
Hari terus berputar seiring waktu yang silih berganti namun perhatian Aldrich pada Bella masih tetap seperti biasanya, ia selalu mengirim pesan untuk mengingatkan Bella belajar dan makan. Bella yang tiap kali membaca pesan dari Aldrich menangis tak tega.
Rasanya ingin sekali memeluk pria itu tapi Bella sadar dia bukanlah wanita yang tepat untuk Aldrich, sunggu tidak pantas jika mereka bersama. Aldrich benar-benar pria yang memiliki ketulusan begitu besar pada Bella sementara Bella berbanding terbalik darinya.
Bella selalu mengacuhkan pesan yang di kirim oleh Aldrich sampai suatu saat tiba waktunya Bella harus pindah sekolah ke luar kota. Brian yang sudah menjemputnya tiba-tiba sangat mengejutkan Bella.
"Ayah."
Wajah Bella kaget melihat Brian dan Kirana yang sudah keluar dari mobil mendatangi Bella di rumah Tantenya. "Ayo kemasi pakaianmu."
"Hah pakai-an?" tanya Bella yang terkejut.
Kirana yang berbicar pada Tante Bella begitu berterimakasih karena telah membantu menjaga Bella selama sekolah di tempatnya. Brian yang sudah pergi bertemu kepala sekolah Bella tidak mengatakan apa pun pada putrinya, sesuai dengan perjanjian Bella dan Brian ia akan pindah sekolah setelah menempuh pendidikan beberapa bulan di tempatnya saat ini.
"Aldrich maafkan aku, aku pindah sekolah. Ayahku sudah menjemputku sekarang, maafkan aku yah selama ini sudah tidka baik padamu."
Isi pesan singkat yang Bella kirim pada Aldrich seketika membangunkan Aldrich dari tidurnya. Matanya menatap bulat pesan singkat dari Bella. Selama ini ia selalu mengirimkan pesan pada Bella tapi tidak satu pun dari pesannya di jawab. Dan sekarang ia membalas pesan sekali dengan isi yang begitu menyakitkan untuk Brian.
"Apa salahku, Bel? tidak cukupkah kita putus dan menyakitiku dan sekarang kau harus pergi jauh." ucap Aldrich yang menundukkan kepalanya menatap kosong. Hatinya benar-benar sakit mengetahu kepergian Bella Aldrich selama ini masih kuat karena bisa sesekali melihat Bella, tapi jika Bella sudah tidak ada lagi akankah dia bisa sekuat itu.
Merasa sudah tidak kuat lagi jika harus membalas pesan itu akhirnya Aldrich memilih tidak mengaktifkan ponselnya. Bella yang menunggu balasan pesan Aldrich kini beberapa kali menghubunginya namun sambungan telfon tidak bisa.
"Sepertinya dia sudah mematikan ponselnya." Wajah lemas Bella melanjutkan gerakan tangannya yang mengemasi barang-barang di kamarnya.
Bella yang telah selesai kini keluar menemui Ibunya yang duduk bersama Paman dan Tantenya. Ia mencium punggung tangan keduanya seraya mengucapkan terimakasih telah memberinya tempat tinggal dengan baik.
"Ayo." Brian yang baru saja tiba menyelesaikan urusan surat pindah Bella kini menunggu Kirana dan Bella masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan Bella terus memikirkan Aldrich, meskipun rumah kekasihnya yang satu saat ini tengah ia lewati tetapi fikirannya tetap fokus pada Aldrich. Ingin sekali rasanya Bella melupakannya tetapi fikiran terus melihatkan wajah Aldrich yang tersenyum kuat tanpa mau jujur apa yang membuatnya sakit.
Rasa bersalah terus menghantui Bella selama panjangnya perjalanan yang ia tempuh bersama kedua orangtuanya saat ini. "Bel, ada apa?"
"Tidak apa-apa, Bu." jawabnya dengan suara lemas.
"Persiapkan perlengkapanmu setelah kita sampai, besok kita langsung ke sekolah barumu." Brian yang memberi tahu Bella lagi-lagi terkejut secepat itu kah ia langsung masuk sekolah.
Bagaimana bisa Bella sampai tidak terfikirkan dengan sekolah barunya karena terlalu sibuk memikirkan Aldrich yang di tinggalkannya. Rasa rindu begitu terasa jelas di perasaan Bella, mengapa ketika jauh seperti ini ia baru sadar jika dirinya sangat tidak kuat jauh dari Aldrich.
Kemana saja perasaannya selama ini, Aldrich yang sudah begitu sabar menunggunya kembali namun terus ia acuhkan dan sekarang? apakah itu tidak egois namanya ingin kembali ketika semua sudah direlakan dan sebelumnya selalu berusaha ingin di relakan.
Perjalanan yang sudah sangat lama kini akhirnya sampailah mereka di rumah Brian yang baru ia beli. Bella segera masuk dan beristirahat sementara Kirana yang sudah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka tanpa lelah ia segera beranjak ke dapur.
Suasana di rumah itu tampak hening seperti biasanya tak ada canda gurau di kehidupan mereka.
***
Hari pertama Bella sekolah akhirnya tiba, semua murid di sekolah itu menatap takjub melihat mobil yang asing masuk di lapangan sekolah depan kantor kepala sekolah mereka. Bella yang turun bersama Brian dan Kirana hanya menatap nanar sekolah barunya.
Rasanya ia belum siap untuk meninggalkan sahabat-sahabatnya dan juga Aldrich di sekolah lamanya. "Ayo."
Ajak Brian yang membuyarkan lamunan Bella seketika dan masuk ke ruangan kepala sekolah itu. Kirana dan Bella hanya mengikuti arah langkah Brian yang lebih di depan dari mereka. Brian yang sudah pernah bertemu dengan kepala sekolah itu kini di sambut ramah.
"Silahkan masuk, Pak Brian." ucapnya seraya mempersilahkan duduk.
Brian yang tanpa basa basi lagi segera meminta mereka untuk mengurus putrinya di sekolah yang baru ini, semua tidak ada yang keberatan dengan permintaan Brian. Tentu mereka tahu siapa Brian, apa pun yang sekolah itu butuhkan saat ini sudah bisa Brian sumbangkan. Salah satu guru wanita kini menyambut Bella dan memintanya untuk ikut ke salah satu kelas yang kebetulan kapasitas muridnya ada yang kurang satu.
Bella mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam kelas, terlihat jelas semua murid yang belum kedatangan guru mata pelajarannya mengeluarkan kepalanya di jendela menyaksikan langkah Bella masuk ke kelas yang di tuju. Bella merasa gugup melihat tingkah mereka yang terlalu berlebihan sebenarnya.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga ada rasa senang ketika ia menjadi pusat perhatian dari ujung kelas sampai ke ujung kelas lagi.