
Malam hari saat Bella akan pergi keluar ia terlihat duduk di loby penginapan milik ayahnya itu. Penampilannya sama sekali tidak berbeda dari biasanya.
Memakai rok di bawah lutut dengan baju kaos yang terlihat mengikuti lekuk tubuhnya dan juga heels yang tidak begitu tinggi.
Bella sedang menunggu kekasihnya datang, untuk menjemputnya. Mereka berniat ingin makan di luar malam itu.
Sayang, sebelum Bella di jemput ada dua wanita yang datang menemuinya. Wanita itu adalah istri dari orang kepercayaan ayahnya.
“Bella, bagaimana kabarmu?” tanya wanita itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Bella bisa melihat senyuma yang penuh makna di dalam sana.
“Baik, Kak. Ada apa kemari? Tumben sekali.” sahut Bella dengan wajah datarnya.
Meskipun sebenarnya dirinya sunggu menduga jika datangnya manusia penjilat itu tidak lain untuk mencampuri urusannya. Karena wanita itu pasti sudah mengetahui tentang kehamilan Bella dari wanita yang di kenal oleh Beren.
“Oh iya kamu mau lanjut kuliah dimana rencananya?” tanya wanita itu pada Bella.
“Belum tau, Kak. Ayah belum kasih keputusan soal itu.” jawab Bella.
Sesekali mata wanita itu melirik ke arah perut Bella. Tatapannya sunggu penuh ejekan, ingin sekali Bella melempar wajahnya itu. Namun apa daya keberadaan wanita itu jauh lebih berarti bagi Brian dari pada keberadaan Bella.
Wanita itu tidak sepantasnya ikut campur masalah orang. Bella sudah cukup kenal siapa dia, hanya seorang wanita simpanan yang numpang hidup di rumah Ayah Bella bersama pria kepercayaan ayahnya Bella.
Tak jarang Kirana bertengkar dengan Brian karena kedua pasangan yang tidak terikat pernikahan itu. Kirana marah karena rumah mereka di tempati oleh wanita itu dan suaminya.
Sementara suaminya itu memiliki istri dan tiga anak yang tidak ia perdulikan nasibnya.
Setelah obrolan singkat itu akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Bella dengan sejuta kejutan.
Bella yang yakin jika mereka sudah pergi segera menghubungi Beren untuk menjemputnya.
Tak lama kemudian Beren pun tiba, segera mereka berjalan menaiki motor.
“Sepertinya kita tidak punya jalan lagi.” tutur Bella di perjalanan dengan air mata yang sudah menetes.
Sejak tadi ia tidak bercerita apa saja yang membuat dirinya ketakutan.
“Maksud kamu apa, Bella?” tanya Beren cemas.
Beren yang seketika merasa lemas tubuhnya segera menghentikan motor tepat di depan warung makan yang kebetulan mereka lewati.
Keduanya masuk ke dalam warung makan, di dalam sana Bella terus bercerita sembari mengeluh semua yang ia takutkan. Bella dan Beren sama-sama bingung saat ini mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Terlihat Beren yang menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan kasar.
“Yasudah besok sepulang aku mancing, kita ke rumah biar aku bicara dengan orangtuaku dulu dan segera ke rumahmu yah.” tutur Beren yang membuat Bella terkejut.
“Apa katamu? Ke rumahku?” terang Bella mengulangi perkataan Beren.
“Iya aku akan meminta orangtuaku menemaniku ke rumahmu.” jawab Beren dengan yakin.
Bella yang sebenarnya sudah tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Beren mau tidak mau menyetujuinya. Biar bagaimana pun dirinya tentu masih sangat menyayangi Beren.
“Ayo makanlah! Kasihan anak kita dia pasti kelaparan.” bujuk Beren pada Bella yang segera di turuti oleh wanita itu.
Bella tampak makan dengan lahap, ia baru saja merasakan begitu enak makan karena sepertinya mereka akan segera mengakhiri jalan buntu ini dengan jalan yang baru.
Bella dan Beren berharap akan di setujui dan di beri izin menikah. Sekali pun keduanya akan melewati pukulan dari Brian terlebih dulu setidaknya Bella tetap bersama Beren.
“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.” ucap Bella di tengah-tengah makannya.
Beren yang menggenggam tangan Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Aku berjanji.” ucap Beren.
Setelah makan selesai, Beren mengajak Bella berjalan keliling dan mencari makanan apa yang Bella ingin makan.
Malam itu mereka menghabiskan malam dengan jalan-jalan seperti biasanya yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Sampai malam yang semakin gelap, Beren pun mengantarkan Bella pulanh dan ia segera pulang ke rumahnya. Keduanya berjanjian akan bertemu besok setelah Beren pulang memancing dengan teman-temannya di sebuah pulau.
Bella merasa berat hati ingin melarang, namun ia tidak tega jika Beren harus terus-terusan bersedih memikirkan hubungan mereka itu.
Sampai keesokan harinya pun tiba, Bella yang berat hati akhirnya mengijinkan Beren untuk pergi meskipun cuaca terlihat sangat gelap.
“Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.” gumam Bella menatap langit yang begitu gelap.