Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Menyatakan Perasaan



Aldrich dan Bella yang sudah cukup lama saling mengenal dan akhirnya Aldrich memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.


“Bella, aku bisa menelfonmu sebentar?” tanya Aldrich lewat pesan singkat.


Bella yang melihat ponselnya berdering tanda pesan masuk dengan cepat membukanya. Wajah cantik itu tersenyum melihat nama Aldrich, ia sangat menunggu-nunggu pesan dari pria tampan itu.


Dengan cepat tangannya mengetik pesan balasan jika ia mengiyakan permintaan Aldrich.


“Halo.” ucap Bella yang baru saja mengangkat telfon dengan wajah senyum-senyum.


“Bella, aku ingin bicara sesuatu padamu.” sahut Aldrich dengan memberanikan dirinya. Meskipun jantungnya berdegup tak karuan takut jika Bella berkata tidak sesuai dengan harapannya.


“Iya, bicara saja.” jawab Bella dengan wajah tak kalah senangnya. Tentu ia sudah tahu topik apa yang kali ini akan mereka bicarakan. Bella sudah sangat lama menunggu moment itu sampai akhirnya kini ia menemukan waktu yang ia tunggu-tunggu.


“Aku mencintaimu, apa kau mau menjalani hubungan denganku? Menemani hari-hariku?” tanya Aldrich terkesan sangat serius jika di lihat sangat berbeda dari penampilannya yang selalu cuek dengan wanita hanya asyik dengan dunia teman-temannya saja.


“Astaga Tuhan, akhirnya...aku tidak bermimpi kan ini?” gumam Bella yang tampak tidak percaya.


“Bella?” ucap Aldrich yang membuat Bella tersadar dari lamunannya.


“Eh iya, maaf aku tidak mendengarnya tadi.” jawab Bella yang berpura-pura karena ingin mendengar ucapan Aldrich kedua kalinya.


“Bella, dengarkan aku. Aku mencintaimu apakah kau mau menerimaku untuk bersamamu?” tanya Aldrich terdengar kaku.


“Apa kau memberiku waktu untuk menjawab ini?” tanya Bella dengan ragunya. Ia sangat menyukai pria itu namun Bella sadar jika saat ini ia memiliki pria lain. Meskipun hubungannya hanya melalui ponsel saja tetapi status tetaplah menjadi status tidak boleh menduakan.


“Iya, aku menunggu jawabanmu kapan kau memberikan jawaban itu padaku aku siap Bella.” jawab Aldrich dengan tenangnya.


Bella begitu senang meskipun hubungannya masih belum resmi dengan Aldrich tapi keinginannya untuk bersama sudah di depan mata saat ini.


Sambungan telfon pun terputus, Bella yang segera menghubungi para sahabatnya kini sudah berkumpul di rumah Gita. Ketiga sahabatnya begitu antusias mendengar curhatan Bella sampai akhirnya mereka terus menghakimi Bella agar tidak bermain-main dengan Aldrich.


“Bel, kamu serius sama dia?” tanya Caca dengan wajah tidak yakinnya.


“Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas aku beneran suka.” jawab Bella yang terlihat tampak jujur.


Ketiga sahabatnya hanya mendengus kesal mendengar jawaban Bella yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka. Bella yang belum bisa percaya dengan pria masih tidak bisa memutuskan untuk menyudahi petualangannya.


***


Dua hari berlalu sampai akhirnya Aldrich kembali menghubungi Bella, rasa penasaran dan tidak sabarnya terus menghantui fikiran pria itu.


“Aku bisa kok jawab sekarang.” ucap Bella yang baru mengangkat telfon dari Aldrich tanpa basa basi langsung mengatakannya.


Aldrich yang memperbaiki posisi awalnya yang berbaring kini duduk dan terlihat wajah berserinya, dalam hati yang paling dalam ia yakin jika Bella pasti akan menerimanya


“Jadi apa jawaban kamu?” tanya Aldrich dengan antusiasnya mendengar.


“Em... iya aku mau kok sama kamu.” jawab Bella yang terdengar ambigu di telinga Aldrich.


“Mau apa Bel, kamu terima aku jadi pacar kamu kan?” tanya Aldrich dengan seriusnya. Bella yang tersenyum gemas di seberang telfon kini merasa keringat dingin gugup bercampur aduk.


Baru kali ini ia merasakan hal itu selama berapa lamanya ia berpetualang dengan banyak pria.


“Iya aku terima kamu.” jawab Bella terdengar malu-malu.


Aldrich yang mendengarnya sangat senang beberapa kali ia mengepal tangannya dan menarik seolah memperagakan kemenangan.


Keduanya kini saling berbicara melalui telfon, terdengar masih malu-malu namun tidak ingin menyudahi telfon itu.


Bella yang hanya bisa tertawa gemas di seberang sana semakin menggeliatkan tubuhnya di atas kasur. Susah untuk mengontrol diri lagi karena terlalu senangnya.


“Sayang, begitu?” tanya Bella yang sambil menggigit jarinya malu.


“Hehe iya sayang.” jawab Aldrich diiringi suara tawanya.


Sampai akhirnya Aldrich menyuruh Bella tidur mengingat waktu sudah semakin malam. Bella pun beranjak dari kasur dan mengunci pintu kamarnya. Karena saat sekolah SMA Bella sudah tinggal bersama Paman dan Tantenya.


Setidaknya sedikit memiliki waktu untuk bersenang-senang dan bebas dari pada di rumahnya sendiri yang selalu di awasi oleh Ayahnya.


Sebelum mematikan ponsel Aldrich meminta waktu esok hari untuk bertemu Bella di depan rumah Tante Bella.


“Tapi... aku takut Ayahku tahu.” jawab Bella dengan ragu.


“Sudah jangan takut, mereka tidak akan menyangka kita berpacaran kok.” jawab Aldrich dengan tenangnya.


Bella yang juga merasa Paman dan Tantenya tidak galak akhirnya mengiyakan ajakan Aldrich untuk bertemu.


Keesokan harinya Bella pun keluar dari kamar ketika melihat Aldrich yang tengah duduk bersantai di depan rumah Tante Bella. Mereka memang tinggal bersampingan rumah saat itu.


Tidak sulit untuk keduanya bertemu tanpa rasa curiga dari keluarga Bella. Aldrich yang mengobrol dengan Bella tanpa menunjukkan tingkah aneh membuat Tante dan Paman Bella tidak ada rasa curiga.


Waktu terus berjalan dengan baik, Bella yang semakin menyayangi Aldrich merasa tidak tega karena sudah menghianati hubungan mereka.


Di rumah Aldrich yang tengah bersama Mamahnya.


“Aldrich, kamu tidak tahu yah jika Bella itu memiliki pria lain?” tanya Mamah Aldrich.


“Apasih Mah? Bella cuma pacaran sama Aldrich saja.” bantah Aldrich dengan yakinnya.


“Ini kamu lihat ini Aldrich, Bella itu ada pacarnya.” ucap Mamah Aldrich sambil menunjukkan layar ponsel terlihat foto Bella yang di edit bersampingan dengan seorang pria.


Aldrich terdiam sesaat, ia bingung harus berkata apa saat melihat foto itu. Tampak jelas foto yang ada di ponsel Mamah Ros berasal dari akun facebook Bella.


“Jadi ini alasan Bella mengatakan tidak memakai sosmed karena takut ketahuan punya pacar lain? Mengapa dia harus berbohong dengan alasan takut di tahu oleh Ayahnya.” gumam Aldrich yang terdiam di depan Mamah Ros.


“Aldrich, dengar Mamah. Bella itu tidak menyukaimu.” ucap Mamah Ros berusaha menyadarkan putranya.


Aldrich yang kesal dengan kejadian itu memilih pergi dari rumah dan menemui sahabatnya yang dari kecil bersamanya terus. Namanya Ardi, mereka sangat akrab bisa di sebut sahabat sejati. Apa pun yang Aldrich rasakan ia selalu berbagi dengan Ardi.


Dengan satu syarat, untuk soal percintaan mereka tidak akan saling mencampuri asalkan bahagia salah satunya juga harus mendukung.


Aldrich yang mendapat masukan dari Ardi untuk menanyakan langsung pada Bella akhirnya mengikuti saran sahabatnya itu.


“Sayang, aku bisa bertemu denganmu?” tanya Aldrich dengan ragu.


“Iya bisa, kesini saja sayang.” jawab Bella dengan penuh semangat.


Sesampainya Aldrich di depan rumah Tante Bella, ia langsung duduk menungg kedatangan kekasihnya. Bella yang baru saja tiba heran melihat ekspresi pacarnya yang menekuk wajahnya.


“Ada apa?” tanya Bella penasaran.


Aldrich yang tidak sanggup mengatakan apa-apa akhirnya memilih bungkam dan menganggap semuanya tidak benar. Ia tidak sanggup menanyakan hal menyakitkan itu pada Bella.


Aldrich begitu menyayangi Bella kekasih pertamanya. Entah langkahnya kali ini benar atau salah yang jelas Aldrich ingin hubungannya dengan Bella tetap berjalan seperti yang ia inginkan.


Bella terus memandang wajah tampan Aldrich dengan penuh tanya. “Sayang, apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya berusaha mencari jawaban dari mata Aldrich.