Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Season 2 Chapter 1. Hari Wisuda



Wanita yang selalu berpenampilan dengan rambut panjangnya kini tampil sangat berbeda.


Leher putih jenjang miliknya tampak jelas ketika rambut panjang sanggul indah tertata dengan sempurna di depan cermin besar.


Bibir berwarna pink muda tampak mengembang meski hal itu tak sesuai dengan suasana hatinya saat ini.


Waktu berlalu cepat. Semua para wisudawan telah berkumpul di ruangan yang menjadi saksi kelulusan mereka dengan perjuangan yang sangat berat tentunya.


Di antara jejeran para peserta wisudawan, satu wanita tampak menunduk berusaha menahan genangan air mata yang terus ingin jatuh dari kedua pelupuk matanya.


***


Begitu pula di sisi yang berbeda.


“Aaaaa!”


“Mengapa? Mengapa harus ada perbedaan?” Seorang pria menangis terduduk di sisi tempat tidurnya.


Matanya yang menyipit karena menangis sepanjang malam terus memporak porandakan hatinya yang benar-benar sakit.


“Aku benar-benar tidak kuat, Tuhan.” lirihnya sembari bersujud dengan kedua tangan yang menangkup memohon doa pada sang kuasa.


Aldrich sangat terpuruk kala menjalani hari-hari tanpa Bella. Begitu pun sebaliknya. Bella harus berjuang menata hatinya kembali dari kepingan yang sudah di berikan oleh Aldrich.


“Maafkan aku, Bella. Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukan ini padamu. Maafkan aku yang kembali memberikan mu luka.”


Bayangan tentang tangisan wanita di layar ponsel terus teringat di benak Aldrich. Satu minggu sudah hubungan mereka usai. Namun tak ada satu pun di antara mereka yang bisa menjalani kehidupan dengan baik-baik saja tanpa adanya air mata yang menetes.


“Sampai kapan pun aku tetap mencintaimu, Aldrich. Meski luka ini sangat dalam kau berikan. Tapi aku benar-benar tidak bisa membencimu. Sesuai permohonanku, kau tidak akan melukaiku sampai aku benar-benar menyelesaikan studiku.” Bella bergumam sembari tersenyum pilu.


Di tengah-tengah acara wisuda berlangsung, pikirannya terus tertuju pada sosok pria yang dalam rencananya hari ini akan turut hadir di hari bahagianya.


Tarikan napas dalam pun Bella lakukan dengan penuh ketegaran. “Demi Mika. Demi Ayah dan Ibu aku harus kuat menjalani semuanya ke depan. Yah, aku pasti bisa.”


Setelah berjam-jam terlewati, kini usai sudah acara wisuda di salah satu kampus di pulau jawa tersebut.


“Selamat yah, Nak. Akhirnya kau berhasil melewati tahap ini dengan baik dan tepat waktu. Ayah senang dan lega saat ini.” senyuman di wajah pria yang selalu membuat hati Bella bergetar ketakutan kini untuk pertama kalinya ia menujukkan senyumannya.


“Jadilah harapan Ayah yang baik untuk kedepannnya. Dan jadilah contoh yang baik untuk adikmu kelak.” Pelukan hangat Bella rasakan dari sang Ayah.


Ia tersenyum dan membalas pelukan sang ayah. “Terimakasih, Yah.” tuturnya dengan wajah yang jelas sama sekali tidak ada semangat di sana.


“Loh...Bella. Aldrich tidak jadi datang? Atau...” pertanyaan sang Ibu pun berhasil membuat Bella menahan kuat air matanya.


Ia semakin melebarkan senyumannya san berkata, “Dia tidak datang, Ib. Kami sudah tidak melanjutkan hubungan kami lagi.”


Dan tanpa bisa menahan apa pun lagi. Air mata menetes tanpa bisa terhenti dari kedua pipi Bella. Bahkan bibirnya yang sedari tadi berusaha tersenyum tampak bergetar berusaha menahan isakan tangis yang ingin pecah saat itu juga.


“Ayah tidak akan ikut campur dalam hal ini. Ayah tahu anak Ayah sudah dewasa. Bella, Ayah dan Ibu akan mendukungmu apa pun keputusan yang kau ambil.” Mendengar dukungan untuk yang pertama kalinya tanpa ada tekanan, Bella mengangguk jauh lebih tenang.


Ketiganya tampak berpelukan. Bella berucap dalam hati.


“Mungkin memang takdir kita sampai di sini, Al. Aku mencintaimu, tapi aku jauh lebih mencintai diriku sendiri. Ada Mika yang harus aku pikirkan. Semoga kau mendapatkan wanita yang tepat dan seiman denganmu. Terimakasih karena telah memberikan aku semangat untuk terus berusaha selama ini. Kau pria yang jahat sekaligus sangat baik. Mungkin rasa ini cukup ku tanam sampai di sini saja. Selamat tinggal.”


Usai mengatakan semuanya dalam hati, Bella memutuskan untuk mengajak kedua orangtuanya pergi dari kampus menuju hotel untuk berganti pakaian. Tak lupa mereka memutuskan untuk mengabadikan moment tersebut di salah satu studio yang sudah Bella boking jauh hari.


“Hari ini Ayah sangat bahagia. Oh iya, Bella kapan waktu yang tepat untuk kembali ke Kalimantan?”


Bella menghentikan aksi makannya yang tengah lahap sekali kala mendengar pertanyaan sang Ayah.


“Ayah... untuk saat ini bolehkah Bella menetap di sini dulu? Sekaligus untuk mencari informasi kuliah lanjutan lagi.” jawabnya dengan penuh ketegaran yang berusaha ia kumpulkan.


“Apa kau ingin langsung lanjut ke s2?” tanya Ayah yang begitu kaget karena ia pikir sang anak akan memilih bekerja setelah lulus s1.


Sang Ibu tersenyum dan menggenggam tangan anaknya. Sebagai wanita yang selalu bersama anak dikala kecil, ia begitu paham apa yang di rasakan sang anak. Bukan alasan untuk melanjutkan kuliah saja, melainkan alasan sangat sulit jika harus kembali pulang dan mendapatkan banyaknya pertanyaan tentang hubungannya dengan Aldrich yang sudah tersebar luas ingin menikah dalam waktu dekat.


“Iya, Ayah. Bella ingin langsung lanjut agar cepat selesai dan mendapatkan kerja yang baik juga.” jawabnya penuh keyakinan.


“Ibu dan Ayah sangat mendukungmu, Nak. Baiklah kalau begitu, kita akan berlibur selama beberapa hari ini bertiga. Kau tidak keberatan kan?”


Bela mengangguk senang mendengarnya. Ini adalah waktu yang tepat ketika dirinya benar-benar hancur mungkin dengan pergi berlibur di temani kedua orangtuanya akan sangat membantu menguatkan dirinya kembali.


Terlebih mungkin ini jalan untuk mereka kembali dekat perlahan.


“Bella sangat setuju Ayah. Terimakasih Ayah, Ibu.”


***


Kembali pada suasana Aldrich yang tengah rapuh.


Dering ponsel miliknya membuat pria bermata sipit itu bergerak melirik benda pipih yang berasa di atas kasur.


“Al, kau tidak bekerja?” suara wanita terdengar lembut di dalam ponsel milik Aldrich.


Jelas ia melihat wajah sang anak yang sangat sembab saat itu.


Perasaan Ibu mana yang tidak hancur melihat sang anak yang frustasi seperti ini. Tak terasa air matanya pun ikut jatuh.


“Bagaimana pun kau bersikeras, semuanya tidak akan bisa bersatu, Nak. Kakek dan Nenek tidak akan setuju sampai kapan pun. Agama kalian berbeda. Cobalah kuat untuk ini, Al.”


Mendengar ucapan sang Ibu. Aldrich tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya air mata yang terus menetes.


Rasa cintanya sungguh besar untuk wanita bernama Bella. Meneruskan kehidupan tanpa wanita yang di cintainya sungguh tak pernah terbayangkan olehnya.


Perjalanan indah yang begitu jauh ia rencanakan kini sirna ketika semua keberanian untuk mengungkapkan pada sang kakek dan nenek hilang saat itu juga.