Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Bella Ketakutan



Malam hari saat Bella di tidurkan oleh Kirana mendadak tubuh Kirana bergoyang tidak beraturan, Bella menyadari jika Ibunya sedang di pukuli Ayahnya dari belakang agar Bella tidak tahu.


“Ibu, mengapa Ayah memukuli Ibu lagi?” gumam Bella yang sedang berusaha mencerna kejadian di belakangnya.


Tubuh Bella tampak berkeringat dingin membayangkan Ibunya yang saat ini di tendangi oleh Ayahnya dengan sangat keras. Sepertinya kemarahan Brian tentang perselingkuhan itu masih belum padam pada Kirana.


Bella bisa merasakan isak tangis Ibunya yang berusaha menutup mulutnya dan memilih pasrah di pukuli oleh Ayahnya di tengah malam seperti itu. Bella terus menahan diri ia sangat bingung apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Ibunya.


“Ibu...ibu.” panggil Bella yang berpura-pura menangis dalam mimpi.


Seketika kegaduhan di belakang Bella terhenti sepertinya Ayahnya berhenti memukuli Kirana karena takut Bella melihat. Akhirnya Bella yang berpura-pura membalikkan tubuh dengan memeluk Kirana kini membuat Brian kesal dan keluar dari kamarnya.


Brian melihat tidak ada kesempatan lagi untuk memukul istrinya karena Bella sudah meliangkarkan tangan dan kakinya pada tubuh Kirana. Setelah Bella memastikan Ayahnya keluar dari kamar kini mata Bella terbuka melihat air mata di pipi Ibunya yang terus mengalir.


Entah Bella saat itu berfikir apa, yang jelas ia tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, yang Bella tahu hanyalah Ayahnya yang selalu kasar dengannya dan Ibunya. Kirana yang hanya menangis dengan mata sembabnya kini tertidur dalam pelukan Bella.


Hari-hari mereka lalui dengan begitu sangat menyakitkan, tidak ada kebahagiaan atau pun kehangatan di dalam keluarga mereka. Brian yang dulunya sangat rajin melakukan solat lima waktu semua sudah ia tinggalkan.


Sampai pada suatu hari setelah beberapa tahun lamanya mereka lalui kini Bella yang sudah menginjak kelas lima SD mulai mendapat kebebasan dalam belajar. Brian yang tampak sibuk dengan perusahaan baru yang ingin membawa tempat mereka menjadi lebih baik. Usaha Brian begitu keras mengajak masyarakat di sekitarnya untuk mendukung perusahaan itu. Sementara waktu Brian sudah tidak banyak lagi pada Bella dalam belajar.


“Bella, sana belajar.” pintah Kirana yang menyuruh putrinya untuk belajar.


“Iya, Bu.” jawab Bella dengan cepat.


Jadwal Bella belajar tetap seperti biasanya ketika malam di mulai dari jam enam sore sampai jam delapan malam. Dan ketika siang di mulai setelah tidur siang pulang sekolah sampai jam empat sore. Bella sudah hapal dengan jadwal belajar yang Brian berikan.


“Aduh kenapa rasanya sulit semua yah?” gumam Bella yang berusaha mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku paketnya.


Bella begitu sulit berfikir belakangan ini karena tidak ada yang membimbingnya lagi. Brian yang selalu membuat Bella tergantung padanya untuk menjelaskan kini membuat Bella kesulitan untuk memulai semuanya sendirian.


“Ibu, Bella tidak mengerti yang ini.” ucap Bella yang menghampiri Kirana di dapur.


“Yasudah nanti tanyakan pada Ayahmu saja.” jawab Kirana tanpa mau melihat pelajaran Bella.


Wajah bocah kecil itu tampak kesal karena lagi-lagi Ibunya tidak memberikan bantuan padanya dan justru menyodorkan Bella pada Ayahnya lagi.


“Bagaimana ini jika Ayah tahu pasti akan marah dan memukulku lagi?” gumam Bella yang merasa takut.


Dengan cepat gadis itu kembali pada Ibunya. “Ibu aku sudah bisa mengerjakannya.” ucapnya.


Brian yang baru saja pulang kini tampak memerah wajahnya, ternyata hari itu terjadi keributan di perusahaan baru dengan perusahaan yang lama. Mereka tampak saling berebut kekuasaan dan beberapa masyarakan yang di ajak Brian bergabung justru menolak karena merasa tidak percaya.


Sementara Brian yang berusaha menjelaskan pada mereka justru di pukul dengan kayu tepat di hidungnya. Saat di rumah Brian terlihat kesakitan di bagian hidungnya dan terlihat darah yang menetes.


Kirana yang melihat suaminya kesakitan kini segera berlari mengambilkan alat pembersih luka dan obatnya. Brian yang kini di obati oleh Kirana bercerita tentang masalah hari itu semua benar-benar di luar dugaan. Beberapa orang yang berusaha keras menentang Brian tampak mempertahankan perusahaan yang sampai saat ini masih belum terlihat jelas kemajuannya.


Perjuangan Brian memajukan tempat tinggal mereka benar-benar sulit, beberapa oknum yang sudah bekerja sama dengan perusahaan pertama begitu membenci Brian. Tidak jarang mereka berusaha mengintai rumah Brian. Beruntung beberapa sahabat Brian ikut membantu dengan menjaga rumah Brian.


Setiap malam Bella dan Kirana merasa takut jika saat tidur mereka akan di bunuh dengan orang-orang itu.


“Tidak apa-apa menegangkan seperti ini, setidaknya aku tidak ketakutan seperti dulu Ayah selalu menungguku di meja belajar hehe.” ucap batin Bella yang berbaring legah di kasur empuknya.


“Kau sudah belajar?” tanya Brian yang tiba-tiba masuk ke kamar mengambil rokok.


“Ayah. Sudah baru saja selesai.” ucap Bella yang terbangun kaget dari tidurnya.


Ternyata Bella lupa menutup pintu kamarnya karena terlalu senangnya ketika melihat Ayahnya sibuk bicara dengan teman-temannya di luar.


“Inikan belum jam delapan.” ucap Brian lagi sambil melihat jam dinding.


“Em...tadi Bella belajar lebih awal Ayah.” ucap Bella yang lagi-lagi berbohong.


Brian yang tampak acuh kini meninggalkan putrinya di kamar dan kembali bergabung dengan teman-temannya. Perjuangan Brian sudah tidak main-main lagi kegigihannya sangat besar memajukan perekonomian masyarakat sekitar. Dan beruntungnya masyarakat yang cukup banyak memilih berpihak pada Brian dari pada perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa oknum itu.


Tidak bisa jika mereka juga sebenarnya berteman baik dengan Brian, namun kekuasaan yang di janjikan perusahaan itu pada mereka membuat akal dan fikirannya tertutup sampai tidak bisa menerima penjelasan apa pun yang di ucapkan oleh Brian.


Berbulan-bulan Brian lewati dengan susah payah, sampai akhirnya tiba perusahaan yang mereka percaya bisa membawa kemajuan ternyata benar adanya. Satu persatu lahan milik masyarakat sudah mulai di hitung untuk di pergunakan menanam kelapa sawit.


Sedangkan perusahaan yang pertama sampai saat ini masih belum melihatkan hasil dari lahan masyarakat yang memihak padanya. Berbeda dengan perusahaan yang Brian yakini.


Tanpa terasa waktu begitu cepat terlewatkan, Bella yang sudah memasuki ulangan semester satu kelas enam kini tampak bersiap-siap sekolah. Wajahnya tidak bisa di tebak ada raut takut, dan juga tenang.


Bella takut jika ia memiliki hasil yang tidak baik semester ini karena tentu Brian akan memarahinya, dan senangnya jika Brian memarahinya mungkin tidak akan berlangsung lama karena setiap malam di rumahnya selalu banyak teman Ayahnya yang berkunjung.


Sehari Bella lalui di sekolah dengan mengisi soal-soal ulangan semester, kali ini Bella masih yakin jika ia masih tetap bisa mendapatkan peringkat satu di kelasnya. Meskipun nilainya mungkin tidak sebaik semester-semester sebelumnya.


“Bagaimana ulanganmu?” tanya Brian yang membuat Bella terkejut saat berloncat-loncat pulang sekolah dengan wajah girangnya.