
Hari-hari Bella lalui dengan perasaan cemas pada sang Ayah, namun Kirana yang tidak memiliki keberanian untuk pulang terus berusaha membujuk Bella agar tetap tenang sekolah di tempat barunya. Bella yang saat itu masih sangat kecil tentu tidak bisa melakukan apa pun selain menurut perkataan Kirana.
Sampai selama dua minggu lamanya Bella bersekolah di sana, tiba-tiba Kakak Kirana yang mendapat kabar dari salah seorang teman Brian jika baru saja terjadi kecelakaan. Dan saat ini Brian sedang di bawa kerumah sakit, Bella yang mendengarnya begitu syok sampai ia terus meminta Kirana agar pulang.
Tanpa bisa menolak lagi kini Kirana memberanikan diri untuk pulang, sebelum mereka pulang Nenek Nirmala terus memeluk tubuh mungil Bella sambil sesekali menangis karena khawatir dengan keadaan cucunya.
"Ibu sudah yah, Bella tidak apa-apa aku akan menjaganya." ucap Kirana yang berusaha meyakinkan Ibunya.
Setelah cukup lama mereka berbicara dengan ketidak relaan akhirnya Nenek Nirmala melepaskan kepergian Bella dengan isak tangisnya.
Bella yang berusaha kuat terus melambaikan tangannya pada sang Nenek, sesuai perintah Kirana jika Bella tidak boleh membuat Nenek memikirkan dirinya berlebihan lagi karena akan membuat Nenek semakin sakit.
Perjalanan yang begitu panjang mereka lalui sampai akhirnya Bella dan Kirana tiba di rumah mereka. Suasana terasa sangat sepi tidak ada terlihat orang di sekitar rumah mereka, Kirana yang dengan ragu melangkah masuk ke rumah. Di sudut pintu kamar ia melihat Brian yang duduk dengan memegang kepalanya seperti sedang melamun.
"Ayah." panggil Bella yang datang menghampiri Brian.
Brian yang mendengarnya segera memeluk tubuh mungil Bella dan sesekali mencium wajah putrinya, begitu sangat rindu rasanya setelah hampir sebulan ia di tinggalkan seorang diri.
Kirana yang masih tetap tidak bersuara pada Brian kini menuju kamarnya, ia sepertinya sedang di bohongi oleh Brian jika baru saja kecelakaan agar mereka mau kembali. Brian yang masih tidak ingin berbicara pada Kirana hanya terlihat cukup tenang ketika melihat istri dan putrinya telah kembali.
Setelah cukup lama Bella pergi kini sudah tiba saatnya untuk ia kembali belajar di sekolah lamanya. Bella yang begitu senang bertemu dengan teman-teman sekelasnya tampak bahagia. Meskipun kehidupannya tidak akan berubah masih tetap seperti dulu yang selalu khawatir dengan Ayahnya yang akan menunggunya pulang sekolah untuk melihat nilainya.
Brian yang masih belum jerah memukuli Bella tiap kali melalukan kesalahan saat mengisi jawaban kini akhirnya terjawab juga hasilnya. Setelah Bella pulang sekolah dan mendapat pembagian nilai hasil ulangan semester pelajaran matematika matanya begitu tidak percaya ketika melihat nilai seratus di lingkari sempurna oleh wali kelas Bella.
"Selamat yah untuk Bella." ucap wali kelasnya.
"Terimakasih Pak Bagas." jawab Bella dengan mencium punggung tangan gurunya.
Kini Bella terus berlari menuju rumah dan menghampiri Brian yang masih tertidur lelap di kamar.
"Ibu, Ayah mana?" tanya Bella begitu bahagianya tanpa memberi tahu Kirana.
"Di kamar." jawab Kirana yang bingung melihat putrinya senyum-senyum dengan memegang kertas.
Bella yang berlari tanpa rasa takut segera menghampiri Brian di kamar dan membangunkannya meskipun hal itu baru pertama kali ia lakukan rasanya perasaan takut bocah kecil itu hilang sementara waktu.
"Ayah." panggil Bella.
"Hem." jawab Brian cuek.
"Ayah, Bella dapat seratur ulangan matematikanya." jelas Bella yang menyodorkan kertas ke arah Brian.
Mendengar ucapan Bella dengan cepat Brian terbangun dari tidurnya matanya membulat dengan sempurna, wajah senyum bangga tampak terlihat di wajah pria itu dengan cepat ia memeluk tubuh putrinya.
"Akhirnya kau bisa juga medapatkan ini." ucap Brian yang merasa bangga pada Bella.
Setelah seminggu ulangan kini tiba waktunya pembagian raport yang seperti biasa akan di ambil dengan wali murid, hari itu Brian tampak bersemangat datang ke sekolahan Bella. Ayah dan anak itu pergi bersama meninggalkan Kirana di rumah seorang diri.
Sesampainya di sekolah Brian yang sudah bertemu dengan wali kelas da wali murid lainnya kini memasuki ruang kelas untuk mengikuti pembagian raport. Setelah Pak Bagas membuka acaranya kini tiba waktunya pembagian rapor.
"Kaila Sifabella Syein." panggil Pak Bagas dengan wajah tersenyum bangga.
Dengan cepat Brian maju kedepan bersama Bella dan duduk di kursi yang sudah di sediakan, Pak Bagas yang mengangguk salut tidak percaya dengan kemampuan Bella hanya tersenyum menggelengkan kepala. Kemudian tangannya terulur pada Brian.
"Selamat Pak Brian, putri anda luar biasa selama saya mengajar baru kali ini ada murid yang bisa mengerjakan soal ulangan benar semua." ucap Pak Bagas yang tidak bisa berkata-kata lagi.
"Terimakasih Pak." jawab Brian dengan tersenyum bangga pada Bella.
Bella yang mendapat hadiah dari wali kelasnya yaitu seragam sekolah baru merasa senang sekali sampai ia pulang bersama Brian. Di rumah Brian juga sudah menyiapkan hadiah untuk Bella, sepatu baru dan tas baru lengkap semua kebahagiaan Bella hari itu.
"Bella, pertahankan ini jangan sampai turun." ucap Brian yang terdengar mengancam.
"Iya Ayah." jawab Bella yang mulai sadar dari mimpi indahnya.
Seperti biasa setelah pembagian raport Bella yang mendapat libur semester dari sekolah selalu menikmati masa liburnya dengan belajar tanpa henti, Brian terus memberinya pelajaran yang semakin sulit, kali ini Bella merasa sangat berat tanpa ada Paman Jiko yang bisa membantunya lagi.
Bella harus bisa melewati ini semua sendirian dan jika memang ia tidak mampu tentu harus bisa menerima kenyataan jika mendapat pukulan lagi dari sang Ayah.
Liburan semester tanpa terasa terlewati begitu cepat kini Bella yang sudah mulai aktif belajar di kelas tampak panik ketika mendapat nilai matematika tujuh puluh. Selama perjalanan Bella begitu gugup karena merasa bersalah telah menjawab soal tidak hati-hati.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Bella dalam hati.
Bella terus berfikir keras sampai akhirnya ia berhenti di tengah jalan dan membuka tasnya, matanya menatap lembar terakhir yang melihatkan nilai tujuh puluh di bukunya. Tanpa berfikir panjang Bella segera merobek lembaran terkahir itu dan membuangnya.
Setelah memastikan robek tanpa sisa kini Bella kembali ke rumah dengan wajah gugupnya karena melihat Brian yang sudah duduk di tempat favoritnya depan pintu. Langkah gadis itu perlahan terhenti dan kembali melangkah ketika Brian melihat kehadirannya.
"Mana bukumu?" tanya Brian.
Bella merasa begitu sangat takut sampai tangannya bergemetar saat mengambil buku dari dalam tasnya dan meletakkan di tangan Brian.
"Mana?" tanya Brian yang melihat tidak ada pertambahan nilai di lembar terkahir buku Bella.
"Tadi tidak blajar, Ayah kami hanya berlatih di papan tulis saja." jawab Bella yang berbohong.
Akhinrnya Brian memberikan buku ajaib Bella yang di sana sudah tertulis beberapa soal untuk Bella karena Brian akan pergi keluar.
Entah sejak kapan gadis kecil itu sudah mulai berani berbohong demi menyelamatkan dirinya dari pukulan sang Ayah, yang jelas setiap pilihan tentu akan sulit di ambil namun ketika seseorang mendapat kesempatan memilihnya demi menyelamatkan diri tentu ia akan mengambil kesempatan itu. Selama tidak akan merugikan orang lain.