena ketakutan.


Kini Bella dan Brian beranjak pulang meninggalkan sekolahan itu dengan wajah yang tidak bisa di tebak.


Di rumah Kirana yang tengah sibuk memasak untuk makan siang mendengar suara ketukan pintu.


Dengan cepat ia melangkah ke depan rumah kini seorang pria yang muda berdiri tegak di depannya.


“Ada paman Brian?” tanya pria itu.


“Oh kamu kuarga suami saya yah?” ucap Kirana yang mengingat pesan suaminya.


“Iya saya keluarga Pak Brian, Jiko.” ucap Pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Kirana tersenyum lalu mempersilahkan pria itu masuk ke rumah.


Tidak lama kemudian Brian dan Bella tiba di rumah mereka.


“Kau sudah sampai ternyata.” ucap Brian datar dan duduk bersama Jiko.


“Ini Bella yah?” tanya Jiko sambil tersenyum pada Bella.


“Iya Paman.” jawab Bella dengan ramah.


“Bella masuklah dan segera ambil bukumu kemari.” pintah Brian dengan tegasnya.


Bella yang mendengar tanpa menunggu lama segera beranjak ke kamar untuk mengganti pakaian dan membawa buku ajaibnya.


Yah buku matematika hariannya di sebut buku ajaib yang selalu menyaksikan kesakitan anak itu setiap kali belajar selalu mendapat pukulan.


Dan anehnya setiap kali Bella terkena pukulan fikirannya langsung dengan cepat menerima pelajaran yang di berikan oleh Brian.


Brian yang sedang berbicara pada Jiko kini menyuruhnya untuk istirahat.


Karena besok ia akan membawa Jiko ke perusahaan yang akan ia bantu memasukkan Jiko bekerja.


“Kemari.” panggil Brian yang melihat Bella berdiri.


Setelah Bella mendekat, Brian segera mengambil buku yang ada di tangan Bella dan menuliskan dua puluh soal matematika yang terlihat lebih sulit lagi.


Bella melihatnya sambil memejamkan mata sesekali karena ia berusaha mengingat pelajaran itu namun sepertinya belum ada di kelas.


Setelah Brian selesai menulis ia menjelaskan cara menghitungnya pada Bella.


Dengan antusias Bella berusaha memperhatikan agar ia bisa menyelesaikannya nanti.


“Astaga mengapa ini sulit sekali sepertinya?” gumam Bella yang tampak mulai panik.


“Kau mengerti?” tanya Brian.


“Belum Ayah.” jawab Bella dengan ragu.


“Bodoh sekali, perhatikan!” tegas Brian.


Setelah ia mengulanginya lagi untuk menjelaskan kini Bella mulai memahami sedikit.


“Sudah kau mengerti kan?” tanya Brian.


Bella yang sebenarnya masih belum terlalu yakin memilih untuk mencobanya sendiri.


Karena jika tidak tentu Brian akan memarahinya atau bahkan memukulnya.


Setelah Bella mengambil buku dari tangan Brian, kini wajahnya mulai terlihat bingung.


“Ayah pergi dulu.” ucap Brian yang beranjak keluar rumah.


“Huuuff akhirnya legah juga.” gumam Bella yang menghembuskan nafasnya karena tegang.


Namun kini ia merasa bingung karena sangat sulit baginya mengerjakan pelajaran matematika kali ini.


“Hey kau sedang apa?” tanya Jiko.


“Paman, aku sedang mengerjakan ini.” ucap Bella sambil tersenyum.


“Memangnya kau kelas berapa?” tanya Jiko penasaran.


“Baru mau naik kelas dua paman.” jawab Bella.


Jiko yang terkejut mendengarnya hanya tertegun melihat pelajaran yang ada di hadapan Bella.


Yah memang Brian memberikan pelajaran pada Bella tidak harus sesuai dengan kelas putrinya. Karena Brian ingin Bella sudah lebih menguasai pelajaran yang belum seharusnya Bella terima.


“Ini kan pelajaran kelas tiga cantik.” ucap Jiko.


“Benarkah Paman? pantas saja Bella berusaha mengingat soal-soal di buku tidak ada yang seperti ini.” jelas Bella.


“Kau pasti kesulitan yah?” tanya Jiko menebak raut wajah Bella.


Bella yang enggan menjawab hanya mengangguk saja.


Wah Brian benar-benar keterlaluan mungkin tanpa ia sadari memaksakan kemampuan anak bisa membuatnya sangat sulit berfikir kemudian hari.


Semua sekolah memberikan tahap pengajaran sesuai kemampuannya tentu bukan tanpa alasan.


Mereka pasti sudah memberikan pertimbangan untuk anak-anak kedepannya.