Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Mengadu



Melihat kemarahan Ibu Beren, Bella hanya berdiam dan meneteskan air matanya. Semua sudah terjadi apa pun yang Bella katakan tidak akan merubah pandangan buruk itu padanya. Sekali pun Beren yang menjelaskan nama Bella di keluarganya terlanjur tidak baik.


Malam itu ketika orangtua Beren bingung harus melakukan apa akhirnya ponsel Bella pun berdering. Kirana yang sedang berusaha menghubungi Bella merasa tidak percaya dengan kabar kehamilan anaknya itu. Tidak henti-hentinya ia terus menangis ingatannya kembali terlintas ucapan Brian yang menyalahkan dirinya karena tidak becus mendidik anak.


Apa yang bisa di lakukan oleh Kirana sementara jaraknya begitu jauh dari Bella, bahkan jika ada orang yang harus di salahkan satu-satunya orang adalah Brian. Selama ini hanya dia yang dekat dengan Bella mengapa sampai tidak bisa menjaga anaknya.


Kirana tentu tahu apa yang membuat Brian tidak bisa memperhatikan anaknya, karena selama mereka tinggal di satu Kota, Brian selalu sibuk degan dunianya sendiri. Hingga ia lupa mengawasi anaknya yang sejak dulu selalu ia kekang.


"Bella." Suara Kirana dari seberang telfon pun terdengar bermegetar.


Dengan ragu Bella menjawabnya. "Iya, Bu." jawab Bella berusaha menguatkan dirinya. Tentu ia sangat tahu apa tujuan Ibunya menelfon malam itu.


"Apa yang ada di dalam fikiranmu, Bella? mengapa kau bisa seperti itu? bagaimana sekarang apa yang bisa kau lakukan dengan perlakuanmu yang sudah melewati batas itu? apa kau tidak malu?" tutur Kirana yang terus menghujani pertanyaan demi pertanyaan pada putrinya. Bella yang mendengar hanya menunduk menangis.


Tanpa Kirana sadarkan Bella sudah jauh lebih dulu menyesal, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi tidak ada yang bisa Bella lakukan untuke menghentikan ini semua. Bella terus menangis sampai ia tidak sanggup lagi mengatakan apa pun pada Ibunya.


"Bella, dengar Ibu." pekik Kirana yang sudah emosi.


Bella masih tidak bergeming, bahkan Brian yang saat itu berada di samping Kirana hanya terdiam memegangi keningnya. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi pada Bella. Kekecewaannya dan penyesalannya sungguh membuat dirinya benar-benar tidak bisa menyalahkan siapa pun saat ini.


Entah apakah Brian menyadari jika semua yang terjadi pada anaknya adalah karma dari perlakuannya selama ini pada Kirana atau ada hal lain.


"Dimana pria itu?" tanya Kirana pada Bella yang memberanikan diri.


"Ada di sini, Bu. Bella sedang di rumahnya bersama orangtuanya." jawab Bella pelan di ikuti dengan isak tangis yang belum bisa terhenti.


"Berikan ponselmu pada orangtuanya, Ibu ingin bicara." ucap Kirana.


Bella pun memberikan ponsel miliknya pada Ibu Beren, mereka terdengar berbicara dengan sama-sama tidak menyangka. Sementara Kirana yang meminta Ibu Beren menahan Beren di ikuti oleh Ibunya Beren. Kirana hanya takut jika Beren dan Bella akan melarikan diri malam itu juga.


"Iya, Bu. Anak-anak ada di sini saya menjaga mereka saat ini tidak mungkin ada yang pergi." terang Ibu Beren yang meyakinkan Kirana.


Setelah telfon itu berakhir akhirnya semua yang ada di rumah Beren terdiam tampak berfikir apa yang terjadi esok hari. Karena yang Ibunya Beren katakan jika besok pagi orangtua Bella akan segera datang.


Perlahan Bella menempelkan benda kecil itu di telinganya. Matanya terpejam seakan mempersiapkan diri untuk mendengar cacian kasar dari mulut sang ayah.


"Di mana laki-laki itu?" Suara Brian yang jauh dari perkiraan Bella saat itu.


"Apa? Ayah tidak mebentak atau memaki diriku?" gumam Bella yang begitu terkejutnya.


"Dia di-sini, di rumahnya Ayah." jawab Bella sangat gugup.


Brian yang mendengar ucapan Bella segera mengakhiri telfon itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Beren menatapnya seakan bertanya apa yang barusan Bella bicarakan pada Ayahnya.


"Tidak, Ayah hanya menanyakan keberadaanmu saja." jawab Bella.


"Beren, sebaiknya kau antar Bella pulang. Ini sudah malam, besok pagi kita akan bersiap bertemu dengan orangtua Bella semoga saja kau tidak akan di apa-apakan." ucap Ibunya Beren dengan wajah sembabnya menatap Bella dan Beren bergantian.


Bella yang mendengar ucapan Ibunya Beren pun segera beranjak pamit untuk pulang. Beren yang berdiri mengikuti tubuh Bella segera keluar dari rumah. Namun sayang, sebelum mereka sempat naik ke motor tiba-tiba dua orang polisi yang sudah menemui Bella dan Beren saat di penginapan tadi kembali datang.


"Mau kemana kalian?" tanya Agus seorang yang sudah melaporkan pada orangtua Bella dengan lancangnya.


Bella yang begitu marah dengan pria di hadapannya itu ingin sekali melempar salivahnya ke wajah pria itu. Tetapi Bella berusaha memendam kemarahannya saat ini.


"Aku ingin pulang dan Beren akan mengantarkanku." jawab Bella dengan nada emosinya.


"Kau jangan berani-berani kabur yah!" pekik Agus yang melontarkan ucapan itu pada Beren.


"Heh, siapa yang bilang dia mau kabur? dari tadi kami sama-sama terus. Apa kau yang mengatakan Beren ingin kabur pada orangtuaku?" tanya Bella yang tidak di jawab apa pun oleh Agus.


Sementara Beren yang berusaha menahan amarah Bella saat ini menarik tangan Bella. "Sudah ayo ku antar pulang, tidak ada gunanya berdebat dengannya." bisik Beren yang malas berhadapan dengan pria yang suka cari muka di depan orangtua Bella itu.


Di perjalanan perasaan Bella begitu tidak enak, ia merasa ada yang tidak beres di belakangnya saat ini. Sebab itulah orangtua Bella berkali-kali memastikan keberadaan Bella dan Beren. Dari ucapan orangtua Bella di telfon dan juga ucapan Agus saat bersama Bella, ia bisa menebak jika polisi itu sudah mengadu yang tidak-tidak pada Ayahnya tentang Beren.