Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Perpisahan



Hari yang begitu menegangkan bagi Bella dan Beren pun tiba, pagi itu Bella datang di jemput orangtuan Beren ke kantor polisi. Ibu Beren membawakan Bella dan Beren makanan bungkus. Mereka tahu pasti Bella belum makan sejak malam itu.


Bella yang berjalanan beriringan dengan orangtua Beren kini melangkah ke arah tempat penahanan sementara. Matanya langsung menangkap sosok Beren yang duduk bersama dua orang polisi. Bella duduk tepat di samping Beren dan memandangi wajah pria itu. Kedua mata mereka sudah tampak berkaca-kaca menahan ketakutan.


"Bella, ada apa ini?" tanya Tian.


Dia adalah seorang polisi yang masih baru di tempat itu, Bella dan Tian memiliki hubungan keluarga jauh. Sejak kecil mereka sudah di jodohkan, namun karena Bella menganggap Tian adalah kakaknya ia pun tidak begitu menanggapi tentang perjodohan itu.


Bella menangis saat Tian bertanya padanya. "Bella, katakan ada apa ini?" tanya Tian kembali hingga meraih lengan Bella.


"Aku hamil, Bang." tutur Bella dengan wajah yang menunduk tanpa berani menatap wajah pria itu.


Terlihat jelas tatapan marah dan benci Tian pada Beren. "Jadi, pria ini?" tanya Tian menunjuk Beren dengan jari telunjuknya.


Bella hanya mengangguk pelan, terlihat jelas wajah Tian yang memerah karena kulitnya yang sangat putih. Selama ini Bella tidak tahu jika Tian memiliki rasa dengannya bahkan sudah menerima perjodohan itu. Bella hanya tahu mereka sama-sama tidak menginginkan perjodohan itu.


Tian pun pergi keluar ruangan itu meninggalkan Bella yang masih tertunduk. Ia menelpon ayahnya yang juga sangat menginginkan Bella menjadi menantunya.


Entah percakapan apa di telfon itu hingga dengan cepatnya ayah Tian datang menemui Bella. Bella yang terkejut melihat kedatangannya pria itu segera berdiri kaget.


"Bell, apa yang kau lakukan? mengapa bisa jadi seperti ini? kau sungguh menghancurkan hati paman, Bella. Besar harapan paman untuk kalian berdua kau sungguh mengecewakan paman dan ayahmu. Kau benar-benar keterlaluan Bella." ucap Fajar yang sudah meneteskan air mata kecewanya pada Bella.


Sejak Bella SD ia selalu menginginkan perjodohan itu demi terus mengikat kedekatan keluarga mereka. Perjodohan yang seharusnya terjadi antara kakak wanita Fajar dan Kakak pria dari Brian yang gagal dan harus di lanjutkan oleh Bella dan Tian. Namun semua sudah musnah harapan yang begitu besar di berikan pada Bella tak lagi bisa berjalan.


Fajar tampak terdiam menatap wajah Bella ia benar-benar tidak habis fikir jika Bella bisa melakukan hal sejauh ini. Tian yang menatap Bella dengan tatapan kesalnya hanya berdiri dari kejauhan.


Merasa tidak bisa meratapi terus menerus wajah Bella dan juga pria itu kini Fajar pun keluar meninggalkan Bella dengan wajah penuh kecewanya. Begitu juga dengan Tian yang sudah berlalu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi pada Bella.


Setelah Bella makan bersama dengan Beren tiba-tiba salah satu seorang polisi memanggil Beren untuk memberikan keterangan. Bella yang hanya duduk bersama orangtua Beren menunggu kedatangan Beren namun tak kunjung tiba.


Beberapa menit kemudian, Bella di perintah dari pihak kantor untuk pergi melakukan visum di sebuah rumah sakit di temani ibu Beren. Mereka di antar dengan mobil dari polres.


Wajah khawatir Bella sungguh semakin terlihat jelas, tangannya yang terus menggenggam satu sama lain berusaha menyembunyikan kegelisahan, namun sangat sulit rasanya.


Tak lama setelah kedatangan Bella, Beren yang baru saja tiba tak sempat berbicara apa pun pada Bella karena Bella sudah mendapat panggilan selanjutnya untuk memberikan pengakuan.


Hingga Bella yang beberapa kali jatuh pingsan tak juga di hentikan proses pengintrogasiannya. Kedatangan Brian dan juga Kirana seketika membuat Bella ketakutan. Brian yang sudah ingin melayangkan pukulan pada wajah Bella seketika membuat Bella jatuh tersungkur hingga tubuhnya kembali mengejang.


Brian pun di tahan dengan beberapa polisi untuk tidak melakukan kekerasan pada Bella, Kirana yang menemani Bella menjalani masa pengintrogasian terus menangis. Ia sama sekali tidak menyangka jika kedatangannya saat ini adalah di kantor polisi. Karena yang Kirana bayangkan mereka akan bertemu secara kekeluargaan.


Brian yang tengah merasa sangat hancur harapannya beberapa kali menghempaskan kepalanya pada tembok sembari menangis histeris. Fajar sebagai satu-satunya keluarga yang berada di sana berusaha memberikan pencerahan pada Brian.


"Bertahanlah, jangan menyakiti dirimu seperti ini. Semua sudah menjadi bubur kau tidak akan bisa jika tidak menerimanya." tutur Fajar mengusap punggung Brian.


"Aku tidak terima, laki-laki itu sudah menghancurkan harapanku." batah Brian.


"Jadi bagaimana ini?" tanya Fajar lagi.


Brian tak menjawab, ia terdiam seribu bahasa. Pertimbangan yang harus ia ambil tidak bisa gegabah begitu saja. Ini semua menyangkut masa depan anaknya. Brian masih belum bisa mengambil keputusan hari itu. Smapai ia akhirnya mengerahkan seluruh anggotanya untuk mencari tahu kehidupan Beren.


Sementara Beren yang sudah masuk ke dalam sel tahanan tanpa Bella ketahui mereka sudah benar-benar tidak bisa bertemu. Perpisahan tanpa mereka ketahui itu sangat menyakitkan bagi keduanya. Tak ada yang menyangka jika hubungan mereka akan terpisah hari itu juga.


Sore itu Bella yang tengah menjalani masa introgasi dan belum juga usai tiba-tiba berlari keluar ingin menemui Beren. Namun ia melihat sudah tidak ada sosok pria yang ia cari. Air mata terus membanjiri wajahnya, rasa takutnya semakin menjadi.


Matanya tertuju pada sang ayah yang tengah duduk bersandar bersama Agus. Polisi kepercayaan ayahnya saat itu. Bella yang sadar jika hal itu berawal dari pria itu segera melangkah dengan langcangnya Bella melemparkan kakinya hingga menendang ke arah perut Agus.


"Bella, apa yang kau lakukan?" teriak Brian dengan kecangnya.


"Ayah, dia sudah menipumu. Dia tidak jujur ku mohon dengarkan aku semua tidak seburuk yang Ayah fikir." tangis Bella hingga bersujud mencium kedua kaki Brian.


Kedua orangtua Beren melihat pertunjukan itu dari kejauhan begitu juga dengan Beren yang menatap Bella dari balik jeruji besi itu.


"Maafkan aku, Bella. Aku sudah membuatmu menderita seperti ini." ucap Beren yang meneteskan air matanya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


Bella terlihat di tahan dua polisi wanita yang membantunya kembali untuk masuk ke ruang introgasi. Bella yang tidak menyangka jika masalah mereka akan berakhir di kantor polisi sungguh membuatnya tak bisa berfikir apa-apa lagi.


Kirana yang mencoba mendekati suaminya perlahan mengajaknya berbicara. "Apa tidak sebaiknya berdamai saja, anak kita sudah mengandung. Tidak mungkin jika kita membiarkan anak itu tanpa seorang ayah." tutur Kirana dengan lembut.


Brian hanya terdiam menunduk ia masih belum bisa memberikan jawaban apa pun karena bagi Brian sangat penting mengetahui bagaimana prilaku pria itu. Brian tidak ingin jika menikahkan anaknya dengan pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Meskipun ia termasuk ayah yang begitu keras tapi demi kehidupan masa depan anaknya ia tidak ingin membuat anaknya sengsara apa lagi harus berpisah di tengah pernikahan yang sudah memberikan anak.