Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Berhasil



Brian yang melihat respon pria tua itu lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya tidak habis fikir. Matanya terus menatap kepergian pria tua itu yang sudah berjalan pincang-pincang karena luka kakinya yang di tendang Burhan.


“Kau seharusnya tidak perlu membantu pria itu.” sahut Burhan dari kejauhan dengan berteriak pada Brian.


Sementara Brian yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya saja. Kali ini mereka begitu benar-benar berada di medan perang yang memperjuangkan tempat tinggal mereka agar perekonomiannya maju. Namun semua memang tidak selalu berjalan mulus, selama ada oknum yang menolak untuk bersatu tentu akan selalu ada tantangan kedepannya.


Begitu lama perjuangan Brian dan kawan-kawannya bersama masyarakat untuk melawan perusahaan yang bekerja sama dengan orang-orang licik itu. Sampai akhirnya semua yang mereka pertahankan benar adanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Perlahan orang yang menawarkan Brian dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan kini beralih meminta bantuan pada Brian untuk mengalihkan tanah mereka ke perusahaan yang kini sudah mulai beroperasi.


Sedangkan perusahaan yang mereka bela mati-matian kini telah bangkrut, dan beruntung Brian telah mengambil keputusan yang tepat membawa masyarakat untuk beralih pada perusahaan yang kedua.


“Pak Brian, saya memberikan anda dan Pak Burhan, Pak Dirga, Pak Tedi, dan Pak Danu masing-masing jabatan di perusahaan ini.” ucap salah seorang Direktur perusahaan itu.


Brian dan para sahabatnya terkejut mendengar ucapan Direktur pada mereka seperti terdengar mimpi.


“Maksud bapak?” tanya Brian yang terlihat ragu.


Akhirnya Direktur itu menjelaskan pada Brian dan yang lainnya karena berkat jasa mereka lah perusahaannya bisa beroperasi dengan lancar. Tentu jasa mereka sangat berpengaruh dengan perusahaannya. Sebab itulah Direktur itu memberikan mereka jabatan sesuai yang mereka inginkan dan setiap bulannya mereka juga akan mendapat gaji di luar pekerjaannya.


“Maaf, Pak. Saya fikir ini sangat berlebihan. Kami ingin membantu perusahaan bukan untuk yang lain tapi hanya ingin perusahaan bisa memajukan perekonomian kami semua dengan membuka lowongan kerja yang luas untuk masyarakat sekitar.” jelas Brian yang dengan tegasnya menolak tawaran.


“Kami bisa meerimanya, Pak.” jawab Pak Danu dan yang lainnya.


Brian tampak kesal mendengarnya namun mau bagaimana lagi mereka semua punya hak masing-masing. Akhirnya teman Brian menerima tawaran untuk menduduki jabatan sebagai asisten di masing-masing divisi. Sementara Brian tetap bersih keras menolak, ia hanya ingin pekerjaan sesuai dengan kemampuannya karena tidak ingin terikat dengan perusahaan tersebut.


“Baiklah Pak, kali ini saya tidak meminta jabatan apa pun. Saya hanya ingin lowongan kerja seperti yang lainnya saja.” ucap Brian yang mendapatkan jalan setelah berfikir lama.


“Anda ingin bekerja di bidang apa, Pak Brian?” tanya Direktur itu.


“Apa Bapak mengijinkan saya untuk mengambil proyek bangunan kecil yang berada di dekat pabrik itu?” tanya Brian dengan ragu.


Direktur yang mendengarnya tertawa terkekeh, permintaan Brian sangatlah sederhana sedangkan di sana begitu banyak proyek yang besar namun ia lebih memilih proyek yang kecil. Bukan tanpa alasan dirinya meminta yang kecil. Brian yang hanya seorang lulusan sekolah mesin tentu tidak begitu berani mengambil resiko di awal.


Akhirnya Direktur yang mendengar alasan dari Brian pun menerima permohonan untuk mengambil proyek kecil itu. Semua berawal dari proyek kecil sampai akhirnya Brian bisa menjadi seorang kontraktor besar dan terkenal. Beberapa tahun ia menekuni pekerjaan itu dan kini kehidupan keluarganya sudah sangat tercukupi. Bella yang tidak lagi belajar dengan Brian tanpa di sadari semua nilai di sekolahnya turun. Ketika kelas enam Bella masih bisa mendapat peringkat satu, namun hal itu tidak terjadi padanya saat mulai menduduki bangku SMP.


Brian yang sudah sibuk keluar kota kini tidak lagi memperhatikan nilai Bella, begitu pun dengan Kirana yang sudah sibuk membuka toko sembako di rumahnya. Selama SMP Bella terus berfikir ingin memiliki waktu bermain dengan teman-temannya di luaran. Tetapi Kirana selalu melarangnya untuk keluar rumah.


Sampai akhirnya Bella bosan dengan tekanan Brian kini ia mulai berani mengambil ekstrakulikuler volly agar bisa memiliki waktu bermain dengan teman sekolahnya. Meskipun Bella sangat tidak percaya diri ketika bermain volly namun itu semua ia lakukan untuk menghindar dari sang Ayah.


“Eh Bel, ayo main volly lagi.” ajak Ranti salah satu teman Bella sejak kecil.


“Ahh aku malu, Ran.” ucap Bella yang berusaha menahan diri ketika di tarik dengan temannya.


Bella yang merasa kalah dengan tenaga Ranti akhirnya memberanikan diri untuk bermain. Setiap minggu Bella mengikuti olahraga itu bukan karena hobinya tapi semua karena ingin memiliki waktu bermain di luar. Hanya waktu itulah yang ia miliki setelah pulang ke rumah tentu ia harus membantu Brian dengan segala pekerjaannya.


Bella yang sudah menginjak usia remaja kini semakin terlihat menarik dengan rambut panjang dan lurusnya selalu sukses mencuri hati para teman-teman prianya begitu juga dengan kakak kelasnya yang banyak mendekati saat di sekolah. Bella yang hanya selalu merespon mereka dengan senyuman tanpa mau memberi kepastian salah satunya.


Meskipun begitu banyak yang mendekatinya, Bella tidak bisa berkomunikasi lebih jauh setelah di luar sekolah. Brian memang melarang keras Bella untuk menggunakan ponsel karena takut mengganggu belajarnya.


Tanpa Brian ketahui Bella sudah banyak dekat denga teman prianya meskipun hanya di sekolah saja. Bella memang tidak berani untuk bertemu teman-teman prianya jika di luar sekolah jika Brian sampai tahu tentu ia akan di pukul.


Bella yang tumbuh semakin dewasa kini tidak lagi bisa fokus dengan sekolahnya fikirannya bermain-main saja. Kesempatannya tidak belajar dengan sang Ayah membuat gadis itu seakan lupa diri. Pria yang mendekatinya semua ia permainkan tanpa satu pun yang bisa menjadi satu-satunya di hati Bella.


Nama Bella di kenal sebagai cewek yang suka mempermainkan pria. Mendengar hujatan-hujatan itu justru Bella menanggapinya hanya dengan senyuman jahatnya saja.


“Di dunia ini tidak ada pria yang perlu di percaya, mereka semua sama saja seperti Ayah kasar.” ucap batin Bella yang mengingat semua perlakuan Brian padanya.


Bella yang terus menerus pacaran di sekolah kini sudah tidak lagi memikirkan pelajarannya, sampai pada suatu hari Bella pulang sekolah telat dan dia di antar teman prianya sampai depan rumah. Kirana yang saat itu berada di depan rumah melihat Bella baru pulang.


“Bella, dari mana saja kamu?” tanya Kirana dengan wajah sinisnya.


“Tadi ada bahas tugas kelompok sebentar, Bu.” jawab Bella yang mulai takut.


“Itu siapa?” tanya Kirana yang melihat teman Bella pergi menjauh darinya.


“Teman kelompok Bella, Bu.” jawab Bella dengan jujur.


“Awas kamu yah sampai pacaran, Ayahmu akan menghajarmu pasti.” ancam Kirana yang megingatkan Bella sampai membuat tubuh gadis itu bergemetar ketakutan, ia takut jika Kirana akan melaporkan pada Brian.