
Hari itu Bella merasa sangat takut, ia takut jika jika sampai terjadi apa-apa dengan Beren. Dan Bagaimna nasib Bella jika Beren tidak pulang.
Sampai sore Bella berusaha menghubungi pria itu, namun ponselnya masih saja tidak bisa terhubung. Bella yang tak kuasa menahan ketakutannya hanya bisa menangis di dalam kamar.
Hujan bercampur angin terdengar begitu meniup ke sana kemari pepohonan. Sampai hari mulai gelap, Bella pun memutuskan untuk pergi mandi agar bisa lebih segar.
Tak beberapa lama kemudian seusai Bella berganti pakaian tiba-tiba suara pintu kamar terdengar.
Dengan cepat ia membuka kamarnya, “Akhirnya kau pulang juga.” ucap Bella yang melihat kedatangan Beren.
“Ayo kita pergi makan lalu ke rumah.” ajak Beren pada Bella.
Bella pun berlalu mengambil tas miliknya dan mereka bersiap untuk keluar.
Sayang, sore itu sebelum sempat Bella keluar dari kamarnya bersama Beren, seorang pria yang tidak lain adalah orang kepercayaan Brian hadir di depan kamar Bella.
“Om Agus.” ucap Bella pada pria yang saat itu tengah memakai seragam polisinya bersama satu temannya.
Ia menatap ke dalam kamar Bella dan melihat seorang pria di sana. “Kamu sini!” panggilnya pada Beren.
“Ada apa?” tanya Beren dan melangkah menjauh dari Bella.
“Ya Tuhan mengapa lagi-lagi mereka mencampuri hidupku sih?” gumam Bella benar-benar ingin mengutuk keluarga itu.
Terlihat dari jauh Beren dan dua polisi itu berbicara dengan pelan. Lalu pria itu memotret ktp milik Beren.
Bela sudah merasa tidak tenang sejak kedatangan wanita hari kemarin itu. Tak lama kemudian Agus dan temannya pun pergi meninggalkan Beren.
Dengan cepat Bella menghampiri Beren. “Dia bicara apa?” tanyanya penaran.
“Hanya bertanya tentang kehamilanmu, dan meminta aku segera menyelesaikan.” tutur Beren.
Malam itu Bella yang merasa sangat lapar sudah tidak bisa lagi makan, mereka di warung makan pun hanya sebentar.
Di sana Bella hanya menangis ketakutan, Beren berusaha menenangkan begitu juga dengan Rizki teman Beren.
Tak lama kemudian Mayang pun datang menghampiri Bella. “Bella, apa kau tidak ingin pergi saja?” tanyanya.
“Aku tidak tahu, aku benar-benar bingung, Mayang saat ini,” tutur Bella meneteskan air matanya tanpa henti.
“Ayo kita ke rumah cepat.” ucap Beren mengajak Bella dan meninggalkan Mayang di sana.
“Kalian yakin tidak mau pergi? Waktu kalian tinggal sebentar lagi.” Mayang kembali mengingatkan keduanya.
“Iya Mayang, aku harus bicara dengan orangtuaku dulu sebentar. Nanti jika kam harus pergi aku akan menghubungimu yah.” ucap Beren dan segera berlalu pergi.
Rumah Rizki yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Beren kini membuat keduanya lebih cepat sampai.
Di rumah Beren, ia yang tiba-tiba menangis di kaki ibunya membuat Bella tak kuasa menahan tangis itu.
“Hey Beren ada apa ini?” tanya Ibu Beren yang tidak mengerti masalah anaknya.
Beberapa kali Beren terdengar meminta maaf dengan tangisan yang tak kalah nyaring dari suara permintaan maafnya.
“Katakan ada apa!” seru Ibunya dengan nada bicara yang sudah meninggi.
“Maafkan Beren, Bu. Bella hamil.” terangnya dengan tangis yang semakin pecah.
“Allahuakbar...Beren. Bella hamil?” Ibu Beren kembali bertanya dan membungkam mulutnya air mata pun sudah mulai membanjiri wajahnya.
“Ini karena kau Bella, berapa kali sudah ku peringatkan jangan terlalu sering sama-sama.” Kini Bella kembali di salahkan.
Bella bingung mengapa dirinya selalu di salahkan, bukan Bella yang ingin Beren selalu tinggal di tempatnya. Tapi Beren selalu menolak, ia bahkan marah jika Bella memintanya pulang. Dan sekarang saat Bella di salahkan Beren sama sekali tak bergeming.
“Beren, mengapa kau tidak menjelaskan semuanya? Apa kau terima saja jika aku di salahkan seperti ini?” gumam Bella yang masih memperhatikan wajah Beren.