Dad, Please Hug Me

Dad, Please Hug Me
Hari Libur Bella Pulang



Sejak putusnya hubungan Bella dan Wely beberapa waktu, Bella pun mendapat informasi dari salah satu temannya di luar sekolah.


“Jadi wanita ini adalah mantannya Wely? Dan wanita itu juga pernah dekat dengan Ayahku?” seru Bella tak percaya mendengar ucapan temannya.


Teman Bella pun mengiyakan kebenaran itu pada Bella. Ia tidak ingin menutup-nutupi apa pun tentang informasi yang ia ketahui pada Bella.


Lagi-lagi Bella merasakan sakit karena ulah Brian, dan sekarang ia harus bagaimana? Bella benar-benar bingung.


Di sekolah pun Bella sudah tidak bisa fokus dengan pelajarannya karena semua paksaan dari Brian. Bella yang terpaksa masuk jurusan IPA pun merasa frustasi.


***


Hari libur Bella pun tiba, ia kini pergi mengunjungi Ibunya dan adiknya. Sudah lama mereka tidak bertemu dan saat ini adalah waktu bagi Bella untuk membicarakan semua pada sang Ibu.


Perjalanan setengah hari lamanya ia tempuh dengan rasa yang begitu bercampur aduk. Bella terus memikirkan Ayahnya dan nasibnya kedepan.


“Apa yan harus ku lakukan? Aku benar-benar tidak mampu meneruskan sekolahku lagi. Semua pelajaran sangat sulit ku pahami. Andai aku masuk jurusan tata busana pasti saat ini aku bisa melanjutkan sekolahku dengan sangat senang.” gumam Bella yang terus berusaha menutup kedua matanya di perjalanan.


Namun sayang, meskipun kedua matanya tertutup fikirannya masih saja terus berjalan kesana kemari.


“Huuuh... Ayah selalu saja memaksa ku ini itu. Apa dia tidak pernah ingin tahu apa yang aku sukai?”


“Bella, sudahlah apa yang kau fikirkan? Itu semua hanya mimpi. Dengar kata Ayahmu, tidak ada yang tidak bisa di lakukan jika itu di usahakan. Tapi... aku kan tidak menyukainya bagaimana aku bisa belajar menyukai sekolahku ini? Kuliah... ah aku sangat bingung harus kuliah apa setelah ini.”


Bella masih saja bertengkar dengan fikirannya hingga tanpa terasa ia pun tiba di rumah ibunya.


“Kakak.” seru adik Bella yang menyambut bahagia kedatangan Kakaknya.


“Hey, Sinta...” ucap Bella memeluk adiknya dengan begitu eratnya.


Setelah puas berpelukan dengan sang adik, Bella pun mendekat pada Ibunya. Matanya terkejut melihat beberapa tanda memar di lengan kiri dan tulang pipi ibunya.


“Ibu, apa yang terjadi?” tanya Bella khawatir.


Kirana yang tidak bisa lagi berbicara hanya meneteskan air matanya. Dan segera mereka berpelukan. Hari itu Brian sedang tidak di rumah.


Beberapa hari yang lalu ia sudah pergi kembali ke Kota. Kirana yang sudah bercerita pada Bella tentang Brian yang ketahuan memiliki banyak wanita di ponselnya, hingga Kirana dan Brian melakukan perkelahian yang sangat hebat.


Kirana menunjukkan beberapa luka lainnya di kaki yang tertutupi dengan dressnya.


Kirana yang mendengar ucapan putrinya menangis menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak menginginkan perceraian itu terjadi.


“Ini semua Ibu lakukan demi kau dan adikmu, Bella. Ibu tidak ingin kalian hidup tanpa seorang Ayah.” tutur Kirana.


Bella enggan menerima alasana ibunya. “Bu, Bella lebih bersyukur jika tumbuh dewasa tanpa Ayah. Bella tidak ingin selalu merasa ketakutan dengan pria itu.” sahut Bella.


Kirana masih tetap bersih keras untuk mempertahankan keputusannya. Bagi Kirana pernikahan bukanlah satu-satunya yang mudah untuk di pisahkan. Ia sangat tidak ingin menikah dua kali dalam hidupnya.


Apa pun yang terjadi ia akan terus mempertahankan pernikahan hingga tetes darah penghabisan sekali pun.


Bella yang kesal dengan kegigihan ibunya hanya menghela nafasnya kasar lalu mengajak adiknya masuk ke kamar. Sejenak ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa. Sungguh perjalanannya dari kecil sangatlah tak mudah.


“Sebentar lagi aku akan menginjak kelas tiga SMA, setelah itu aku harus kuliah mengikuti keinginan pria itu. Lalu aku harus mengambil jurusan apa?” gumam Bella yang begitu kebingungan.


Kini pandangannya untuk memiliki cita-cita telah sirna, bagi Bella cita-cita untuknya sudah ia kubur dalam-dalam.


Semua bukan tanpa alasan, tentu perjalanannya harus berdasarkan kemauan sang ayah.


“Aku ingin menikah saja.” tutur Bella yang tanpa sengaja terlontar kan dari mulutnya.


Ia sendiri terkejut dengan ucapannya barusan. “Astaga, apa-apaan aku ini? Tapi sepertinya itu benar. Kalau aku menikah mungkin Ayah tidak akan mengurusi atau memaksa ku lagi.” lanjutnya tersenyum kecil.


Senyuman itu kembali sirna ketika Bella mengingat wajah Brian, tentu tidak mudah bagi Bella jika akan menikah. Brian bukanlah orangtua yang dengan mudahnya mengijinkan anaknya menikah.


Pendidikan adalah hal yang paling utama di kehidupan Brian, dan sudah jelas jika Bella tidak akan di ijinkan menikah muda.


Masa liburan Bella terus ia gunakan untuk memikirkan Ayahnya yang sudah bebas kesana kemari dengan wanita-wanita malamnya.


Bella segera menghubungi temannya untuk mengawasi gerakan ayahnya di sana. Beberapa kali Bella terus melaporkan pada ibunya jika ayahnya terus membawa wanita yang berbeda.


Kirana tidak lagi menghiraukan dan memilih menyibukkan diri berjualan. Sementara Bella benar-benar merasa jijik dengan sikap ayahnya itu. Ingin sekali rasanya Bela mencabik-cabik wajah ayahnya itu.


“Apa memang benar jika semua pria seperti itu? Lalu bagaimana dengan nasibku nanti? Apa aku tidak akan terkena karma dari ayahku? Aku sangat takut jika suamiku kelak seperti Ayah.” Bella kembali teringat dengan perkataan Wely yang begitu menyayat hatinya sampai saat ini.


Bella benar-benar terluka karena Wely satu-satunya pria yang ia rasa merubah hatinya menjadi wanita setia. Namun rasanya sungguh tidak bisa terduga jika Bella merasakan sakit yang begitu dalam dari pria itu.