
Tanpa terasa waktu sudah semakin gelap, kini masa introgasi Bella pun telah berakhir. Tubuh lemas dan pucat terlihat jelas pada Bella. Semua merasa prihatin padanya, namun Brian yang sama sekali tidak mau menatap wajah anaknya masih terdiam tanpa kata.
Bella yang beranjak pergi meninggalkan kantor polisi merasa berat meninggalkan Beren di sana. Malam yang begitu menyakitkan bagi Bella. Meskipun Beren sering kali menyakitinya tapi Bella tak pernah lupa Beren yang selalu ada tiap kali ia merasa tak ada yang melindunginya dan memperhatikannya.
"Sudah jangan menangis terus, kau bisa sakit jika seperti ini." tutur Kirana sembari merangkul tubuh Bella di mobil selama perjalanan pulang ke rumah.
Malam itu Bella tidur di temani dengan Kirana di kamar. Air mata masih terus berjatuhan di wajahnya tanpa henti. Sampai ia terlelap dalam pelukan Ibunya wajah Beren masih terus terbayang di wajahnya.
Bella sangat takut jika Beren akan di siksa di kantor polisi, namun fikiran Bella masih terus berusaha positif. Ia yakin Beren akan baik-baik saja di sana. Malam yang panjang beberapa kali membuat Bella kembali terbangun. Ia terus berharap pagi akan segera tiba agar masalahnya kali ini bisa terselesaikan dengan baik.
Waktu yang berlalu tanpa terasa kini membuat Kirana segera membangunkan Bella, karena pagi itu mereka akan kembali pergi ke kantor polisi. Brian yang sudah bersiap dengan rapi hanya duduk di ruang tamu menunggu Bella dan Kirana bersiap. Tubuh lemas Bella merasa bergemetar, ia merasa jika hari ini akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya.
Setelah usai bersiap kini Bella dan Kirana ikut bersama Brian untuk melanjutkan kasus yang tertunda. Selama bertemu dengan Bella, Brian masih tak ada bicara apa pun. Rasa kecewanya sungguh membuatnya benar-benar terpukul saat ini.
Brian yang terus fokus mengemudikan mobilnya tanpa terasa kini sampai di kantor polisi. Bella turun bersama Kirana dan Brian menuju ruangan yang sudah tampak beberapa polisi di sana duduk.
Brian yang berbicara dengan mereka membuat Bella penasaran untuk bertemu dengan keluarga Beren. Ia ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan kekasihnya itu. Mata Bella tertuju pada Ibu Beren yang duduk tidak jauh darinya. Lalu ia menatap kembali pada Ayahnya yang sibuk berbicara dengan beberapa polisi.
"Bella, kau mau kemana?" Kirana yang bertanya sambil berusaha menahan pergelangan tangan Bella.
"Bu, lepaskan Bella. Bella ingin tahu keadaan Beren." bantah Bella yang terus memutar tangannya hingga Kirana yang tak kuasa benar-benar melepaskan genggaman tangannya.
"Beren, Beren bagaimana, Bu?" tanya Bella dengan cepatnya karena Kirana sudah melangkah mendekatinya.
Bella yang mendengarnya seketika terdiam mematung ia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan barusan.
"Tidak, Beren tidak mungkin di penjara. Ini tidak benar, ini bohong kan Bu?" Suara tangis Bella semakin pecah hingga ia berlari cepat melewati Kirana menerobos ke sebuah tempat tahanan.
"Anda mau mengunjungi siapa?" tanya seorang polisi yang berjaga di sana.
"Beren, saya mau jenguk Beren." ucap Bella.
Belum sempat Bella bertemu, Kirana sudah kembali menarik cepat tangan Bella keluar. Kini Brian sudah terlihat datang mendekat pada Bella.
"Bella, diamlah jangan membuat ayahmu semakin marah." tutur Kirana.
Bella hanya terdiam dan duduk di kursi menunggu Brian menyelesaikan urusannya. Tak lama kemudian Tian pun datang. Polisi yang sempat di jodohkan dengan Bella. Kirana berbicara dengan Tian, Bella yang melihat kehadiran pria yang ia anggap sebagai Kakak segera meraih tangannya.
"Bang, Bella mohon liatkan Beren di dalam. Jangan sampai dia terluka." tutur Bella yang membaut Tian meraih tangan Bella.
"Iya sudah kau tenanglah, Abang jagain dia nanti." ucap Tian.
Bella yang mendengar jawaban dari Tian merasa legah yang luar biasa. Setidaknya Beren ada yang menjaga jika ada yang ingin memukul Beren di dalam.