
Sesampainya Bella dan Beren di penginapan milik Brian, Beren segera berpamit untuk pulang.
“Tunggu!” ucap Bella menghentikan langkah Beren.
“Ada apa?” tanya Beren mengernyitkan dahinya.
“Aku takut, mereka pasti sudah mengikutimu.” tutur Bella yang sudah menduga-duga.
“Percayalah aku tidak akan kenapa-kenapa. Kau istirahatlah sekarang, besok kita akan bertemu dengan orangtuamu.” ucap Beren yang berusaha menenangkan Bella.
“Iyasudah kau pulang hati-hati yah.” tutur Bella dan berdiri di depan pintu memastikan Beren pulang dengan selamat.
Namun tanpa ia tahu di perjalanan Beren sudah di hadang oleh Agus dan juga temannya. Kedua polisi itu berusaha memukul Beren dari lajunya perjalanan malam itu.
Beren hanya berusaha menghindar, ia sadar apa pun yang ia lakukan tidak akan membuat keadaan membaik.
Motor Beren melaju ke arah rumahnya sampai kedua polisi itu kehilangan jejak.
Agus merasa kesal karena tidak mendapat kesempatan memukul Beren.
“Halo Pak Brian, pria itu kabur pak.” Agus memberi laporan palsu pada ayah Bella.
Brian yang geram mendengar laporan itu seketika kembali naik darah. Segera ia menghubungi Bella.
“Halo, Ayah.” sahut Bella yang merasa lemas di sekujur tubuhnya.
Malam itu sudah semakin larut namun Bella masih belum juga bisa memejamkan matanya.
“Dimana laki-laki brengs*k itu?” tanya Brian yang sudah emosi.
Bella terkejut mengapa ayahnya lagi-lagi mempertanyakan hal itu. “Beren sudah pulang ke rumahnya, Ayah.” jawab Bella.
“Apa si polisi itu lagi-lagi memfitnah Beren?” gumam Bella yang benar-benar tidak habis fikir dengan orang kepercayaan ayahnya.
“Suruh sekaran juga di ke penginapan dengan keluarganya. Biar mereka bertemu keluarga di sana.” pintah Brian yang segera memutus sambungan telfon itu.
Bella merasa penasaran keluarga yang mana yang di maksud ayahnya itu. Bukankah mereka tidak memiliki keluarga dekat selain keluarga yang selama ini menjodohkan Bella dengan putranya.
“Ah rasanya tidak mungkin, tapi kalau bukan mereka siapa lagi?” ucap Bella bertanya-tanya.
Kini Bella pun meraih ponsel dan menghubungi Beren.
“Kau dimana?” tanya Bella dengan cepat saat mendengar telfon itu terhubung.
“Aku di rumah, ada apa?” jawab Beren tanpa mau memberi tahu Bella jika dirinya baru saja berusaha lari dari kejaran Agus dan temannya.
“Ayah memintaku untuk menyuruh kau dan keluargamu kemari.” tutur Bella dengan ragu.
“Benarkah? Apa mereka akan menyetujui hubungan kita?” Beren merasa ada jalan cerah untuk hubungannya dengan Bella.
Mendengar ucapan Beren seakan Bella juga ikut terhipnotis hingga ia lupa dengan kekhawatirannya tadi.
“Aku tidak tahu, yang jelas kata Ayah kalian harus kemari.” ucap Bella.
Bella yang sudah duduk di depan penginapan menunggu kedatangan Beren dan keluarganya.
“Hah mobil polisi? Apa ini?” ucap Bella dalam hati tampak syok karena yang ada di hadapannya saat ini bukanlah keluarga seperti yang di sebut ayahnya.
Ada empat orang polisi yang sudah datang menghampiri Bella.
“Bella, tolong ambilkan semua data diri anda akta kelahiran dan lainnya.” pintah seorang polisi yang sudah tidak asing di mata Bella.
Brian memang begitu banyak kenalan kalangan atas hingga polisi pun begitu banyak yang kenal dengannya.
“A-pa Ayah yang menyuruh kemari?” tanya Bella dengan gugupnya.
Mereka hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bella ke kamarnya untuk mengambil berkas milik Bella.
Tak lama terlihatlah Beren yang bersama keluarganya sudah tiba di depan penginapan. Kedua orangtua Beren tampak bersapa dengan para polisi itu. Mereka sudah saling kenal meskipun tidak begitu dekat sepeti Brian.
“Begini Bella, umur kamu saat ini belum genap 18 tahun, jadi kamu masih berada dalam perlindungan anak. Dan atas perintah ayah kamu, Beren juga harus ikut bersama kami untuk ke kantor polisi.” terang salah satu polisi di depan Bella dan juga keluarga Beren.
“Pak, maksudnya anak saya mau di penjara?” tanya Ibu Beren.
“Untuk itu kami belum tahu pasti keputusan keluarga Bella, Buk. Yang jelas malam ini kami harus mengamankan anak Ibu dulu. Karena Pak Brian mendapat laporan jika Beren tadi ingin melarikan diri.” terang polisi itu yang membuat Beren seketika terkejut.
“Pak, anak saya bukan mau melarikan diri. Tapi polisi dua itu yang ingin menghajar anak saya. Dan anak saya nyatanya di rumah bersama kami.” bantah Ibu Beren yang tidak terima dengan tuduhan pada Beren.
Bella yang terdiam tidak percaya jika Beren harus ke kantor polisi hari itu hanya meneteskan air matanya.
“Jangan menangis, aku akan baik-baik saja.” bisik Beren di telinga Bella yang begitu paham dengan keadaan Bella saat ini.
“Beren harus ikut dengan kami, kepolisian hanya berusaha mengamankan untuk membuat keluarga wanita tenang. Sampai mereka tiba di Polres besok semua baru bisa di bicarakan yang terpenting sekarang Beren aman dulu.” ucap polisi itu berusaha meyakinkan jika tidak akan terjadi apa-apa.
“Ayo Pak, kita pergi sekarang.” Beren yang sudah naik di atas motornya dan mengajak polisi itu untuk ke Polres.
Bella yang hanya bisa menangis meratapi kepergian Beren saat itu.
Ia benar-benar takut tapi ada rasa percaya jika ayahnya akan menikahkan mereka. “Tenang Bella, Ayahmu pasti hanya ingin Beren aman dan tidak melarikan diri. Semoga besok masalah akan selesai.” tutur Bella yang kembali masuk ke dalam kamar.
Tangannya yang tidak melepas ponsel di genggamannya itu berusaha memejamkan mata. Namun besar harapannya agar Beren bisa memberinya kabar.
Sampai jam menunjukkan pukul tiga subuh, ponsel Bella pun bergetar.
“Halo, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Bella begitu khawatirnya.
“Aku tidak apa-apa, kau mengapa belum tidur?” tanya Beren.
“Aku tidur tapi terus menunggu kabarmu.” ucap Bella.
“Aku baik-baik saja di sini. Istirahatlah besok pagi kita akan bertemu.” pintah Beren dan Bella pun menurutinya meskipun rasa khawatirnya masih begitu besar.
Semoga hari cepat berlalu dan masalah akan ada jalan keluarnya tanpa ada yang tersakiti atau menjadi korban. Itulah harapan Bella namun apakah hidup akan semulus itu?