
Bella berfikir jika hari ini Brian tidak di rumah sesuai dengan yang ia dengar tadi pagi jika mereka akan ke perusahaan untuk menandatangani surat tanah yang mereka pinjamkan pada perusahaan itu.
“Ayah, em baik Yah.” jawab Bella tampak gugup.
Brian yang sudah menyuruh Bella masuk untuk mengganti pakaian dan segera kembali dengan bukunya. Bella merasa sangat gugup ketika harus kembali berhadapan dengan Ayahnya jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
Bella takut jika Brian akan memberikan soal yang lebih sulit lagi dari contoh di bukunya.
“Tuhan, datangkan paman-paman itu, biar Bella tidak di pukul Ayah lagi.” ucap Bella yang berdoa lalu mengaminkan doanya dengan wajah yang mulai tampak tegang.
Perlahan langkah gadis itu mendekat ke arah Brian, Brian yang tampak serius menulis beberapa soal kini sudah menjelaskan pada Bella cara menghitungnya.
“Sudah, kau mengerti?” tanya Brian yang baru selesai menjelaskan cara pengerjaannya.
“I-ya Ayah.” jawab Bella yang terbata.
Brian yang duduk di hadapan Bella tampak memperhatikan putrinya yang sedang menghitung di buku coretannya.
“Apa yang kau lakukan Bella? Itu lambat menghitung menghitung dengan caramu.” bentak Brian yang mengejutkan Bella.
“Sini.” ucap Brian yang menarik buku dari tangan Bella.
Brian mengajarkan cara menghitung dengan cepat, Bella tampak bingung dan untuk bertanya rasanya sangat takut.
“Assalamualaikum.” ucap pria di depan pintu.
“Walaikum salam.” jawab Brian dan Bella bersamaan.
“Alhamdullah, akhirnya datang juga penyelamatku,” gumam Bella.
Bella yang melihat kemunculan pria itu benar-benar merasa tertolong legah sekali Bella bernafas rasanya.
“Yasudah kau lanjut mengerjakannya.” pintah Brian yang meninggalkan Bella sendirian.
“Aku kerjakan saja dulu dengan caraku, nanti kalau sudah selesai baru aku pelajari cara yang di berikan Ayah.” gumam Bella memikir cerdas.
Dengan cepat ia menyelesaikan soal yang Brian berikan, kemudian perlahan Bella memperhatikan cara yang Brian ajarkan. Beberapa kali Bella mencobanya dan berhasil, kini Bella yang sudah mengemasih bukunya masuk ke kamar untuk tidur siang.
***
“Brian, bagaimana tawaran kami?” tanya seorang pria yang terlihat lebih tua darinya. Mereka adalah sekelompok orang yang berpihak pada perusahaan pertama. Berusaha untuk mengajak Brian bekerja sama dalam memajukan perusahaan yang mereka bela. Brian bukan orang bodoh yang begitu mudah tergiur dengan ukuran tanah cukup luas yang mereka tawarkan hanya demi kekuasaan yang di janjikan perusahaan yang belum jelas asal usulnya.
Brian yang merasa kesal karena penghianatan mereka pada masyarakat di sekitar geram dengan perbuatan beberapa orang itu. Bagaimana bisa mereka mengajak Brian mengambil tanah yang seharusnya hak masyarakat itu.
“Maaf, saya tidak tertarik untuk mengambil yang bukan hak saya.” Dengan tegasnya Brian menolak tawaran mereka dan bergegas pergi meninggalkan wajah-wajah penghkianat itu.
Selama perjalanan pulang Brian terus mengepal erat tangannya wajahnya begitu merah padam memikirkan tawaran yang baru saja di berikan padanya. Brian sama sekali tidak habis fikir dengan mereka begitu teganya kah mereka mengambil hak orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Yang seharusnya tanah itu di bagikan pada masyrakat yang tidak mampu, kini justru di ambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, kini Brian sedang berkumpul dengan beberapa orang yang tengah ramai berdiskusi tentang tanah pembagian.
“Braakk.” Suara pukulan yang menimpa kepala samping Brian seketika darah menetes deras.
Semua warga tampak panik ketika mendengar suara pukulan kayu yang menimpa kepala Brian, tubuhnya seketika bergemetar menahan sakit. Seorang pemuda yang dengan beraninya menghadap pada Brian dengan wajah mengejek.
“Kau pantas menerima semua ini, kali ini aku hanya memberimu peringatan saja.” ucap pria muda itu kemudian pergi.
Dia adalah anak dari salah seorang yang memberikan Brian tawaran tanah itu. Merasa kesal karena Brian tidak ingin di ajak bekerja sama akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan menyuruh putranya untuk memberikan pelajaran pada Brian.
“Hey berhenti!” teriak salah seorang yang bersama Brian.
“Sudah tidak apa-apa dia belum mengerti apa-apa.” ucap Brian yang menarik tangan pria itu.
“Kau terluka, ayo ku beri obat.” ucapnya dengan mengajak Brian ke sebuah ruangan yang terdapat alat pembersih luka dan lain sebagainya.
Di ruangan itu Brian tampak mencurahkan isi hatinya pada pria yang lebih tua darinya. “Aku tidak habis fikir dengan mereka bagaimana bisa mereka yang lebih tua dari saya tetapi memiliki fikiran untuk membodohi masyarakat yang lebih membutuhkan?” ucapnya.
“Saat ini Tuhan memberimu amanah untuk membawa kemajuan tempat kita, lakukanlah dengan baik. Tentang kecurangan mereka kelak akan ada balasannya percayalah. Di tempat ini hanya kau yang bisa kami andalkan Brian. Keberanianmu membuat kami percaya dan yakin jika suatu saat nanti semua akan jauh lebih baik.” ucap pria tua itu yang tampak menaruh harapan besar pada Brian.
Brian yang mendengarnya hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Fikirannya hanya sedang berusaha mencerna tentang apa yang terjadi di sekitarnya sangat di luar dugaan. Brian tidak membicarakan tentang dirinya, keluarganya yang hidup serba kekurangan. Tapi di luar sana masih banyak yang lebih kekurangan dari keluarganya dan justru milik mereka di rampas oleh orang-orang yang serakah.
Di rumah Brian yang baru saja pulang mendapat tatapan penasaran dari Kirana, dengan cepat wanita itu mengambilkan alat kompres untuk mengompres kepala suaminya yang terlihat membengkak. Hari-hari rumah mereka selalu terasa hampa. Tidak ada terlihat kehangatan yang mereka rasakan begitu pun dengan Bella yang terus memilih untuk berdiam dari pada berbicara pada Ayahnya. Meskipun ada rasa kasihan melihat Brian terluka namun perasaan takut gadis kecil itu jauh lebih besar tiap kali menatap wajah Brian.
Perjuangan Brian Tidak cukup sampai di situ membawa masyarakat untuk beralih ke perusahaan kedua. Hari itu beberapa oknum yang bersekongkol dengan perusahaan pertama tampak tidak terima dengan masyarakat yang menarik tanah mereka dan mengalihkannya pada perusahaan kedua.
Sampai terjadilah perang antara pembela perusahaan yang satu dan perusahaan yang kedua. Brian yang berusaha menengahi perkelahian itu tampak kesulitan. Para masa masing-masing membawa senjata tajam. Sedangkan Brian tidak sekalipun fikirannya membawa barang berbahaya seperti itu.
“Sekarang nyawamu ada di tanganku, jangan kau fikir aku takut untuk melenyapkan nyawamu.” ucap Burhan yang mengancam pria tua itu dengan parang yang sudah terarah ke lehernya.
“Burhan apa yang kau lakukan?” teriak Brian yang berlari ke arahnya dan mendorong benda tajam itu menjauh dari leher pria itu.
Pria itu adalah orang yang menyuruh putranya untuk memukul Brian beberapa saat yang lalu. Tatapannya begitu marah ketika melihat Brian menghampirinya, tidak rasa terimakasih sedikitpun ia lontarkan pada Brian karena sudah menolongnya. Jelas terlihat nafasnya yang begitu memburu karena ketakutan mendengar ancaman Burhan.
Burhan adalah salah satu sahabat Brian yang terkenal kejamnya jika berkelahi dengan orang. Sementara Brian yang tidak menghiraukan tatapan pria itu padanya kini meraih tangannya untuk membantu berdiri menjauh dari Burhan.
“Cuih, kau tidak perlu membantuku munafik.” ucap pria tua itu yang berusaha melepaskan tangan Brian di bahunya.