
Setelah permintaan Bella di setujui oleh Brian, kini Bella pun segera pulang. Ia di jemput oleh wali kelasnya yang bernama Bu Umi. Mereka naik motor menuju rumah Ayah Bella.
"Bu, maafkan Bella sudah merepotkan Ibu." tutur Bella merasa tidak enak karena telah menyusahkan banyak orang.
Tanpa ia sadari saat ini adalah kedua orangtuanyalah yang sangat ia susahkan dengan kepergian dan berbagai macam permintaan yang harus Ayahnya lakukan untuknya.
"Bella, Ibu tidak masalah dengan ini. Ibu senang bisa membantu Bella dan Ayah Bella menemukan jalan untuk masalah kalian. Ibu sangat khawatir Bella pergi dari rumah, Ibu juga sangat sedih mengingat Bella yang pernah memberikan Ibu kado ulangtahun jilbab. Kemarin saat Ibu mencuci jilbab itu, Ibu benar-benar teringat Bella lagi. Ibu sangat takut terjadi apa-apa dengan Bella."
Sepanjang perjalanan mereka berdua terus berbicara, Bella benar merasa bersalah saat ini, tetapi ia tidak bisa menghindari dari apa yang di tuntut oleh keluarga Beren.
"Semua sangat tidak mungkin jika aku menghindari permintaan keluarga Beren. Ini semua karena salahku dan aku harus membantu mereka." tutur Bella dalam hatinya.
Beberapa waktu telah berlalu dengan percakapan panjang, kini akhirnya mereka berdua sampai di rumah Brian. Di sana terlihat Brian dan Kirana bersama Paman Bella yang bernama Pak Fajar telah menanti kepulangan Bella.
"Bella." ucap lirih Kirana meneteskan air matanya dan segera memeluk tubuh Bella.
Begitu juga dengan adik Bella yang turut memeluk sang kakak. "Kak Bella." ucapnya seraya masuk ke dalam dekapan sang kakak yang begitu ia rindukan.
"Bu Umi, mari silahkan kita masuk." ucap Brian mempersilahkan mereka semua masuk.
Bella tampak di tuntun oleh Kirana dan juga Shinta, adik Bella. Mereka semua duduk berkumpul di ruang tamu dengan suasana tegang.
Bu Umi memulai bersuara demi membuka suasana tegang itu. Ia menceritakan pada Brian tentang kemauan Bella yang sudah di setujui oleh Brian. Dan tak lama setelahnya keluarga Beren juga turut hadir di rumah itu seperti yang sudah di atur dengan Bu Umi.
Kini suasana pun kembali semakin tegang. Brian menatap penuh marah pada keluarga Beren. "Saya sudah menduga sejak awal jika ini semua ada sangkut pautnya dengan kalian. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya sudah memberikan apa yang kalian mau. Kemarin kalian meminta untuk menikahkan mereka dan saya sudah menyetujui, namun ternyata kalian meminta hal yang berbeda lagi. Baiklah saya sudah turuti." tutur Brian dengan wajah yang penuh emosi namun berusaha tetap tenang.
Ibu Beren pun menyodorkan sebuah surat permohonan keringanan yang akan di tandatangani oleh Brian. Dengan cepat Brian menandatangani surat itu.
"Untuk keluarga Bella dan keluarga dari Beren semua sudah selesai seperti yang di sepakati. Jadi saat ini kita hanya tinggal menunggu proses persidangan saja yah, tidak ada perjanjian untuk menikahkan Bella dan juga Beren." terang Bu Umi.
Kedua keluarga pun sepakat, keluarga Beren yang menatap penuh amarah pada Bella membuat Bella tidak berani bersuara sedikit pun. Ia hanya menunduk, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka pada Bella. Terkadang begitu manis tapi terkadang tatapan mereka penuh dendam.
Bella hanya mengangguk pelan. "Terimakasih, Bu." tutur Bella dengan penuh hormat pada wali kelasnya itu.
"Yasudah kalau begitu Ibu pamit pulang duluyah." Bu Umi pun segera pulang dan berpamitan pada keluarga Bella.
"Shinta, antar Kakak ke kamar yah." pintah Kirana pada anak keduanya.
"Iya, Bu." jawab Shinta dan meraih tangan Bella.
Di kamar mereka berdua saling bercerita meski Shinta memiliki usian yang berpaut begitu jauh dari Bella itu tidak masalah bagi Bella untuk bercerita. Karena selain Shinta tidak ada lagi yang bisa menjadi tempat Bella menumpahkan isi hatinya.
Tidak pernah Bella lupakan juga untuk selalu melakukan sholat lima waktu mau pun sunnahnya. Bagi Bella meski dirinya seorang pendosa tapi sholat tetaplah tempatnya menumpahkan seluruh beban hidupnya.
"Shinta, kakak sudah punya ponsel. Tapi jangan kasih tau Ayah yah." tutur Bella.
"Iya, Kak." jawab Shinta dengan patuh.
Bella segera menghubungi Beren yang berada di dalam sel melalui pesan singkat yang ia kirim. "Surat sudah di ambil oleh keluargamu. Tapi aku tidak yakin semua berjalan seperti yang ibumu katakan." tutur Bella.
Beberapa menit pesan Bella pun di balas oleh Beren. "Apa maksudnya?"
"Ayah sudah mau menikahkan kita, dan yang aku dengan jika kita menikah kau pasti akan terbebas. Tapi jika surat itu yang kita minta itu tidak akan berlaku karena aku masih di bawah umur." terang Bella lagi.
"Sudahlah, aku tidak tahu. Biarkan semua berjalan sesuai kemauan Ibuku." jawab Beren yang nampak pasrah dengan semua langkah yang di ambil keluarganya.
Bagaimana pun rasa cintanya pada Bella, saat ini hanya keluarganya sajalah yang bisa mengurusnya. Sementara Bella tentu tidak akan bisa mengurusnya karena pengawasan ketat dari keluarganya sendiri.
"Beren, aku tidak mau jika seperti ini. Dan nanti jika semua terjadi tidak sesuai dengan keinginan orangtuamu pasti aku yang akan di salahkan lagi." tutur Bella dengan penuh kekhawatirannya.
"Tidak, tenang saja. Semua akan baik-baik saja." tutur Beren.
Akhirnya Bella pun memilih untuk beristirahat setelah semua perjalanan hidupnya beberapa hari ini benar-benar sangat mengurah hati dan pikirannya. Tubuh Bella nampak begitu sangat kurus, tulang-tulang lehernya nampak semakin menonjol di bagian dada dan tulang pipinya begitu terlihat jelas.