
Suatu hari Bella tampak sedang menulis sendirian di depan rumahnya yang terdapat kursi santai, bocah kecil itu duduk sendirian tanpa di temani oleh Kirana.
Karena hari itu Kiranan tengah sibuk memuat kue di dalam rumah untuk di jual sedangkan Brian sudah jarang sekali di rumah.
Terkadang ia kembali ke rumah hanya mengecek tugas yang di berikan pada Bella dan makan setiap hari selalu pergi entah ke mana.
Pekerjaannya saat itu memang sedang tidak tetap sampai ia kadang keluar rumah tanpa mengerjakan sesuatu.
"Bella, main yuk sama kita." ajak teman-teman Bella yang baru menghampirinya.
Bella yang tampak sangat ingin pergi bermain sedang mempertimbangkan ajakan temannya namun ada rasa takut meskipun tugasnya memang sudah selesai tapi belum tentu orangtuanya mengijinkannya.
Sindi, Diana, Ranti, Dika, Ferdi adalah teman sekolah Bella mereka semua seumuran dan kebetulan tempat tinggalnya semua berdekatan.
Hanya Bella saja yang sangat jarang bergabung dengan mereka untuk bermain, tiap kali Bella ingin bermain Brian selalu mengancamnya untuk memukul.
Bella yang sudah berfikir cukup lama akhirnya pergi melangkah dengan pelan ke dalam rumah sambil memberi isyarat pada temannya untuk menutup mulut mereka.
"Sstttt." ucap Bella yang menutup mulut kecilnya dan bergegas masuk ke rumah.
Setelah Bella melihat Kirana yang tengah sibuk dengan pekerjaan dapurnya mata Bella tertuju pada adonan kue yang kelihatannya masih sangat banya.
"Kasihan Ibu." gumam Bella yang melihat Kirana bekerja keras sendirian untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Sebenarnya Bella sangat ingin membantu Kirana namun tiap kali Bella ingin membantu Kirana selalu memarahinya. Kirana termasuk wanita yang tidak begitu sabar pada anaknya jika dalam hal pekerjaan dan dia lebih memilih melakukaknnya sendiri.
Akhirnya Bella bersama teman-temannya pergi diam-diam untuk bermain sebentar meskipun dalam hati Bella sangat takut namun ada perasaan senang juga ketika bisa bermain.
Kini bocah-bocah kecil itu tengah asyik bermain petak umpet Bella yang kini sedang sibuk mencari persembunyian tidak sada jika namanya sudah berulang kali di panggil oleh Brian.
"Di mana Bella?" tanya Brian yang baru saja tiba di rumah.
Kirana yang tengah fokus membuat kue tidak mendengarnya dan tetap mengaduk-aduk adonan dengan tangannya.
"Braaaakkk" suara kursi terlempar ke lantai di tendang Brian.
"Astaga apa yang kau lakukan?" tanya Kirana yang terkejut.
"Kau tuli yah aku bertanya padamu di Bella?" tanya Brian yang sudah semakin emosi.
Pria itu memang selalu emosi dengan hal-hal sekecil apa pun itu.
"Bella ada di depan, kenapa harus marah begitu?" ucap Kirana yang kesal.
"Di depan mana? tidak ada aku sudah mencarinya sejak tadi." jelas Brian.
Brian dengan wajah kesalnya berjalan ke luar rumah untuk mencari keberadaan Bella bersama Kirana.
Setelah mereka mendengarkan suara para anak-anak yang sedang berteriak begitu riang kini Brian dan Kirana berjalan cepat menuju sumber suara.
"Bella!" bentak Brian dengan wajah yang sudah memerah.
Bella baru sadar jika ia sudah bermain melewati waktu yang ia perkirakan sejak keluar dari rumah tadi dan kini ia tersadar kesalahannya.
"Ayah." ucap Bella yang berhenti berlari dengan temannya.
Kini tubuh bocah kecil itu berdiri mematung ketakutan seluruh tubuhnya bergemetar melihat kedua orangtuanya datang dengan raut wajah yang menakutkan.
Tanpa menunggu lama Brian dengan cepatnya memukuli tubuh anaknya pertama ia melayangkan tangan ke arah wajah Bella kemudian berganti ke arah tubuh belakangnya.
Kirana yang berusaha memisahkan tersungkur setelah di dorong kasar oleh Brian.
Namun Brian yang sudah merasa sangat tidak bisa memendam emosinya terus memukuli tubuh kecil Bella, semua teman-teman Bella mendadak ketakutan berkumpul menjadi satu.
Mereka saling diam mematung dengan terus menatap Bella yang sudah menangis tanpa henti mendapat pukulan brutal dari Brian.
"Ampun Ayah...ampun." ucap Bella yang terus menangis.
Setelah merasa puas memukuli putrinya Brian beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Bawa anakmu pulang." perintah Brian pada Kirana.
Dengan cepat Kirana membopong tubuh putrinya yang sedang terduduk di tanah dengan menangis sesenggukan.
"Ayo pulang." ajak Kirana pada Bella yang baru saja membersihkan baju Bella dari kotoran tanah.
"Hiks...hiks.." suara tangis Bella sepanjang jalan menuju rumahnya terus terdengar.
Kirana yang melihat tubuh putrinya tampak bekas pukulan berwarna biru di beberapa bagian merasa kasihan dan sesampainya di rumah dengan cepat ia mengobati luka memar itu.
"Aw sakit Bu." ucap Bella mendesis kesakitan.
"Iya ini sudah pelan kok." jawab Kirana dengan terus mengolesinya menggunakan minyak.
"Lain kali jangan pergi bermain lagi, kau tidak takut yah dengan pukulan Ayahmu?" tanya Kirana yang memperingati putrinya.
"Bella sangat ingin bermain bersama teman Bu." ucap Bella dengan sedih sambil terus mengusap air mata yang tida berhenti jatuh dari tadi.
"Sudahlah jangan membantah, Ibu capek lihat Ayahmu memukulimu terus menerus." ucap Kirana dengan nada kesal.
Bella yang mendengar hanya memilih untuk diam ia enggan membantah lagi atau mengatakan keinginannya.
Semoga nanti ada waktunya kedua orangtua Bella memiliki urusan keluar rumah dan Bella bisa di ijinkan untuk bermain bersama teman-temannya.
Itu adalah salah satu imipian Bella sejak dulu dan berharap ia bisa mendapatkannya suatu hari nanti.
Sedangkan di tempat lain teman-teman Bella yang baru merasa syok dengan kejadian di hadapannya saling membicarakan Bella.
"Kasihan yah Bella." ucap Sindi.
"Iya, mengapa Ayahnya sangat galak ?" tanya Ferdi.
"Aku tidak mau jika di pukuli seperti itu lebih baik aku ajak Ibuku pergi saja dari rumah." sambung Dika.
Melihat beberapa anak kecil sedang duduk di kursi bermain depan rumah Diana, seorang wanita datang menghampiri mereka. Dia adalah Ibu dari Ranti yang datang menjemput anaknya sedangkan orang tua Diana memang sedang sibuk bekerja.
Jadi setiap siang Diana di titipkan oleh Ibu Ranti dan saat sore tiba mereka akan menjemput anaknya ke rumah.
"Ayo Ranti, Diana kita pulang makan." ajak Ibu Fina.
"Bu, tadi Bella di pukuli sama Ayahnya." Ranti mengadu pada Ibu Fina.
Ibu Fina yang mendengar terkejut dan semakin penasaran.
"Memangnya ada apa Bella kok sampai di pukuli?" tanya Ibu Fina.
"Tadi kami mengajak Bella untuk bermain karena kasihan pada Bella setiap hari terus belajar." ucap Ranti.
"Yasudah lain kali jangan ajak Bella lagi yah, kasihan dia." perintah Ibu Fina pada anak-anak kecil itu.
Kini mereka bubar ke rumah masing-masing untuk makan siang sedangkan Bella masih terus sesenggukan tanpa bisa menghentikannya.