
Kirana, Bella, dan Jiko kini tiba di kampung halaman keluarga Kirana dengan wajah tegangnya entah apa maksudnya membawa pria itu pada keluarganya.
"Bella." panggil Nenek Bella. Namanya Nirmala Kirana ia sangat menyayangi Bella meskipun cucu yang paling jauh yang ia miliki.
"Nenek." jawab Bella yang memeluk tubuh wanita tua itu.
Sedangkan semua kelaurga tampak bertanya-tanya dengan kehadiran Jiko terlebih lagi kedatangan Kirana ke kampung itu secara tiba-tiba. Biasanya ia datang ketika ada hari raya atau hari libur lainnya, akhirnya Kirana masuk bersama keluarga yang lainnya untuk berbicara.
"Apa?" tanya Kakek Samuel yang terkejut mendengar cerita anaknya yang membawa pria selingkuhannya datang pada mereka.
Dan lebih terkejutnya lagi mereka ketika mendengar kedatangan Kirana saat itu karena ulah Jiko yang berpura-pura menelfon sebagai keluarga.
Semua tidak habis fikir mendengar cerita Kirana yang benar-benar di luar dugaan mereka. Sementara Bella tengah asyik bertemu dengan para sepupunya yang sudah lama tidak bersama.
Hari berganti begitu cepat kini sore sudah menjemput kegelapan di langit menampakkan sinar mentari yang mulai menutup dengan berakhir cahaya warna merah. Jiko yang tengah berpamitan dengan keluarga Kirana meminta maaf karena telah membuat mereka malu. Sementara Kirana yang merasa sedih karena kepergian Jiko tak kuasa menahan tangisnya. Bella yang melihat kepergian pria itu juga ikut sedih.
Sumpah demi apa pun Bella yang berumur masih kecil itu tentu akan marah besar jika mengerti persoalan keluarganya dan pria itu, alih-alih ia marah justru bocah kecil itu sedih karena yang ia tahu Jiko adalah sosok Paman yang menolongnya ketika kesulitan belajar. Dan itu tentu sudah membuatnya tidak bisa melupakan Jiko begitu saja.
Kini Bella menangis ketika Jiko sudah pergi meninggalkan mereka, setelah kepergian Jiko Bella terus merasa sedih sampai akhirnya Kirana memberinya berita bagus.
"Benarkah, Ibu Bella akan sekolah di sini asiik." ucap Bella dengan girangnya.
Kini Bella bermain dengan para sepupunya yang berumur tidak jauh darinya hatinya begitu senang mengetahui akan pindah sekolah. Yah Kirana memindahkan Bella sekolah bukan tanpa alasan, ia memang sangat ingin meninggalkan suaminya saat itu. Dan rasanya untuk pulang Kirana sudah tidak berani lagi terlebih di sana ia sama sekali tidak memiliki keluarga yang bisa menolongnya ketika terjadi sesuatu padanya.
***
"Apa yang kalian lakukan di sana?" gumam Brian yang kini duduk di depan pintu dengan tatapan kosongnya.
Hari-harinya begitu terasa sepi tanpa ada dua wanita yang menemaninya di rumah, terlebih lagi Bella yang ikut meninggalkannya di saat hatinya benar-benar terluka. Fikiran Brian kini mulai gelisah karena sudah beberapa hari Kirana pulang ke kampung namun belum ada tanda-tanda mereka akan pulang.
Tanpa Brian ketahui jika Kirana sudah memasukkan Bella sekolah di kampung orang tuanya, Brian sama sekali tidak menyangka jika istrinya bisa mengurus pindah sekolah putrinya tanpa mengambil surat pindah dari sekolah asalnya. Memang pada saat itu peraturan di sekolah belum terlalu ketat seperti saat ini sampai Kirana tidak kesulitan ketika ingin memasukan Bella di sekolah baru.
"Apa istrimu belum juga pulang?" tanya salah seorang teman Brian. Danu adalah teman Brian yang selalu berada bersama Brian ketika bekerja maupun bersantai. Mereka sangat cocok karena Brian sangat sulit memiliki teman yang bisa sejalan dengan dia fikirannya dan hal itu membuatnya selalu meninggalkan teman-temannya.
"Belum, mungkin besok atau lusa." jawab Brian yang mengira-ngira.
"Apa kau tidak ingin menghubunginya?" tanya Pak Danu.
"Tidak, aku tidak mau mereka tahu tentang permasalahanku dengan Kirana." ucap Brian yang dengan nada lemasnya.
Pak Danu merasa prihatin dengan temannya itu tidak pernah Brian terlihat lemah seperti itu selama ini, kali ini kepergian Kirana dan Bella benar-benar telah mengubahnya menjadi sosok pria yang tidak berdaya.
"Bagaiamana Ayah di rumah yah kalau Bella di sini pasti Ayah masak sendirian makannya juga sendirian, kan Ayah tidak suka makan sendirian di meja makan?" gumam Bella yang merasakan kesedihan Brian.
"Bella, ayo kita main!" panggil teman sekelas Bella.
Bella yang mendengar enggan menghiraukan ajakan temannya fikirannya sedang berkecamuk memikirkan sang Ayah yang sendirian. Meskipun Brian seorang Ayah yang kejam, Bella tetap tidak tega jika membiarkannya seorang diri di rumah.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi kini waktunya Bella untuk pulang bersama sepupunya yang juga bersekolah sama dengannya hanya berbeda kelas saja. Sesampainya di rumah Nenek Nirmala, Bella langsung di suruh ganti baju kemudian makan.
Di sanalah Bella benar-benar merasakan ketenangan tidak ada yang keras atau pun kasar padanya, Bella yang melihat udang goreng terpampang nyata di hadapannya dengan segera melahap tanpa sabarnya.
"Bella pelan-pelan makannya." ucap Nenek Nirmala yang melihat cucunya sangat cepat makannya.
"Bella lapar, Nek." jawab bocah kecil itu.
"Kau sangat senang udang yah?" lanjut Nenek Nirmala.
"Tentu saja Nek, Bella senang sekali lagi pula kalau di rumah Bella jarang bisa makan setenang ini." jelas Bella.
"Maksudmu sayang?" tanya Nenek Nirmala yang merasa bingung dengan ucapan cucunya.
Bella yang berhenti seketika saat makan dan menceritakan jika di rumah setiap pulang sekolah ia tentu harus berhadapan dengan Ayahnya terlebih dulu memperlihatkan pelajaran yang ia terima di sekolah dan tentu harus mendapat nilai yang bagus, jika tidak Ayahnya tentu akan memukulnya dan bagaimana Bella bisa makan dengan tenang jika di fikirannya sudah terbayang tangan besar yang melayang di kepalanya.
Nenek Nirmala yang mendengar cerita cucunya begitu tidak menyangka dengan perbuatan menantunya yang sekasar itu pada putrinya sendiri. Kepalanya hanya menggeleng tidak percaya, bagaimana mungkin Kirana selama ini tidak pernah bercerita tentang suaminya yang ringan tangan seperti itu.
Akhirnya setelah Bella selesai makan kini Nenek Ningrum keluar bersamanya untuk duduk di ruang tengah, di sana tampak Kirana yang duduk bersama Kakek Samuel.
"Mengapa kau tidak pernah bercerita Kirana?" tanya Nenek Ningrum.
"Apanya, Bu?" tanya Kirana yang terkejut.
"Brian yang selalu kasar pada kalian." ucap Nenek Ningrum tanpa basa basi.
Kirana yang mendengarnya terkejut seketika matanya membulat saat menatap Bella yang kini sudah tertunduk takut karena berbicara tanpa seijin Ibunya.
"Jangan marahi Bella, dia tidak bermaksud mengatakannya aku yang memaksanya." ucap Nenek Nirmala yang berbohong.
Kakek Samuel yang mendengarnya pun terkejut, tentu ini semua salahnya karena tidak mendengar ucapan istrinya ketika menerima lamaran Brian. Dulu Nenek Ningrum menolak keras ketika Kakek Samuel ingin menikahkan mereka karena usia yang terbilang sangat jauh antara Kirana dan Brian.