
Setelah pengumuman kelulusan hari itu, Bella yang telah pergi dari rumah mulai gelisah.
"Bella, bagaimana apakah ayahmu setuju untuk menandatangani surat peringanan untuk anakku?" tanya Ibu Beren melalui telfon.
"Saya belum tahu, Bu. karena yang Ayah saya katakan dia akan setuju menikahkan kami asal saya mau pulang." terang Bella dengan air mata yang kembali menetes.
"Itu tidak perlu, yang perlu saat ini adalah surat keringanan itu. Kamu harus membuat ayahmu mau menandatangani surat itu yah?" ucal Ibu Beren dan Bella yang merasa berat hati akhirnya setuju.
"Apa benar surat itu akan meringankan bahkan bisa membebaskan Beren dari tuntutan Ayah? tapi kalau tidak bagaimana? semua pasti akan jadi salahku. Dan yang aku dengar kemungkinan kalau Ayah setuju menikahkan kami, tuntutan itu tentu tidak akan di lanjutkan. Tapi Ibunya Beren meminta hal itu." gumam Bella merasa serba salah.
Wajah Bella tampak semakin kurus dan pucat, beruntung saja masa kehamilannya saat ini sudah tidak mengalami mual yang berlebihan.
"Sebaiknya aku mengaktifkan ponselku saja untuk menunggu kabar dari Ayah dan mengatakan apa yang Ibu Beren katakan barusan." ucap Bella seraya menyalakan ponselnya.
Belum beberapa lama ponsel itu menyala, kini sudah terlihat begitu banyak pesan yang teman-teman Bella kirim padanya.
Pertanyaan yang semua hampir terdengar sama, yaitu menanyakan keberadaan dan keadaan Bella saat ini.
Tak lama kemudian ada nomor baru yang menghubungi Bella, "Siapa yah nomor ini? apa Ayah atau siapa yah?" Bella begitu ragu untuk mengangkat telfon itu.
"Ha-lo." ucal Bella gugup.
"Bella bagaimana kabarmu, sayang? ini Bu Umi, kami mengkhawatirkan kamu Bella apalagi Ayahmu."
Bu Umi adalah wali kelas Bella saat ini yang telah membantu Ayah Bella untuk menghubungi anaknya.
"Bu Umi, Bella baik-baik saja, Bu." jawab Bella tak menyangka jika ia akan di hubungi oleh wali kelasnya.
"Bella pulanglah, Nak. Ibu akan menjemputmu yah. Kasihan Ayah Bella jantungnya terus kambuh karena khawatir sayang." tutur Bu Umi dengan penuh cemasnya.
"Bu Umi, Bella tidak bisa pulang sebelum dapat surat peringanan dari Ayah. Kasihan Beren Bu kalau dia harus di penjara sampai bertahun-tahun. Bella juga salah Bu, bukan hanya Beren." protes Bella.
"Jadi Bella menolak untuk di nikahkan dan memilih untuk meminta surat itu pada Ayah Bella?" tanya Bu Umi sedikit terkejut karena pembicaraan antara dirinya dan Ayah Bella terkahir adalah Bella meminta untuk di nikahkan.
"Iya, Bu. Dengan begitu Beren bisa terbebas dari tuntutan Ayah." jawab Bella dengan polosnya.
Tanpa ia tahu jika apa pun yang ia lakukan tidak akan bisa merubah tuntutan itu karena Bella masih berada di bawah umur. Sesuai dengan peraturan jika usia yang masih di bawah umur adalah termasuk perlindungan anak yang di ancam pidana paling lama lima belas tahun penjara.
"Baiklah Bella, Ibu akan bicarakan pada Ayah Bella segera yah? tapi kalau Ayah Bella setuju, Bella mau pulangyah, Nak." tutur Bu Umi.
Bella pun menyetujuinya, dan panggilan telfon pun segera terputus. "Apa benar yang aku lakukan saat ini? bukankah tujuan kami sebenarnya untuk menikah?" gumam Bella dengan memejamkan matanya.
Di rumah Brian tampak Bu Umi yang baru saja tiba.
"Silahkan masuk, Bu." ucap Brian dengan ramahnya.
"Pak Brian, barusan saya komunikasi dengan Bella." ucap Bu Umi.
Dan Bu Umi segera menjelaskan apa percakapannya dengan Bella tadi. Brian cukup terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya ini.
"Saya sayang dengan anak saya, Bu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya, Bu. Saya tahu pria itu bukan pria baik-baik. Tapi karena kekhawatiran saya selama Bella pergi, saya sampai mau menyetujui untuk mengikuti permintaan Bella menikahkan mereka. Dan sekarang apa yang di mau Bella surat itu? ini pasti permintaan dari keluarga si pria itu, Bu. saya yakin anak saya sudah di desak oleh mereka." ucap Brian menduga apa yang terjadi pada Bella hingga ia pergi dari rumah pasti karena keluarga mereka.
"Pak Brian saya turut sedih akan hal ini. Tapi sebaiknya Bapak segera fikirkan permintaan Bella dan lebih cepat akan lebih baik, Pak. Biarkan saya akan membantu Bapak." turue Bu Umi dengan penuh dukungan.
Hari itu Bu Umi segera pulang setelah banyak berbicara dengan Ayah Bella. Brian yang seorang diri di kamar mendengar mobil yang terparkir di depan rumahnya.
Ia segera keluar dengan satu asisten rumah tangganya. "Kirana." ucapnya ketika melihat istrinya yang baru saja tiba.
Kirana segera menghampiri sang suami dengan wajah cemas dan bercampur sedih. Matanya terlihat berkilau menahan tangis yang ingin turun membasahi pipinya.
"Apa Bella sudah ada kabarnya?" tanyanya langsung tanpa basa basi.
"Ada." jawab Brian singkat.
Karena ia sendiri berat menceritakan apa yang baru saja Bella minta padanya. Kini mereka masuk ke kamar, Brian lalu menceritakan semua pada istrinya. Begitu terkejut Kirana mendengar hal itu.
Pantas saja saat ia menuju ke rumah Beren, ia tidak menemukan Bella di sana. Ternyata Bella berada di tempat yang berbeda dan pihak keluarga Beren tidak memberitahukannya.
"Jadi bagaimana? apakah surat itu-" (tanya Kirana dengan penasaran).
"Aku akan menanyakan dulu pada teman dekatku yang berprofesi sebagai jaksa untuk meminta masukan darinya." ucap Brian segera menghubungi orang itu.
Kirana pun setuju dengan suaminya kali ini. Berhubung temannya itu sedang ada kesibukan akhirnya Brian hanya bertanya melalui telfon saja.
Setelah beberapa menit panggilan berlangsung kini Brian bisa bernafas lega. Karena surat itu tentunya tidak akan berlaku apa pun dalam pengaruh tuntutannya. Dan dengan senang hati Brian akan menandatangani surat itu nanti setelah kepulangan Bella dari tempat persembunyiannya.
Hukum tetaplah hukum, tidak akan bisa di ringankan oleh hal apa pun karena sudah memiliki aturan. Dengan penjara minimal adalah lima tahun.
Setidaknya dengan waktu yang cukup lama Brian yakin jika Bella akan merasakan semua sifat buruk Beren yang sebenarnya.