
Kini Perut Bella sudah mulai terlihat membesar, ia sangat ketakutan semakin hari di tambah lagi saat siang itu ia terkejut.
“Beren, apa ini?” tanya Bella yang begitu terkejutnya melihat isi pesan di ponsel Beren.
Pesan singkat yang di tujukan pada Beren dari temannya membahas nark*ba.
“Bukan apa-apa, Bella.” tutur Beren.
Bella yang tidak bisa lagi mempercayai ucapan kekasihnya kembali menangis. Ia memukuli tubuh pria itu dengan kuat. Beren berusaha menenangkan Bella namun tidak berhasil.
Kini Bella merobek-robek selimut pemberian dari Beren dengan benda tajam. Beren yang menyaksikan perlakuan protes dari Bella tanpa sadar ikut menangis.
“Bella, itu pemberian gaji pertamaku. Kau tega merusaknya?” tutur Beren seraya meneteskan air matanya.
Seburuk apa pun Beren ia masih terus berusaha mengutamakan Bella. Sekali pun gajinya hanya pas-pasan namun ingatannya pada Bella terus membuatnya berusaha membelikan sesuatu tiap kali gajian.
“Aku tidak perduli lagi denganmu. Pergi sekarang biarkan aku yang mengurus perutku ini. Pergi!” pekik Bella dengan air mata yang sudah banjir di wajahnya.
Beren menggelengkan kepalanya tidak mau namun Bella yang terus mendorong tubuhnya ninggal keluar dari kamar Bella terpaksa membuat Beren menjauh sesaat.
“Oke aku akan pergi, Bella. Tapi jangan berbuat yang membahayakan dirimu.” teriak Beren yang terdengar dari luar pintu.
Bella memukul pintu itu seakan tidak ingin mendengar ucapan dari Beren. Hatinya benar-benar hancur ketika mengetahui pria seperti apa yang ia dekati selama ini.
“Aku salah memilihmu, aku benar-benar menyesal Beren. Kau begitu jahat padaku.” tangis Bella yang membuat beberapa pekerja di penginapan itu merasa cemas.
Mereka semua terlihat seumuran dengan Bella hanya berbeda beberapa tahun saja.
“Bella, kau tidak apa-apa? Boleh aku masuk?” tanya Mayang salah satu pekerja yang memiliki kedudukan sebagai manajer penginapan itu.
Bella yang masih menangis bersandar di pintu kamarnya perlahan membuka pintu kamarnya. Seketika ia menangis dipelukan Mayang.
“Bella, ada apa? Katakan!” pintah Mayang dengan suara paniknya.
“Aku...” Bella yang sulit mengakui kehamilannya tiba-tiba membuat Mayang bisa menebak.
“Bel, jangan bilang jika kau hamil.” ucap Mayang yang bisa melihat wajah Bella penuh dengan masalah.
Bella tidak menjawabnya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan deraian air matanya dan kembali membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita itu.
Mayang juga yang sudah memperkenalkan Bella dengan Beren.
“Astaga Bella, sudah berapa bulan? Mengapa kau tidak bicara padaku?” tanya Mayang.
Sungguh pilihan yang begitu berat bagi Bella saat ini. Di saat ia menemukan pria yang benar-benar selalu mengutamakannya namun mengapa Beren memiliki pergaulan yang tidak baik seperti itu.
Jika Bella kembali mengingat semua perjalanan hubungan mereka sungguh bahagia. Beren yang selalu menuruti keinginannya hingga gaji kerja pun ia serahkan pada Bella dengan amplop yan masih tertutup rapat.
Bella sama sekali tidak menginginkan hal itu namun Beren tetap memaksanya untuk mengatur keuangan Beren.
Perlakuan Beren itulah yang membuat Bella sangat yakin jika Beren benar pria yang tepat untuknya.
Dan sekarang di saat masa tersulit seperti ini mengapa semua keburukan Beren baru terbongkar oleh Bella di masa kehamilannya. Sungguh cobaan terberat bagi Bella.
***
Di perjalanan Beren yang sedang mengendarai motornya masih memutihkan air matanya.
“Bella, maafkan aku. Aku bukanlah pria yang sempurna untukmu tapi aku benar-benar menyayangimu sungguh aku benar berubah karenamu. Tapi aku kau masih mau menerima semua kekurangan dan keburukanku setelah ini?” Beren terus bergumam di motor.
Tatapannya tak berkedip sekalipun membayangkan kemarahan Bella saat mengetahui dirinya yang menggunakan barang terlarang itu.
“Beren kau bodoh... kau sangat bodoh mengapa kau harus berada di lingkungan seburuk itu. Kau sudah membuatnya begitu sengsara karenamu dan sekarang apa yang bisa kau lakukan untuknya.” ucap Beren yang ingin sekali memukuli tubuhnya karena kebodohannya.
Tanpa ia ketahui Bella sudah meminta bantuan Mayang untuk mencari apa pun yang bisa mengeluarkan janin yang ada di dalam perutnya itu.
“Bella, kau yakin ingin mengeluarkannya?” tanya Mayang yang ragu.
“Aku tidak punya pilihan lain, Mayang. Aku tidak ingin memiliki hubungan lagi dengannya.” tutur Bella sembari meneteskan air mata begitu derasnya.
“Yasudah kalau begitu nanti akan ku kabari semoga aku bisa mendapatkan obatnya.” ucap Mayang.
“Terimakasih, Mayang.” ucap Bella yang terlihat sangat lemas terus menangis.
Mayang bisa merasakan perasaan hancur Bella saat ini. Tangan yang sejak terus memegangi dada sesaknya itu sungguh menyiksa keadaan Bella.
Mayang berusaha menenangkan Bella hingga memberinya semangat lagi. Namun semua hanya sia-sia.
“Aku yang minta maaf padamu, Bella. Aku yang bersalah telah mempertemukan mu dengannya. Andai semua tidak...” Ucapan Mayang yang di hentikan oleh gelengan kepala Bella.
Bella tersenyum berusaha mengusap air matanya. “Tidak Mayang, kau tidak bersalah. Ini semua aku yang salah karena tidak bisa menjaga diri dari pria seperti itu.” tutur Bella.
Setelah keluar dari kamar Bella, kini Mayang sudah beberapa kali menghubungi teman-temannya untuk mencarikan apa yang Bella butuhkan.
Obat berdosis tinggi itu sudah ia temukan dengan harga tidak sedikit. Meskipun sedikit kesulitan Mayang mencarinya dan akhirnya ia pun menemukan dari salah satu teman dekatnya yang berprofesi sebagai wanita malam.