Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Hari Kelulusan



Setelah kejadian hari itu, Bella sudah tidak lagi memiliki waktu bertemu dengan Beren. Keduanya terhalang dengan jeruji besi. Beren yang kerap kali berharap agar bisa bertemu dengan Bella tak bisa melakukan apa pun selain berdoa.


Sementara Bella yang sulit untuk berusaha karena Brian terus mengawasinya hanya bisa menangis dan mengurung diri di kamar saja. Setelah beberapa minggu lamanya, tiba-tiba Brian terpaksa harus pulang bersama dengan Kirana karena ada proyek yang harus ia tangani saat itu juga.


Sementara mereka yang berfikir tidak mungkin jika harus membawa pulang Bella dengan keadaannya yang sangat lemah akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Bella di rumah dengan satu asisten rumah tangga mereka. Tanpa mereka sadari Bella sudah merencakan untuk kabur setelah kepergian orangtuanya.


Bella nekat pergi dari rumahnya karena ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, sementara keluarga dari Beren mendesaknya agar mau membantu Beren lepas dari penjara itu. Satu-satunya cara adalah membuat Brian mencabut tuntutan yang ia beri pada Beren.


Bella sudah pergi dengan bantuan temannya, ia beberapa hari menghilang. Brian yang berada di rumah dengan Kirana baru saja sampai sudah kembali mendengar berita mengejutkan itu.


Ia mendapat telfon dari asisten rumahnya jika Bella sudah pergi menghilang. Brian berusaha mencari Bella melalui orang-orang kepercayaannya, namun sudah berapa hari usahanya masih tidak berhasil. Para pihak kepolisian sudah melacak keberadaan Bella, namun hasil akhir mereka menemukan keberadaan Bella yang masih belum jelas posisinya karena ponsel Bella sudah tidak aktif lagi.


Bella yang menurut perkataan Ibu Beren harus meminta surat pernyataan keringanan dari Brian. Sementara Bella sendiri sebenanrnya enggan melakukan itu. Ia ingin jika ayahnya menikahkan mereka, karena Bella berfikir jika mereka menikah, tentu ayahnya tidak akan memenjarakan Beren.


Tapi hal itu berbeda dengan keinginan keluarga Beren, mereka menginginkan surat keringanan itu. Akhirnya karena rasa bersalahnya, Bella pun hanya bisa menurut saja.


"Hari ini hari pengumuman kelulusanku. Aku tidak bisa berkumpul dengan teman-temanku di hari terkahir seperti ini." ucap Bella menangis dengan duduk di depan sungai yang tampak tenang.


Kebetulan tempat ia bersembunyi saat ini tepat di tepi sungai, setidaknya tempat itu sangat tenang. Bella benar-benar telah mengambil langkah yang salah saat ini. Ia telah melewati masa indah dengan begitu banyaknya permasalahan akibat keputusan bodohnya itu.


Tanpa ia ketahui jika Brian sudah kembali ke kota itu karena ia datang ke sekolah tempat Bella. Brian menemui kepala sekolah yang terkenal dekat dengannya.


Brian menangis di hadapan kepala sekolah Bella, ia tak sanggup lagi harus mengatakan apa saat itu. Air mata yang sudah lama terpendam dengan kemarahannya kini sukses jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Mendadak kepala sekolah itu cemas dan mendekat pada Brian ia memegang pundak pria itu.


Brian masih menangis histeris di ruangan hingga membuat para guru penasaran dengan suara di dalam ruangan itu.


"Saya tidak tahu lagi harus bicara seperti apa, Pak. Hati saya hancur, harapan saya hancur saat ini. Anak saya pergi dengan keadaan hamil. Saya tidak tahu lagi di mana dia sekarang." tangis Brian pecah dengan suara bergemetar ia berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Pak Brian, saya benar-benar tidak menyangka Bella bisa melakukan hal ini. Saya juga turut sedih mendengarnya. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan Bella, kami semua tidak ada yang tahu tentang keadaan Bella selama ini." tutur kepala sekolah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kepala sekolah itu akhirnya berusaha menguatkan Brian meskipun beberapa kali ia juga turut meneteskan air matanya. Sebagai seorang ayah tentu ia bisa merasakan kehancuran harapan yang mereka gantungkan begitu tinggi pada anaknya.


Setelah cukup lama mereka berbicara kini kepala sekolah memanggil wali kelas Bella untuk bertemu dengan Brian. Sama halnya seperti yang kepala sekolah tunjukkan, wali kelas Bella sangat syok mendengarnya. Ia pun baru menyadari mengapa Bella sering sekali tidak kuat saat mengikuti olahraga mau pun kegiatan upacara.


Ternyata ia tengah menyembunyikan kehamilannya selama ini tanpa ada satu pun orang yang tahu. Akhirnya dengan inisiatif wali kelas Bella, akhirnya ia mengajak seluruh teman sekelas Bella untuk ikut mencari keberadaan Bella.


Semua begitu terkejut mendengar kasus yang di alami teman mereka, termasuk teman dekat Bella ia sangat tidak menyangka jika Bella hamil. Mereka semua pun segera pergi ikut dengan Bria, ada yang menggunakan motor dan ada juga yang ikut menaiki mobil Brian.


Mereka bertanya satu persatu rumah yang berada di daerah titik yang Brian sebutkan namun seharian itu hasilnya masih nihil. Nomor Bella beberapa kali mereka hubungi masih saja tidak aktif.


Seharian bagi Brian sangat melelahkan hingga pada malam hari ia sudah tidak bisa menahan kelalahannya lagi akhirnya dirinya pun sakit. Tubuhnya kembali menggigil kedinginan dan hanya satu asisten rumah tangga yang merawatnya.


Kirana terkejut saat mendapat telfon dari rumah suaminya, ia pun segera berangkat malam itu juga dengan supirnnya. Sepanjang jalan Kirana terus berusaha menghubungi Bella namun nomornya masih tidak aktif juga. Kekhawatiran Kirana semakin jadi, ia takut jika sampai terjadi apa-apa dengan Bella, selama ini Bella tidak pernah senekat itu. Bagaimana bisa sampai ia berani kabur.


Fikiran Kirana langsung tertuju dengan keluarga Beren, ia meminta supir agar setelah sampai di kota itu mereka segera ke rumah pria itu. Beruntung paman Bella mengetahui keberadaan rumah Beren dari anaknya itu.