
Kehadiran Jiko di rumah itu membuat Bella sedikit terbantu dengan kesulitannya dalam menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Brian. Jiko terlihat sangat sabar menjelaskan pada Bella meskipun ia sedikit terkejut dengan kemampuan Bella saat menerima penjelasan darinya.
"Wah kau benar-benar sangat pandai, Bella! Paman sampai kagum padamu sangat cepat sekali kau bisa memahami apa yang paman jelaskan." puji Jiko pada Bella.
Bagi Bella cara Jiko mengajarinya sangat lembut dan mudah di mengerti meskipun sedikit kesulitan karena Bella sudah belajar terlalu jauh dari yang ia terima di kelas.
"Bella sudah sejak kecil belajar dengan sangat keras tanpa sesuai dengan yang seharusnya ia terima." sahut Kirana yang mendekat pada mereka sambil membawakan cemilan.
Jiko yang mendengar merasa kaget dan tidak habis fikir gadi sekecil Bella seharusnya belum menerima pelajaran seberat itu.
"Lalu apa kalian tahu dampak yang akan Bella terima jika terlalu berat berfikir di usianya yang masih sangat kecil ini?" tanya Jiko.
Kiranya hanya duduk dan mendundukkan kepalanya ia sangat paham apa yang di maksud oleh Jiko barusan.
"Aku paham, tapi mau bagaimana lagi." jawab Kirana.
Kini ia menceritakan tentang ambisi Brian yang selalu ingin putrinya menjadi juara dan mendapat pujian dari orang-orang. Dan dia selalu menanamkan kekerasan pada Bella setiap kali Bella tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya.
Brian selalu menggunakan kata-kata "semua untuk kebaikan Bella kemudian hari" tapi entah bagaimana ia berfikir bisa sekeras itu.
Jiko yang mendengar tercengang tidak percaya dengan sifat Brian pada Bella, rasa kasihan muncul di fikirannya. Sementara Bella terus lanjut mengerjakan tugas yang di berikan oleh Brian tanpa mau mendengarkan percakapan orang dewasa di hadapannya.
"Lalu, mengapa anda tidak mengajarkan pada Bella agar ia bisa terlepas dari kekerasan Ayahnya ?" tanya Jiko lagi.
Kirana yang merasa semakin merendahkan dirinya karena bagaimana pun ia sama sekali tidak paham tentang pelajaran yang di berikan pada Bella. Kirana hanyalah wanita yang di nikahi Brian tanpa sekolah saat menduduki Sekolah Dasar ia belum sempat menyelesaikan sekolahnya terpaksa berhenti. Karena terkendala dengan biaya sekolah.
Untuk menghitung Kirana masih bisa tapi jika melihat pelajaran matematika yang menggunakan rumus-rumus, fikirannya sudah tidak bisa sampai ke sana.
Jiko yang mendengar hanya menghela nafas kasar tentu ia mengerti kedatangannya di rumah ini bukan tanpa sebab. Mungkin ia bisa membantu Bella keluar dari jalan macan ini.
"Paman, apakah ini benar?" tanya Bella.
"Coba Paman lihat." ucap Jiko sambil mengambil buku dari tangan Bella.
Wajahnya tertegun melihat jawaban dan tulisan Bella, semua tampak rapi dan jawabannya juga benar semua bagaimana bisa anak kecil itu memahami apa yang ia jelaskan secepat itu.
"Wah kau hebat sekali." ucap Jiko dengan tersenyum.
Bella yang merasa legah akhirnya bisa mengehembuskan nafasnya dengan kasar lalu bersandar di kursi untuk menunggu kedatangan Ayahnya.
"Bella." panggil Kirana yang baru tiba di kamar.
"Iya Ibu." jawab Bella berlari kecil meninggalkan Jiko.
Kirana mengeluarkan beberapa benda dari kresek yang sudah tersimpan sejak beberapa hari yang lalu di kamarnya. Bella yang melihat tampak penasaran dengan barang yang di pegang Kirana, langkahnya mendekat ke arah Kirana.
"Ini seragam baru untukmu, Ayah membeli dan ingin menghadiahkan padamu jika mendapat peringkat satu." ucap Kirana sambil menyodorkan pakaian sekolah.
Disana masih ada terlihat beberapa barang yang terbungkus Bella membuka satu persatu, wajahnya terlihat sangat senang. Sepatu baru, tas baru, baju baru dan beberapa buku tulis baru semua rasanya sangat bahagia mendapatkan hadiah.
"Iya, kau harus peringkat satu terus agar Ayah membelikan hadiah untukmu." ucap Kirana.
Bella yagn tadinya tersenyum kembali menekukkan wajahnya mendengar kata peringkat satu terus, matanya berkaca-kaca membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti ia tidak mampu mendapatkan peringkat satu itu. Apakah Brian akan memberikannya hal yang lebih sakit lagi dari biasanya.
Kirana yang menyadari wajah sedih Bella kini mendekat dan mengelus kepalanya.
"Belajarlah dengan baik, pasti kau bisa melakukannya." ucap Kirana yang berusaha memberi semangat pada Bella.
Di luar terdengar suara Brian yang baru saja pulang dan berbicara dengan Jiko di ruang tamu, ia memberi tahu jika besok akan ke luar Kota karena ada urusan. Brian meminta Jiko untuk membantunya mengajari Bella selama ia tidak ada di rumah.
Jiko yang mendapat perintah tentu dengan senang hati membantunya dan itu akan menjadi kabar bahagia untuk Bella sementara waktu.
"Maaf, apakah pelajaran yang kau berikan pada Bella tidak terlalu berat?" tanya Jiko berusaha memberikan masukan.
"Sudahlah, tugasmu hanya meneruskan saja. Aku tahu yang terbaik untuk putriku." bantah Brian.
"Aku ingin menuntun Bella agar tidak berpatokan pada umurnya, dia harus bisa lebih dewasa dari umurnya itulah namanya hidup penuh perjuangan." jelas Brian yang kini beranjak meninggalkan Jiko seorang diri.
Melihat tingkah Brian, Jiko hanya menggelengkan kepala saja tanpa bisa berbicara apa pun.
"Malang sekali nasibmu, Bel." gumam Jiko.
Hari sudah berpindah menjadi sore, Bella yang sudah bersiap di depan meja belajar sedang menunggu kedatangan Ayahnya untuk menyerahkan tugas. Brian yang baru selesai mandi kini duduk di depan Bella dan melihat semua soal yang sudah di kerjakan Bella.
"Ini kau sendiri yang mengerjakannya kan?" tanya Brian sambil menatap Bella dalam.
"Iya Ayah." jawab Bella.
Brian yang percaya pada ucapan putrinya tampak berekspresi biasa saja dan Bella bisa menebak jika hal itu pertanda semua jawaban yang Bella kerjakan tidak ada yang salah. Karena biasanya Bella merasa takut tiap kali Brian menatap jawabannya dengan alis yang mengerut. Dan itu pertanda jika jawaban Bella ada yang salah namun kali ini Bella sudah terselamatkan.
Brian yang terlihat sangat rapi membuat Bella bertanya-tanya dalam hati ia bisa menebak jika Ayahnya akan keluar rumah sebentar lagi. Harapannya begitu besar agar sore itu ia bisa sedikit legah sekali lagi.
"Baiklah semuanya benar, kalau begitu kau kerjakan yang ini lagi dan Ayah akan cek nanti malam." ucap Brian sambil menulis beberapa soal lagi.
Bella yang merasa lemas melihat soal yang semakin sulit di berikan oleh Ayahnya hanya bisa pasrah dan setidaknya kali ini ia harus bersyukur karena tidak mengerjakan soal sulit itu dengan pengawan Brian. Bella mulai berfikir jika kali ini ia harus bisa benar-benar menguasai soal yang di berikan oleh Brian. Meskipun ia di bantu oleh Jiko tidak menutup kemungkinan Brian akan melakukan pengetesan ulang pada Bella.
"Yasudah kerjakan ini, Ayah keluar dulu." ucap Brian bergegas meninggalkan Bella.
Jiko yang baru saja selesai berpakaian dengan rapi melihat Bella duduk seorang diri sambil menatap bukunya ia berusaha mengingat penjelasan yang di ajarkan Brian sebelum pergi tadi.
Rasanya masih sangat sulit untuk di ingat tangannya menggaruk-garus kepalanya yang tidak gatal itu sesekali matanya tertuju pada boneka barbie yang memandangnya dari kejauhan.
Seolah memanggil Bella untuk mendekat pada mereka, Bella sangat merindukan boneka-boneka cantiknya tapi ia harus bisa menyelesaikan tugasnya dulu.
Bersambung...